Lembaga Riset asal Belanda , Gali Potensi Payakumbuh

0
10

Payakumbuh, Dekadepos.com

Kota Payakumbuh beberapa tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang begitu pesat. Perkembangan itu menarik perhatian para peneliti baik dari universitas maupun lembaga penelitian untuk mempelajari lebih dalam tentang Kota Payakumbuh. Kali ini Lembaga Riset asal Belanda KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) atau dalam bahasa Indonesia Lembaga Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi Kerajaan Belanda bekerjasama dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) melakukan wawancara dengan Walikota Payakumbuh Riza Falepi terkait dengan pertumbuhan, perkembangan dan kehidupan sehari-hari Payakumbuh di Kantor Balaikota Bukik Sibaluik, Rabu siang (26/04).

Dalam wawancara tersebut Riza bercerita tentang kinerjanya selama menjabat Walikota Payakumbuh sejak tahun 2012. Mulai dari kinerja di bidang pendidikan, kesehatan, pariwisata, ekonomi, sampai bidang infrastruktur. “Semua yang saya lakukan tidak lepas dari dua hal yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu sudah menjadi tugas pemimpin maupun kepala daerah di negara ini,” ujar Riza.

Ketika ditanya tentang prioritas kerja di periode kedua, Riza menjawab akan menyiapkan kondisi perekonomian Payakumbuh yang siap berkembang. Harapannya pertumbuhan ekonomi bisa mencapai angka dua digit serta income per kapita melebihi rata-rata nasional. Berkaitan dengan itu Riza menambahkan ada tiga factor penentu agar sebuah daerah cepat berkembang yakni faktor accessibility, excellent center, dan industrialisasi.

Sementara itu peneliti senior KITLV Dr. Fridus Steijlen menyampaikan bahwa pemilihan Kota Payakumbuh sebagai objek penelitian karena Payakumbuh adalah kota yang pesat perkembangannya dan memiliki potensi besar untuk percepatan kemajuan. Studi tentang perkembangan dan pertumbuhan Payakumbuh akan menjadi sumbangsih penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Pria jangkung asal Belanda tersebut juga tertarik untuk menggali lebih dalam budaya Minang seperti merantau, adat basandi syara’, dan falsafah Minang lainnya yang mendukung kemajuan nagari.

Terkait dengan lembaganya, Dr. Fridus menyampaikan KITLVadalah sebuah lembaga ilmiah yang didirikan pada tahun1851. Tujuan utamanya ialah penelitian ilmu antropologi, ilmu bahasa, ilmu sosial, dan ilmu sejarah untuk wilayah Asia Tenggara, Oseania dan Karibia. Perpustakaan KITLV diLeiden, Belanda memiliki koleksi lengkap buku-buku, naskah-naskah manuskrip, dan bentuk dokumentasi lainnya. (Esha Tegar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here