Ciloteh Tanpa Suara (MALAKOK KAMINTUO)

0
356

MALAKOK KAMINTUO

Oleh : Saiful Guci

“ Assalamualaikum Pak Saiful Guci, nama saya Suci Rahmawati pengemar ciloteh bapak tinggal di Bandung , dan saya mohon izin bertanya kepada bapak…. ohya, saya punya suami orang Payakumbuh. Lebaran ini mau pulang bersama dan membawa anak-anak kami dua orang perempuan… yang akan saya tanyakan apakah benar nanti saya dan anak-anak tidak masuk dalam kekeraban dalam suku ayahnya “ tulis Suci Rahmawati.

“ dalam minang yang menganut matrilinier dimana suku menurut garis ibu, karena Suci orang Bandung tentu saja tidak mempunyai suku di Payakumbuh dan begitu juga anak perempuanya. Tapi orang minang anakmu tetap dianggap “anak pisang” oleh suku suamimu atau disebut “bako” oleh anak-anakmu kepada keluarga suamimu… tetapi kamu dan anak-anakmu bisa diberi suku di minangkabau yang disebut dengan istilah “hinggok mancangkam, lompek basitumpu, adat di isi limbago dituang pada sebuah suku oleh suatu nagari. Maka seorang perempuan yang menjadi menantu orang Minang bisa saja diterima sebagai hinggok mancangkam, tabang basitumpu itu dalam suku lain, kecuali suku suaminya. Jadi kamu mempunyai suku suku lain yang berbeda dengan suamimu dan secara otomotais anakmu juga mempunyai suku di minang. Solusi ini telah berlaku sejak lama.”tulis saya

“ngak ngerti aku hinggok mancangkam, tabang basitumpu itu pak Saiful Guci “ tulis Suci Rahmawati
“artinya nanti kamu diangkat menjadi anggota salah satu suku dikampung suamimu, biasanya untuk mempermudah urusan diangkat sebagai kemenakan dari mertua lelakimu atau dengan kata lain Suci Rahmawati akan sesuku dengan ayah suamimu, umpanya saja suamimu bersuku Guci dan mertuamu (ayah dari suamimu) bersuku Koto maka kamu akan diangkat menjadi anggota dari suku Koto, jika prosesi secara adat minang telah dijalankan secara otomatis anak-anakmu telah bersuku Koto dalam budaya Minang dan ceritakan saja dengan suamimu dia pasti mengerti “ ungkap saya.

“ oo, begitu dan boleh yaa pak Saiful Guci”
“ dalam minang disebut dengan “malakok”. Malakok di minangkabau adalah proses bergabungnya seseorang dengan adat minangkabau, sehingga orang tersebut bisa disebut orang minang.

“Malakok”, ado tiga kelompok anggota masyarakat atau pendatang yang berasal dari luar adat nan salingka nagari atau dari luar Minangkabau yang dapat di lakokkan atau dimasukkan kedalam sebuah suku yang ada di nagari-nagari di Minangkabau, seperti Urang Samando, anak pisang, anak ujung ameh atau anak pusako, dan para pendatang baik sebagai pegawai atau pedagang yang tinggal dalam waktu lama di Minangkabau.” Tulis saya.

“ saya patuh untuk ikut suami yang ingin pulang kekampungnya dan kalau memang saya diterima nanti sebagai keluarga minang tentu saja saya akan mempelajari tentang adat budaya minang “ tulis Suci Rahmawati.
“ hahahaha suatu hal yang bagus “ dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, disitu air diminum”. Jika Suci Rahmawati memahami perempuan Minangkabau kamu pasti akan senang, karena Perempuan di Minangkabau sangat dihargai posisinya disebutkan perempuan “ Tulis saya.

“ Suci akan mencoba memahami sebagai istri dan bagaimana pula berperan menjadi perempuan di Minangkabau, kan boleh yaa Pak saiful Guci? “ tanya Suci Rahmawati.
“ boleh saja, tidak ada yang kan melarang dan saya sangat setuju ada orang yang bukan orang minang yang hanya akibat dari perkawinan akan mempelajari apa itu perempuan minang, dan apakah Suci Rahmawti sudah belajar bahasa minang ?”
“ sudah pak Saiful Guci, kalau mendengarkan pembicaraan Uda saya paham, tetapi mengucapkannya masih susah dialeknya “ tukas Suci Rahmawti.

“ yang perlu dipahami oleh Suci Rahmawati adalah, perempuan di Minangkabau diklasifikasikan ke dalam tiga bagian, yaitu (1) parampuan, (2) simarewan, dan (3) mambang tali awan.
Parampuan, mengacu kepada perempuan yang mempunyai budi pekerti yang baik, tawakal kepada Allah, sopan dan hormat pada sesama. Sifat ini tampak dalam ungkapan: budi tapakai taratik dengan sopan, memakai baso-basi di ereng jo gendeng, tahu kepada sumbang salah, takut kepada Allah dan Rasul, muluik manih baso katuju, pandai bagaul sama besar, hormat pada ibu bapak, begitu juga kepada orangtua Simarewan, istilah yang mengacu kepada perempuan yang tidak mempunyai pendirian, tidak mempunyai budi pekerti. Sifat ini tampak dalam ungkapan berikut: paham sebagai gatah caia, iko elok etan katuju, bak cando pimpiang di lereng, bagai baliang-baliang di puncak bukik, ka mano angin inyo kakian, bia balaki umpamo tidak, itulah bathin kutuak Allah, isi narako tujuan kasudahannyo.

Mambang tali awan, adalah perempuan yang sombong, tidak punya rasa hormat, tenggang rasa, selalu ingin kedudukannya. Sifat ini terlihat dalam ungkapan: parampuan tinggi ati, kalau mangecek samo gadang, barundiang kok nan rami, angan-angan indak ado ka nan lain, tasambia juo laki awak, dibincang-bincang bapak si upiak, atau tasabuik bapak si buyuang, sagalo labiah dari urang, baiklah tantang balanjonyo, baiak kasiah ka suami, di rumah jarang baranjak-ranjak, dilagakkan mulia tinggi pangkek, sulit nan lain manyamoi, walau suami jatuah hino, urang disangko tak baiduang, puji manjulang langik juo.

Dari yang tiga diatas mana yang kamu suka ? “ tanya saya
“ tentu saja suka menjadi Parampuanlah pak Saiful Guci, saya tidak mau menjadi Simarewan maupun Mambang tali awan “ tulis Suci Rahmawati
“ bagus , semoga kamu menjadi pasumandan yang baik”


Pulutan_ Saiful Guci

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here