Bacalah! (Sastra Kita)

0
37
Dellorie Ahada Nakatama

Bacalah!

Oleh : Dellorie Ahada Nakatama

Bacalah ini tengah malam yang ganjil.Sudahkah kamu baca
Bacalah!

Bacalah sebuah puisi, sayang
Lalu bermain-mainlah di sana. Ciptakan seribu arti, ledakkan sejuta pertanyaan

Bacalah puisi tentang cinta yang sederhana. Tapi jangan menurutinya kecuali kamu siap menghadapi sakit
Cinta yang sederhana itu seperti tetes air di batu.Butuh jutaan tetes untuk menjadi lubang
Saat lubang itu terjadi dan tetesan itu hilang
Yang tertinggal hanya kekosongan. Sebuah lubang yang dalam
Sebuah lubang yang takkan pernah tertutup
Percayalah!
Semen tak berguna. Sebuah lubang tetap sebuah lubang jika ia terlihat telah tertutup. Ia tetap lubang yang tidak kelihatan

Bacalah puisi tentang hujan bulan Juni
Bulir-bulir kearifan hari menetes lembut seperti gerimis
Tapi jangan lupa. Mandilah di hujan pertama Januari, agar kamu tahu arti harapan semu
Yang di gempitakan oleh salak kembang api dan sumbang suara terompet
Jangan terlena
Hujan Januari dan suara banjir sudah seperti saudara
Adakah kau temukan gigil rumah-rumah kardus yang kedinginan

Bacalah puisi tentang kerinduan
Lalu tanyakan padamu akan jadi apa bila besar nanti.Tungku atau api
Karna kemerdekaan adalah utopia. Selama kamu masih mengaku anak turunan Adam
Entab dengan Lilit atau dengan Hawa
Percayalah pada sedikit ramalan moyangmu.Agar hatimu tak mati sengsara di tempat tanahmu berak setiap hari

Bacalah puisi dengan terus terang mengatakan padamu bahwa mencintai adalah keegoisan
Cinta menjelma aku
Karna akulah cinta. Tak perlu di pertanyakan. Kamu bisa jadi apa saja
Tapi cinta tetap aku
Jangan bertanya tuhan dimana, tuhan sedang sibuk, nak!
Kamu ingat dialog itu
Karna dalam tuhanpun hanya ada aku, apa lagi cinta

Bacalah puisi tentang firasat
Langit bermula dari pandangan berakhir di ketidaktahuan.Suatu masa kamu akan mendengar dengung lebih dari luar angkasa, beberapa orang bercocok tanam dan mulut hidup di sana
Bumi tak senyaman rahim
Dan surga begitu menggiurkan. Sepasang daging yang membungkus tulang dan nafsu akan selalu menyimpan kegelisahan
Kegelisahan tertangkap, mata yang terbuka. Manusia gelisah karna manusia tak bisa menabung nyawa
Hidup bahagia selama lamanya adalah lelucon paling garing yang di ciptakan oleh seorang yang hidupnya paling sepi dan sengsara
Apa lagi surga

Bacalah puisi tentang telaga
Berlayarlah lalu terjunlah dari atas perahu. Di air seharusnya manusia membuang bangkainya, agar di makan ikan-ikan
Tidak perlu merepotkan orang-orang
Seribu pengantar dan lima penggali kuburan.Ikan-ikan senang kamupun senang
Tak perlu memikirkan harga tanah 2×1.5x5m itu
Tak perlu cemas anak cucumu tak mampu bayar pajak dan tak perlu takut tengkorakmu di sangiran
Pajak bangkai
Jual beli kekudusan, sudah terlalu banal

Bacalah puisi tentang penantian
Camkan baik-baik! Yang di tunggu tidak pasti datang. Sudah pernah dengarkan, bahwa yang paling pasti adalah ketidakpastian
Berapa jumlah rambut kucing, berapa jumlah bintang, berapa jumlah ikan di laut, berapa jumlah daun termasuk lembar-lembar pinus di arcapada
Apel tetap terjatuh…

#mahesa

0101015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here