“Dimana Kau Ibu, Aku Merindukan Mu…!”

0
126

PAYAKUMBUH, dekadepos.com –
Dua puluh tahun ditinggal pergi oleh ibu kandungnya, membuat remaja bernama Ikang Pangestu, warga desa Muara Saling, Kecamatan Muara Saling, Kabupaten Empat Lawang, Propinsi Sumatera Selatan, ini benar-benar dipalun rasa rindu yang sangat mendalam.

Itulah sebabnya, ketika rasa rindu itu telah menjadi dendam dan menghentak-hentak relung jiwanya, Ikang Pangestu, nekad melangkahkan kaki meninggalkan pekerjaan sebagai karyawan di salah satu swalayan di Yogyakarta untuk mencari ibu kandungnya di Kota Payakumbuh, dengan harapan dapat bertemu dengan wanita yang telah melahirkannya itu.

“ Dua puluh tahun lamanya jiwa saya dicabik-cabik oleh kegelisahan dan kerinduan, berharap dapat bertemu dengan ibu kandung yang telah meninggalkan saya ketika saya masih berumur 9 bulan. Kerinduan seorang anak itulah yang telah membuat saya nekad datang ke Kota Payakumbuh untuk mencari keberadaan ibu kandung saya, meskipun dengan kondisi keuangan seadanya, “ ujar Ikang Pangestu ketika singgah ke Balai Wartawan Luak Limopuluah, Kamis sore (24/5) meminta bantuan wartawan untuk memberitakan kisahnya yang sedang mencari ibu kandungnya di kota gelamai Payakumbuh ini.

Pemuda berkulit putih, gagah, dan taat beragama dan hanya mengenyam pendidikan sampai kelas IV di Sekolah Dasar itu mengakui bahwa, modal utama yang dapat menjadi petunjuk untuk mencari ibu kandungnya hanya selembar Surat Nikah dan selembar foto.

“ Ibu saya bernama Tuti Melinda Surya Ningsih, binti Naja Mudin, saat ini diperkirakan berusia 36-38 tahun. Menurut cerita yang saya peroleh dari paman (kakak dari pihak ayah) mengatakan bahwa, ibu saya berasal dari Kota Payakumbuh, Sumbar, beralamat di Kubu Gadang. Namun paman tidak mengetahui persis dimana ibu saya tinggal. Yang pasti, ibu saya berasal dari Kota Payakumbuh dan punya suadara tiga orang bernama Wira dan seorang lagi suadaranya laki-lakinya, tetapi paman saya tidak tahu siapa nama saudara laki-lakinya itu,” ujar Ikang membuka sejarah hidupnya.

Diakui Ikang, berbekal cerita dari pamannya itulah ia nekad datang ke Payakumbuh ditemani sahabatnya, Hendri, untuk mencari ibu kandungnya, dengan harapan Tuhan akan mempertemukan dengan wanita yang sangat dirindukannya itu.

“ Sebagai petunjuk saya membawa surat nikah ayah dan ibu saya serta foto ibu saya ketika dia masih gadis berumur 13 tahun, atau satu tahun sebelum dia menikah dengan almarhum ayah saya Bustami Effendi yang juga telah meninggal dunia ketika saya masih berumur 1,3 tahun, ” ujar Ikang.

Cerita yang saya peroleh dari paman Johan Iskandar mengatakan bahwa, nenek atau ibu dari ibu saya berasal dari Kota Payakumbuh. Nenek saya bernama Asnidar dibawa oleh suaminya Naja Mudin, asal Bugis, Makasar, merantau ke Lubuk Linggau dan tinggal di Gang Kramat Jalan Puskesmas Taba, Lubuk Lingau sekitar tahun 1989 sampai 1990.

Berapa tahun merantau di Lubuk Linggau, kakek dan nenek saya pergi mencari pekerjaan ke pulau Jawa, sedang anak yang dua orang Wira dan satu lagi lai-laki dibawa ke Jawa, sedang ibu saya, Tuti Melinda Surya Ningsih, yang saat itu masih berumur 9 tahun ditinggalkan oleh kakek dan nenek saya kepada seorang karibnya di Lubuk Linggau.

“Sejak kepergiannya ke pulau Jawa, kakek dan nenek saya tidak ada memberikan kabar berita kepada sahabatnya di Lubuk Linggau tempat ibu saya dititipkan, sehingga akhirnya setelah ibu saya berumur 14 tahun dia dijodohkan dengan anak kerabatnya itu yakni ayah saya bernama Bustami Effendi. Dari hasil perkawinan ayah dan ibu saya dikarunia seorang anak laki-laki yakni saya diberi nama Ikang Pangestu,” ujar Ikang.

Menurut Ikang, ketika dia masih berumur 9 bulan, hubungan rumah tangga ayahnya Bustami Efendi dan ibunya Tuti Melinda Surya Ningsih, mulai tidak harmonis. “ Menurut cerita paman saya, karena faktor ekonomi ayah saya sering berbuat kasar kepada ibu, sehingga akhirnya dia nekad pergi meninggalkan saya,” ulas Ikang membuka sejarah hidupnya.

Diakui Ikang, setelah ditinggal pergi ibunya, dia diasuh oleh kakek dan nenek dari pihak ayahnya. Namun, ketika dia masih berumur 1,3 tahun, sang ayah kandung Bustami Efendi meninggal dunia. Dan, tidak lama berselang, kakek dan nenek yang telah membesarkannya, juga dipanggil sang khalik.

“ Sejak kematian ayah, kakek dan nenek hingga beranjak remaja, saya diasuh oleh paman atau kakak dari ayah saya bernama Johan Iskandar dan Indra Kusuma. Ketika mulai berusia remaja hasrat untuk mencari ibu kandung mulai menggebu-gebu dalam sanubari saya,” ujar Ikang.

“Enam tahun sudah saya mencoba mencari informasi dimana gerangan keberadaan ibu. Bahkan di media sosial facebook, saya sudah mencoba mencari tahu dimana keberadaan ibu. Namun sampai detik ini tidak ada yang mengenal dan memberi tahu dimana keberadaan ibu saya,” ujar Ikang.

Minggu lalu, aku Ikang, ia nekad berhenti bekerja sebagai kariawan di sebuah swalayan di Yogyakarta dan pulang ke rumah pamannya di desa Muara Saling, Lubuk Lingau, untuk kemudian pergi ke Kota Payakumbuh mencari keberadaan ibunya Tuti Melinda Surya Ningsih.

“ Dua hari mencari ibu di Kota Payakumbuh di Kelurahan Kubu Gadang Koto Nan Ampek termasuk di kawasan Kubu Gadang, Tiakar, alamat yang pernah disebut paman saya, namun saya belum berhasil menemukan dimana ibu yang sangat saya rindukan itu kini berada,” ujar Ikang dengan bola mata yang berbinar-binar.

Atas bantuan anggota polisi dari Polsek, aku Ikang, dia diantar ke kantor Cacatan Sipil dan Kependudukan Kota Payakumbuh, untuk mencari data-data terkait indetitas ibunya. Ketika dicocokkan dengan data e KTP, ternyata memang ada nama seorang wanita namanya Tuti Melinda Surya Ningsih, namun dibelakang namanya pakai marga Lubis dan kini bermukim di Kelurahan Tanjung Ratu, Kecamatan Katibung, Lampung.

“Dari foto yang terpampang dari data e KTP, wanita bernama Tuti Melinda Surya Ningsih Lubis itu, ada kemiripan dengan foto ibu saya. Namun, bedanya nama wanita itu pakai marga Lubis dibelakang namanya,” ujar Ikang.

Menurut Ikang, ia akan mencari wanita bernama Tuti Melinda Surya Ningsih Lubis itu ke Lampung. “ Siapa tahu, wanita itu adalah ibu kandung saya yang telah 20 tahun saya carai keberadaannya dan mungkin telah kawin lagi dengan pria lain yang bermarga Lubis,” sebut Ikang.

Namun, jika wanita bernama Tuti Melinda Surya Ningsih Lubis itu bukan ibu kandungnya, dia bertekad akan kembali lagi ke Payakumbuh untuk mencari sang ibu yang sangat ia rindukan itu.
Kehabisan biaya
Perjuangan Ikang Pangestu untuk mencari ibu kandungnya memang menyisakan cerita haru bagi wartawan yang ada di Balai Wartawan Payakumbuh. Betapa tidak, ketika anak laki-laki bujang itu terpasah di Balai Wartawan, setelah sempat terkatung-katung di kawasan Koto nan Ampek, dia kebinggungan lantaran kehabisan biaya setelah dua hari berada di Payakumbuh.

“Saya kehabisan biaya, namun hasrat untuk mencari keberadan ibu kandung belum pupus dalam sanubari saya,” ujar Ikang kepada wartawan di Balai Wartawan, yang akhirnya bersimpati untuk membantu si anak malang yang sedang mencari ibu kandungnya itu.

Atas bantuan Baznas Limapuluh Kota melalui Ketua Betua Baznas, Desembri Caniago, Ikang Pangestu yang dianggap sebagai orang terlantar akhirnya diberi bantuan sebanyak Rp 500 ribu untuk biaya makan dan nimum serta ongkos untuk kembali pulang ke Lubuk Linggau.

Tak sampai disitu, ketika kisah sedih Ikang Pangestu nan rindu untuk bertemu ibu kandungnya itu dimuat disejumlah media, ada hamba Allah yang terenyuh hatinya, sehingga kemudian melalui Ketua KONI Payakumbuh, Haji Yusra Maiza, mendatangi Ikang yang menompang bermalam di sekretariat Balai Wartawan Luak Limopuluah dan memberikan bantuan sebanyak Rp 2,5 juta.

“ Kami berharap dan berdo’a, agar kamu dapat bertemu ibu kandungmu,” ujar Haji Yusra Maiza menahan haru ketika memberikan bantuan itu kepada Ikang.

Tak banyak yang dapat diucapkan oleh Ikang, ketika belas kasihan dari berbagai kalangan itu datang menghampiri dirinya. “ Terima kasih Pak, atas segala bantuan ini. Saya berharap bantuan ini menjadi amal shaleh dan mendapat imbalan disisiNya,” ujar Ikang berlinang air mata dan dibathinnya paling dalam terucap kalimat; dimana kau Ibu, anakmu merindukan mu…! (esha tegar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here