Jelang pemindahan Makan Tan Malaka Ke 50 Kota

0
83

Kabupaten Limapuluh Kota,

Perhatian publik terhadap pemikiran dan perjuangan pahlawan revolusi Ibrahim Tan Malaka kian meningkat. Setelah dialog rencana pemindahan jasad Tan Malaka di STAIN Kediri beberapa waktu lalu, kini pemkab Limapuluh Kota bersama YPP-PDRI, Tan Malaka Institute (TMI) dan Keselarasan Bungo Setangkai, mulai mengkaji rencana pembangunan komplek museum Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang. Bahkan, dalam waktu dekat, disamping menyusun rencana penjemputan jasad Tan Malaka dari Desa Selo Panggung, Kediri ke Pandam Gadang, Limapuluh Kota, pemkab bersama sejumlah lembaga peduli sejarah Sumatera Barat, sedang menyiapkan grand design atau market pembangunan komplek museum Tan Malaka.

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, saat jumpa pers di Masjid Jami’ komplek Museum Tan Malakabaru-baru ini memastikan, kini proses rencana pemindahan jasad Tan Malaka, sudah memasuki tahap pengurusan administrasi di Kementerian Sosial RI. “Insya Allah, prosesi pelepasan tim penjemputan, akan kita gelar secara adat di Pandam Gadang, pada 14 Januari 2017 ini berkaitan memperingati peristiwa Situjuah mata rantai PDRI,” sebut Ferizal.
Dia menyebut, penjemputan jasad didasari keinginan pihak keluarga dan ahli waris, karena Tan Malaka merupakan seorang pucuk adat dan raja pada Keselarasan Bungo Setangkai. Adapun, secara syariat Islam, pemindahan jasad Tan Malaka dibolehkan karena tiga unsur, pertama, apabila belum diselenggarakan secara syariat Islam, kedua, tidak dimakamkan di tanah milik atau kekuasaannya, ketiga, untuk mencari kebenaran diatas sengketa.
img-20170102-wa0016

Dalam prosesi tersebut, pemerintah daerah, pemnag bersama Keselarasan Bungo Setangkai dan lembaga peduli perjuangan Tan Malaka, sudah menyiapkan panitia penjemputan. Menurut rencana, selepas penggalian makam, akan dilakukan kirab yang melalui 36 daerah yang pernah menjadi basis perjuangan Tan Malaka di Pulau Jawa dan Sumatera, mulai dari Kediri hingga Limapuluh Kota. Ferizal mengajak, seluruh unsur masyarakat hingga para tokoh peduli, ikut menyukseskan prosesi tersebut. “Disamping pemindahan jasad Bapak Republik, tuntutan utama kita tetap pada satu niat: bahwa jasa dan pemikiran Tan Malaka tidak layak diikubur bersama jasadnya yang sudah mati. Kami selaku pemerintah daerah dan pengurus YPP-PDRI akan terus menuntut kompensasi, pengakuan kepahlawanan dan pembangunan bagi daerah basis perjuangan beliau, ke pemerintah pusat,” sebut Ferizal Ridwan.

Direktur TMI Sumatera Barat, Yudilfan Habib Datuk Monti, dalam menyebutkan, kepedulian pemerintah dan masyarakat atas kiprah kepahlawanan dan pemikiran Tan Malaka musti terus digelorakan sebagai upaya pelurusan sejarah. Karena saat ini, selain pengakuan Tan sebagai pahlawan nasional, Tan Malaka secara pendidikan, belum diketahui secara dalam oleh generasi bangsa. “Padahal, pengaruh pemikiran Tan Malaka, berhasil menghantarkan kemerdekaan bagi republik ini, termasuk lebih dari 19 negara dari penjajahan kolonialisme. Ini lah yang harus kita gali, kita pelajari, sebagai reverensi pengetahuan bagi pembangunan bangsa. Beliau bukan cuma pahlawan nasional, tapi seorang pahlawan internasional,” tutur Habib.

Habib mengaku prihatin, selama ini pemerintah masih terkesan acuh bahkan sengaja meredupkan kiprah sejarah Tan Malaka. Ini terbukti, belum adanya pemuatan materi pelajaran sejarah tentang kiprah dan perjalanan Tan Malaka. Baik pada materi pendidikan muatan lokal atau pun di dalam mata pelajaran sejarah.
Tahlilan Rutin di Komplek Tan Malaka.

img-20170102-wa0019
Menghangatnya perdebatan atas pemindahan jasad suhada Tan Malaka belakangan ini, menimbulkan kecintaan masyarakat terhadap salah seorang tokoh pendiri republik asal Pandam Gadang ini. Para tokoh dan masyarakat di tanah kelahiran Tan Malaka, mulai merasa memiliki sesepuh mereka yang merupakan, seorang pucuk adat di Keselarasan Bungo Setangkai.
Wali Nagari Pandam Gadang, Khairul Apit menyebutkan, belakangan ini, masyarakat tiga nagari yang menjadi basis Keselarasan Bungo Setangkai, yakni nagari Pandam Gadang, Suliki dan Kurai mulai antusias berkunjung dan bergotong royong memperbaiki komplek museum dan perpustakaan Tan Malaka yang berada di daerahnya.

“Bahkan, setiap petang Kamis malam Jum’at kita disini secara rutin mulai menggelar tahlilan di Masjid Jami’ Tan Malaka. Ini sebagai bentuk penghargaan sekaligus mengenang jasa dan mendoakan arwah pahlawan kita Ibrahim Datuk Tan Malaka yang telah gugur di medan perjuangan. Ke depan, kegiatan rutin ini akan terus kami galakkan, sebagai imbauan resmi dari pemerintahan nagari,” ujar Khairul Apit.

Khairul Apit bersama Ketua Keselarasan Bungo Setangkai, Datuk Dirajo mengaku sangat menyambut baik rencana pembangunan komplek museum dan pustaka Tan Malaka. Apalagi, menurutnya, Tan Malaka merupakan seorang leluhur mereka yang merupakan pucuk adat yang membawahi 142 niniak mamak/ penghulu ampek suku di lantak salapan, Keselarasan Bungo Setangkai. (Esha Tegar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here