2 Tahun Menunggu, Korban Dugaan Penganiayaan Tunggu Kepastian Hukum

0
153

Solok, Dekadepos.com

Dibalik dingin dan sejuknya udara di wilayah selatan Kabupaten Solok tepatnya di Jorong Air Sanam, Nagari Sungai Nanam, Kecamatan Lembah Gumanti. Ternyata terdapat nestapa yang di alami oleh 5 orang warga yang semuanya adalah perempuan dan sudah di kategorikan kedalam golongan lansia, karena usia mereka yang rata-rata diatas 50 tahun, yang merupakan korban dugaan tindak penganiayaan yang dilakukan oleh Syafri alias Piri salah seorang warga Nagari Sungai Nanam terkait sengketa lahan pada 24 April 2015 silam.

Seperti yang diutarakan oleh SM (65) kepada awak Dekadepos.com Jumat (6/10), dia merupakan salah seorang korban penganiayaan yang di lakukan oleh Syafri alias Piri, kasus tersebut berawal saat Syafri alias Piri yang mengklaim tanah Ulayat suku Caniago di jorong Air Sanam, Nagari Sungai Nanam sebagai miliknya dan melarang SM beserta keempat orang korban lainnya yang masih memiliki hubungan kekerabatan ini untuk memasuki dan mengolah tanah tersebut oleh Piri, pada hal tanah tersebut merupakan tanah pusako dari ninik mamak suku caniago yang telah turun temurun dikelola oleh keluarga SM.

Khawatir dengan sifat Syafri alias piri yang merukan mantan residivis kambuhan yang pernah beberapa kali tersangkut kasus hukum yang suka mengklaim dan menyerobot tanah masyarakat yang ada di Jorong Air Sanam,Nagari Sungai Nanam adalah sebagai Hak Miliknya, maka SM beserta keempat orang saudaranya SR, SRH, YN dan NT memutuskan untuk melakukan pengukuran tanahnya tersebut pada tanggal 24 April 2015 dengan pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Solok dengan tujuan agar di terbitkan Sertifikat sebagai bukti kepemilikan tanah yang sah. Namun pada saat petugas dari BPN melakukan pengukuran tanah, tiba-tiba Syafri alias Piri datang sambil marah-marah kepada SM dan empat saudaranya, dan terjadi lah perang mulut antara 5 orang-orang “Induak-induak” tersebut dengan Piri. Beberapa saat setelah terjadinya perang mulut tersebut, lantas Piri mencabut sebuah kayu yang dijadikan pancang dan patok sebagai batas tanah yang ada di lokasi kemudian memukul SM beserta keempat saudaranya secara membabi buta.

“ Pada saat kejadian di lokasi tersebut kami hanya perempuan saja 5 orang dan laki-laki 2 Orang yang merupakan petugas pengukuran dari BPN, Piri memukuli kami secara membabi buta, setelah puas memukuli kami lantas dia mengancam kami dengan kata-kata kasar setelah itu berlalu meniggalkan lokasi, sedangkan kami berlima dilokasi kejadian segera mencari bantuan untuk segera mendapatkan pertolongan medis atas luka-luka yang kami dapatkan.” Ungkap SM
Setelah mendapatkan pertolongan medis kemudian SM di temani oleh salah seorang familynya melaporkan tindakan kekerasan dan penganiayaan yang telah menimpa dirinya beserta keempat orang saudaranya tersebut ke Polsek Lembah Gumanti dan ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian tersebut dengan keluarnya laporan polisi Nomor : LP/96/XI/2015/Spkt-Polsek,Tanggal 24 April 2015 tentang perkara penganiayaan dengan dasar Pasal 351 KUH-Pidana tentang tindak pidana penganiayaan. Setelah itu pihak SM tetap menuggu perkembangan kasus tersebut dan pihaknya juga sudah 3 (tiga) kali menerima Surat Pemberitahuan Pengembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) dari pihak Polsek Lembah Gumanti yakni tanggal 24 November 2015 dengan No.SP2HP/96/XI/2015-Reskrim, kemudian tanggal 25 November 2015 dengan No.SP2HP/96.a/XI/2015 dan terakhir tanggal 17 Desember 2015 dengan No.SP2HP/96.b/XII/2015 yang ketiganya di tanda tangani oleh Wakapolsek Lembah Gumanti Ipda Soswardiman, Namun yang sangat mengejutkan Syafri alias Piri tidak juga ditahan oleh pihak kepolisian dan bahkan pada SP2HP yang ketiga tertanggal 17 Desember 2015 pada pointer ke 3 (tiga) di bunyikan bahwa belum dilakukan penahanan kepada Syafri alias Piri dengan alasan tidak akan melarikan diri, mengulangi tindak pidana atau menghilangkan barang bukti dan atas jaminan dari 2 (dua) orang. Kontan saja isi dari SP2HP yang ketiga tersebut membuat Pihak SM dan keempat Korban yang lainnya sangat kecewa.

“ Kami sangat Kecewa karena pihak Polsek Lembah Gumanti tidak menahan Syafri alias Piri , pada hal sudah nyata-nyata di pihak kami telah jatuh korban dan bahkan YN (60) salah seorang korban penganiayaan yang dilakukan oleh Syafri alias Piri saat ini mengalami cacat permanen, karena mata sebelah kirinya sudah tidak dapat melihat secara normal lagi pasca pemukulan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Piri tersebut, namun seakan-akan pihak kepolisian menutup mata terhadap kasus yang menimpa kami ini.” Papar SM berlinangan air mata menceritakan kronologis kejadian tersebut kepada awak media.

Tak mau berputus asa untuk terus mencari keadilan terhadap dirinya dan keempat orang saudaranya tersebut, pihak SM pada tanggal 17 September 2017 menyurati Kapolsek Lembah Gumanti yang isinya menanyakan tindak lanjut dan perkembangan kasus penganiayaan yang telah menimpa dirinya dan keempat saudaranya serta meminta keadilan dan kepastian hukum terhadap kasus yang telah menimpanya.

“ Ada apa dan Siapa Syafri alis Piri itu sebenarnya, kenapa seakan-akan dia tak tersentuh dan kebal hukum”. Tutup SM.
Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah Bagi Kapolres Solok, AKBP Reh Ngenana untuk segera menyelesaikan kasus penganiyaan yang menimpa SM dan keempat saudaranya, serta melakukan penindakan dan proses hukum terhadap Syafri alias Piri, dan yang tidak kalah pentingnya adalah menindak tegas apabila ada kelalaian dari anggotanya yang mengakibatkan “mandeknya” pengungkapan kasus penganiayaan yang terjadi di Air Sanam, Nagari Sungai Nanam tersebut. (Est)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here