Ketika Embung Baboi Disorot, Eh… Ada yang Kebakaran Jenggot

0
24

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com-
Ternyata, menarik mengkritisi proyek sarana air baku embung Baboi yang dibangun di Jorong Kubang Bungkuak, (bukan Jorong Koto, red) Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota.

Betapa tidak, ketika para wartawan melakukan investigasi dan pengumpulan data, kemudian menerbitkannya sebagai berita kontrol sosial yang diharapkan mendapat respon positif dari pihak terkait, ternyata ada saja pihak yang kebakaran jenggot, lalu menulis komentar di media sosial sebagai sikap protes atas pemberitaan tersebut.

Menariknya, setelah kondisi embung baboi yang terancam mubazir itu sempat dijepret kamera wartawan, beberapa hari kemudian pintu air yang terbuat dari baja besi yang sudah raib dari tempatnya itu, terlihat sudah diganti dengan papan.

embung babao terkesan mubazir karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya. 6

Menurut pantauan ke lokasi, meskipun pintu air itu sudah diganti dengan lembaran papan, namun belum berfungsi dengan baik. Karena diantara celah lembaran papan, air masih muncrat dan tidak mampu menampung debit air pada lokasi genangan embung.

Ke khawatiran lain, lembaran papan yang dipasang sebagai penganti pintu air yang seharusnya terbuat dari besi baja, dipastikan tidak akan mampu bertahan lama, karena sebagian papan yang dipasang dipintu air terlihat papan bekas yang mudah lapuk.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek embung baboi yang dibangun oleh Dinas Pertanian Holtikutura dan Tanaman Pangan Pemkab Limapuluh Kota tahun 2016 lalu, menghabiskan dana daerah sebanyak Rp 190 juta lebih dikerjakan oleh CV. Aflah Payakumbuh, dikhawatirkan terancam mubazir.

Pasalnya, kondisi embung yang seyogianya berfungsi untuk resapan air baku, guna mendukung sarana pertanian masyarakat Situjuah Batua, ternyata tidak berpungsi sebagaimana mestinya.

Ketika dilakukan pemantau ke lokasi, kondisi embung itu sangat memprihatinkan karena kering tak digenangi air. Jika pun musim hujan, air yang seharusnya mengendap di lokasi embung, justru mengalir keluar areal embung, karena pintu air yang terbuat dari besi baja sudah raib dari tempatnya.

“ Kondisi embung baboi itu tidak lagi berfungsi sebagai tempat penapungan air. Saat ini embung itu tidak ada bermanfaat bagi masyarakat, karena embung tersebut tidak berfungsi sebagai wadah penampungan air. Ini sebagai bukti jika proyek embung yang telah menguras uang daerah hampir Rp 200 juta itu, dikerjakan asal jadi dan diduga tidak didukung dengan alanisa teknis yang tepat,” ujar warga setempat berekomentar. (esa tegar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here