Harga Jual Anjlok, Petani Bawang di Solok “Tapakiak”.

0
79

Solok, Dekadepos.com

Miris benar nasib para petani bawang merah di Kabupaten Solok, terutama petani yang berada di Kecamatan Lembang jaya, Danau Kembar dan Lembah Gumanti sebab harga jual bawang merah anjlok sampai titik terendah sehingga membuat para petani “Tapakiak” karena saat musim panen bawang seperti sejarang harga jual kepada pengumpul di bawah Rp 10.000/kg, bahkan beberapa hari belakangan ini harga jual bawang di kalangan petani terjun bebas ke level Rp 5000/kg.

Dari Pantauan dekadepos.com di beberapa pasar yang ada di Kota dan Kabupaten Solok harga jual eceran bawang berada di kisaran Rp 10.000,- sampai dengan Rp 13.000/kg nya. Seperti di utarakan oleh Sanusi, salah seorang petani bawang merah di Nagari Selayo Tanang Bukit Sileh, Kecamatan Lembang jaya kepada awak dekadepos.com pada selasa (3/10) bahwa anjloknya harga jual bawang merah ini sudah berlangsung semenjak bulan April 2017 yang lalu dan sampai saat sekarang belum ada terlihat tanda-tanda bahwa harga tersebut akan membaik, hal ini disebabkan oleh saat ini memasuki musim Panen raya Bawang merah di wilayah sentra pertanian bawang di Kabupaten Solok, namun tidak di iringi oleh peningkatan permintaan oleh konsumen serta diperparah lagi dengan banyaknya bawang merah impor yang beredar di pasaran dengan harga jual dibawah dari harga bawang merah lokal.

” Kamari bedo awak kini, indak ka ditanam bawang di ladang, awak iyo bertani mato pencarian wak nyo da. “(Sebenarnya kami serba salah, kalau tidak bertanam bawang di ladang, mata pencarian utama kami hanyal lah bertani) ungkap Sanusi dengan wajah tampak lesu seraya menarik nafas, mengisyaratkan bahwa adanya rasa kecewa yang sangat mendalam atas kondisi yang di hadapinya saat sekarang ini.

Pada saat Menteri Pertanian Amran Sulaiman datang ke daerah kami beberapa bulan yang lalu dan menetapkan  Kabupaten Solok sebagai daerah sentra pertanian bawang merah, kami para petani sangat antusias dan bersemangat untuk mengolah dan menggarap lahan pertanian yang ada untuk di tanami bawang merah, ditambah lagi  Menteri Pertanian juga menjanjikan apabila harga jual bawang merah anjlok, maka Bulog akan membeli hasil panen masyarakat tersebut dengan harga Rp.15.000/kg nya, hal ini tentu semakin membuat petani bersemangat untuk menanam bawang.

Namun apa daya, janji tinggal lah janji, saat petani mulai memasuki masa panen raya seperti saat sekarang ini dan harga jual bawang yang tidak stabil pihak Bulog malah enggan untuk membeli hasil panen bawang masyarakat sesuai dengan instruksi menteri Pertanian saat mencanangkan Kabupaten Solok sebagai sentra penghasil bawang merah beberapa bulan yang lalu, Bulog beralasan bahwa bawang merah adalah komoditas yang tidak bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama seperti halnya beras sehingga resiko penyusutan harganya pun sangat tinggi.

” Kalau Pemerintah tidak segera mengambil langkah dan upaya untuk menstabilkan harga jual bawang merah tersebut, maka akan banyak petani yang terancam gulung tikar, karena rata-rata untuk memulai berladang bawang, modal awalnya adalah dari pinjaman koperasi dan Bank dengan jaminan BPKB mobil atau motor, sertifikat tanah, bahkan ada petani yang rela menjadikan sertifikat rumahnya dijadikan agunan di bank agar mendapatkan modal untuk memulai berladang bawang.” Tutup Sanusi. (Est)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here