Opini : Literasi Media Sosial Meredam Konflik Akar Rumput Akibat Berita “Hoax”

oleh
Syafrianto. I (Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas.) 

Oleh : Syafrianto. I

Konflik dapat terjadi di manapun, apakah konflik budaya, konflik ideologi, atau bahkan konflik antar agama. Karena sejatinya dalam diri manusia memiliki potensi konflik masing-masing. Semua ini tergantung masing-masing individu, bagaimana setiap individu mengelola stimulus yang ada, merespon dari kekuatan stimulus yang timbul oleh suatu kejadian yang dapat menyebabkan perubahan potensi konflik menjadi sebuah konflik yang membahayakan. Konflik merupakan ancaman bagi keharmonisan kehidupan sosial dalam masyarakat bahkan dapat juga menjadi ancaman bagi disintegrasi bangsa. Konsekuensi logis dari bangsa yang plural seperti Indonesia adalah tumbuh suburnya potensi konflik horizontal ditengah masyarakat, konflik pada tingkat akar rumput dalam masyarakat sangat rentan terjadi.

Perkembangan penggunaan media sosial dewasa ini turut serta dalam menumbuh suburkan potensi konflik horizontal ditingkat akar rumput atau pada tingkat masyarakat bawah, Sementara itu disatu sisi media sosial juga merupakan sumber informasi yang paling berpengaruh terhadap pola pikir masyarakat. Media sosial mampu mempengaruhi pola pikir masyarakat karena media sosial memiliki kemampuan menciptakan persepsi bahwa suatu berita yang ditampilkan lebih nyata dari realitasnya. Dalam bermedia sosial kita seharusnya mempunyai filter dengan menyeleksi setiap berita atau status yang ingin dibagikan apakah pantas ditampilkan ataupun tidak, apakah status yang kita buat atau berita yang akan kita bagikan mempunyai dampak buruk terhadap khalayak dan dapat memicu konflik horizontal pada level akar rumput.

Media sosial mempunyai kekuatan mengkonstruksi nilai-nilai dalam masyarakat contohnya melalui pemberitaan tentang ujaran kebencian dan perilaku tidak baik yang akan diterima secara beragam oleh khalayak, apabila yang melakukan ujaran kebencian adalah orang yang mempunyai pengaruh dalam masyarakat tentu ini akan dapat memicu konflik antara pihak yang pro dan kontra terhadap pernyataan tersebut, jadi kebebasan dalam bermedia sosial perlu adanya edukasi dan literasi agar kita mampu memfilter apa yang layak di publikasi atau tidak layak untuk dipublikasi karena media sosial dapat dengan cepat mengkonstrusikan masyarakat secara luas karena jangkauannya yang luas tanpa batas ruang dan waktu.

Disamping itu media sosial juga menjadi tempat tumbuh suburnya berita HOAX, tanpa kita sadari bahkan kita juga telah berpartisipasi dalam menyebarkan berita HOAX tersebut, tanpa tahu apakah berita tersebut benar atau tidak. Tidak dapat dipungkiri berita yang berseliweran di media sosial saat ini sangat banyak yang tidak edukatif, tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan juga provokasi yang dapat merusak nama baik seseorang, tanpa jelas sumber beritanya dari mana, ini tentu sangat merugikan bagi perkembangan media ke depannya karena kalau tidak dilakukan literasi dan edukasi dalam menggunakan media sosial tentu kepercayaan publik terhadap pemberitaan di media sosial akan semakin hilang dan pudar.

Peranan media sosial berpotensi menimbulkan konflik pada tingkat akar rumput karena, media sosial dapat memblow up realita secara komperehensif yang menjadi sebuah isu konflik sehingga dimensi isu menjadi lebih transparan, media sosial mampu memperbesar isu konflik terutama apabila menyangkut kepentingan publik yang luas maupun kepentingan media itu sendiri. Perilaku masyarakat dalam menggunakan media sosial kerap kali tanpa didasari oleh pengetahuan yang baik, kadangkala mudah terpancing dalam merespon sebuah berita “HOAX” sehingga akibat berita “HOAX” tersebut justru menimbulkan konflik horizontal dimasyarakat. Peran media sosial dalam kehidupan sosial bukan hanya sekedar sarana aktualisasi diri, pelepas ketegangan atau hiburan semata, tetapi isi dan informasi yang disajikan mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media sosial merupakan konsumsi harian bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media sosial akan mempengaruhi realitas subjektif khalayak. Di samping itu, tentu saja partisipasi dari masyarakat untuk bersama-sama mencegah konflik dengan menggunakan cara-cara yang beretika dan mengedepankan nuansa edukatif lebih diharapkan untuk meredam terjadinya konflik ada tongkat akar rumput.

Media sosial memiliki peran yang penting dan strategis dalam menjaga dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Media sosial bisa berimplikasi positif maupun negatif pada masyarakat. Kesadaran untuk mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi maupun kelompok dari para pelaku media sosial akan sangat berpengaruh terhadap keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara ditengah hiruk pikuk kontestasi politik nasional saat ini. Media sosial sejatinya harus mampu menjadi alat untuk menjaga integrasi bangsa dan keutuhan negara dengan memelihara wawasan kebangsaan, menghargai pluralitas, mewujudkan demokrasi yang bermartabat serta mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Kita sebagai pengguna media sosial yang bijak seyogyanya menjunjung tinggi hal-hal yang merekatkan persatuan, menghormati perbedaan, mengedepankan dialog, mendorong kreativitas, tidak memberi ruang pada hal-hal yang dapat memicu konflik horizontal dalam masyarakat, tentu hal ini dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita. Dengan bijak dalam bermedia sosial tentu kita telah turut serta dalam memerangi berita “HOAX” yang mengancam disintegrasi bangsa. Semoga kita sebagai bangsa yang bermartabat menjadi pengguna media sosial yang bijak, mari kita mulai dari diri kita sendiri, mari sama sama kita putus mata rantai berita “HOAX” demi untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia agar kita terhindar dari ancaman Disintegrasi  bangsa.

 

Syafrianto. I

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *