GILA… Mantan Suami Gagal Jadi Anggota DPRD, eh Istri malah Masuk BUI

0
180

Limapuluh Kota, Dekadepos.com 

Malang Benar nasib Zubaidah (44), perempuan pengedar uang palsu yang berhasil dibekuk jajaran Polres Limapuluh Kota dan Polsek Guguak, ternyata adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah Puskesmas di Muaro Tebo, Propinsi Jambi. Demi membayar hutang mantan suami yang gagal jadi Anggota DPRD. Ia rela melakukan hal “Gila”. Kepada penyidik di Mapolres Limapuluh Kota, Zubaidah, mengaku bahwa dia nekad mengedarkan uang palsu, karena terlilit utang cukup besar untuk membiayai mantan suaminya yang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di Jambi.

“Saya nekad melakukan pengedarkan uang palsu ini, karena terlilit utang,” aku Zubaidah saat disidik anggota Satreskrim Polres Limapuluh Kota. Zubaidah mengungkapkan bahwa, ketika masih berumahtangga dengan suaminya bernama Asnawi dan menetap di Muarotebo, Jambi, dia hidup harmonis dan bahagia. Namun, untuk mendukung karir suaminya Asnawi yang mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di Jambi, Zubaidah utang sana- utang sini untuk biayai nyalek sang suami hingga ratusan juta rupiah.

“ Namun, meskipun sudah menghabiskan ratusan juta uang untuk biaya nyalek, suami saya Asnawi tidak terpilih sebagai anggota dewan. Sejak kejadian rumah tangga saya tidak harmonis lagi dan kami terpaksa bercerai,” ujar Zubaidah mengisahkan.

Diakui Zubaidah, karena tidak tahan diburu-buruk si penghutang, saya pindah kabur ke Sumbar dan menetap di Bukittinggi. Dua tahun menetap di Bukittinggi, wanita itu mengaku kawin siri dengan dengan orang laki-laki yang bekerja sebagai kariawan pelaminan di kota Bukittinggi. “ Meski sudah menetap di Kota Bukittinggi, saya masih menjalankan tugas sebagai pegawai di Puskesmas Muarotebo, Jambi, walaupun tidak tiap hari menjalankan tugas,” aku Zubaidah.

Dijelaskan Zubaidah, walaupun dia sudah menetap di Bukittinggi, namun pemilik uang yang meminjamkan uang untuk biaya nyalek suaminya dulu, tetap ditagih. “ Secara tidak sengaja atas perantara teman, saya dikenalkan dengan seseorang pencetak uang palsu di Lampung. Karena memang sudah kepepet, saya menyepakati menukar uang asli sebanyak Rp 4 juta dengan uang palsu senilai Rp 10 juta, “ beber Zubaidah kepada penyidik.

Diakui Zubaidah, uang palsu itu saya jemput sendiri ke pelabuhan Merak, Lampung, setelah uang asli sebanyak Rp 4 juta saya serahkan kepada seseorang dan saya diberi uang palsu pecahan Rp 100 ribu dan pecahan Rp 50 ribu senilai Rp 10 juta. “Atas petinjuk pihak pemilik uang palsu itu, saya disarankan untuk membelanjakan uang palasu itu di kampung-kampung. Ringkas cerita maka saya pergi ke Kabupaten Limapuluh Kota dan berhasil membelanjakan uang palsu tersebut di 15 warung di daerah Mungka, Kecamatan Mungka, Limapuluh Kota,” ulas Zubaidah.

Namun, kelicikan Zubaidah tercium oleh Babinkantibmas Polsek Guguak dan berhasil menanggkapnya, meski sebelum ditangkap sempat terjadi kejar-kejaran dengan anggota Polsek tersebut.

Kapolres ABKP Haris Hadis didampingi Wakapolres, Kompol Eridal, Kasat Reskrim AKP. Chairul Amri dan KBO Ipda M. Harvi, Kabag Humas AKP Efrizul, ketika ekpose perkara di Mapolres setempat , Senin (10/7), mengatakan bahwa dari aksi jahatnya itu, Zubaidah berhasil mengumpulkan uang asli hingga jutaan rupiah. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, selain mengamankan tersangka, pihak penyidik Polres Limapuluh Kota juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti uang asli dan uang palsu. Diantarannya, uang pecahan Rp. 100.000,- yang diduga palsu sebanyak Rp. 6.800.000,- (68 lembar), uang pecahan Rp. 50.000,- sebanyak Rp 500.000,- (10 lembar), 1 (satu) unit sepeda motor roda dua merek Honda Revo warna hitam. Disampingi itu juga diamankan uang asli hasil penukaran belanja, dengan rincian, uang pecahan Rp 50.000,- sebanyak 14 (empat belas lembar), uang pecahan Rp. 20.000,- sebanyak 28 ( dua puluh delapan lembar), uang pecahan Rp 10.000,- sebanyak 51 ( ima puluh satu) lembar,  uang pecahan Rp 5.000,- ( lima ribu rupiah) sebanyak 59 ( lima puluh sembilan) lembar, uang pecahan Rp 2.000,-  sebanyak 20 (dua puluh) lembar, uang pecahan Rp 1.000 sebanyak 3 ( tiga) lembar.

“ Tersangka Zubaidah akan dituntut sesuai  Undang-undang Nomor 7 tahun 2011, junto 254 KUHP tentang peredaran uang palsu, dan terancam hukuman 15 tahun penjara,” pungkas Kapolres AKBP Haris Hadis. (Esha Tegar). 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here