Ketika Batu Bajanjang Ingin Sejajar dengan Nagari Lain

0
13

Laporan:Wandy (wartawan Senior)

Dari 74 Nagari yang tersebar di 14 Kecamatan yang ada di Kabupaten Solok, masyarakat bumi markisa ini mungkin sudah tau kalau Kecamatan Tigo Lurahlah yang paling terkebelakang.

Dari Lima Nagari yang ada di Kecamatan tersebut, ada sebuah Nagari yang bernama Batu Bajanjang. Nagari ini namanya sama dengan sebuah Nagari di Kecamatan Lembang Jaya yang juga masuk Kabupaten Solok, yakni Batu Bajanjang. Meski pusat pemerintahan kecamatan Tigo Lurah berada di nagari ini, namun jangan harap kita akan menemui jalan mulus di Batu Bajanjang, walau di depan Kantor Kecamatan sendiri. Miris dan memilukan, begitulah gambaran yang pantas dikisahkan untuk Batu Bajanjang atau untuk seluruh nagari di Kecamatan Tigo Lurah. Mungkin kita akan maklum kalau jalan ke jorong-jorong kurang mulus bisa kita fahami. Namun sebagai Ibukota kecamatan, rasanya sangat miris dan tidak layak terus bergelut dengan ketertinggalan.

Setidak-tidaknya akses jalan dari Nagari Simanau atau nagari pertama dari Sirukam yang kita temui masuk kecamatan Tigo Lurah, menuju Batu Bajanjang sebaiknya kalau tidak akan mulus, ukuran standart jadilah. Namun ini benar-benar miris. Jalan berlubang dan dihiasi batu-batu besar seukuran batu Bata dengan kondisi medan yang naik turun, membuat jaraknya yang seharusnya ditempuh sepuluh menit dari Sumiso, kini menjadi 1 jam lebih. Dan itupun diperlukan sopir atau pengendara yang handal, kalau tidak pasti tidak akan sampai di Batu Bajanjang.

Masyarakatnya sangat ramah dan suka menyapa setiap tamu yang masuk ke nagari itu. Jarak Batu Bajanjang dari Arosuka sekitar 92 KM atau 75 KM dari Kota Solok dan 15 Kilometer dari Simanau. Batu Bajanjang terdiri dari 6 Jorong yakni Jorong Kampung Tangah, Jorong Pangka Pulai, Jorong Muaro Sabie Aie, Jorong Batu Bagantuang, Jorong panariak dan Jorong Koto Tuo. Luas Nagari ini adalah sekitar 12. 940 Ha, terletak pada ketinggian 600 mdpl dengan penduduk sekitar 3000 jiwa. Sementara mata pencaharian warga mayoritas sebagai petani. Penghasilan utama nagari ini adalah Manggis dan pemasok utama di Kabupaten Solok. Selain itu ada petani coklat, padi dan karet.

Ketika penulis menelusuri Nagari Batu Bajanjang seharian bersama Walinagari Batu Bajanjang, Dahrul Asri, Kasi Pemerintahan, Mak Juar, Kasi Umum dan Keuangan, Nota Indra, SPd, Kasi Kesra, Damri Sekretaris Nagari, Sabirin dan tokoh masyarakat Zainal untuk melihat kondisi jalan dan kehidupan masyarakat di Batu Bajanjang, ada rasa iba dan prihatin yang mendalam muncul dihatoi penulis. Jika dibanding nagari lain seperti di Koto Baru atau Koto Gadang Guguk, jalan ke Gang saja mulus, maka ini jangankan jalan ke jorong, jalan utama saja menuju kecamatan amburadul. Kepada penulis, Walinagari Dahrul Asri dan Kasi Pemerintahan Mak Juar braharap agar Pemerintah Kabupaten atau Provinsi lebih memperhatikan nasib Batu Bajanjang atau Tigo Lurah. “Waktu kampanye baik pemilihan anggota dewan atau Kepala Daerah, semua kandidat berjanji akan memperhatikan nasib kami. Tapi setelah mereka terpilih, mereka lupa akan janji,” jelas Mak Juar.

Selain menelusuri beberapa jorong seperti Kampuang Tangah, Koto Tuo, Jorong Muaro Sabie Aie dan Batu Bagantuang, sepanjang jalan walinagari Dahrul Asri bersama tokoh masyarakat Zainal, mengisahkan bahwa dalam satu tahun terakhir hujan tidak turun di Batu Bajanjang dan semua padi masyarakat gagal panen. Untungnya saat ini di nagari itu sedang musim Manggis dan durian, sehingga ekonomi masyarakat tidak lumpuh. Selain itu, hampir semua kondisi jalan nasibnya memprihatinkan menuju ke jorong-jorong. Bahkan sebuah jembatan yang dilintasi ratusan orang setiap hari di jorong Batu Bagantuang, kondisinya sudah lapuk dan papannya sudah copot. “Masyarakat terpaksa memanfaatkan jembatan ini untuk ke ladang atau ke sawah, karena tidak ada jembatan lain. Kalau dana nagari yang digunakan untuk membangun jembatan ini, tentu akan habis karena kita memiliki 6 jorong yang kebutuhannya juga sama. Jadi kami berharap dana pokir anggota dewan atau Pemerintah bisa membangun jembatan ini karena sangat vital buat petani,” jelas Dahrul Asri.

Walinagari yang ingin membawa Batu Bajanjang sejajar dengan nagari lain yang ada di Kabupaten Solok, sangat menyadari bahwa untuk membangun nagari terisolir diperlukan SDM dan juga SDA yang handal. “Kami kurang memiliki SDM karena wilayah kami jauh dari kota, namun kami ingin pemerintah memperhatikan nasib warga kami, seperti membangun jembatan dan jalan yang kondisinya ala kadarnya, sangat bertolak belakang dengan kecamatan lain di Kabupaten Solok,” jelas Dahrul Asri, yang diamini seluruh Kasi di nagari setempat, saat meninjau lokasi ikan laranga di nagari setempat***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here