Loper Koran Juga Manusia, Punya Rasa dan Cinta

0
380

PAYAKUMBUH, dekadepos.com-

Rabu pagi, (16/5/2018) tepatnya satu hari jelang masuk bulan suci Ramadhan 1439 Hijriah, pemandangan tak biasa terjadi di plataran parkir toko buku Pustaka Hizra Payakumbuh. Jika hari-hari sebelumnya, di plataran parkir toko buku Pustaka Hizra dikenal sebagai agensi terbesar di Kota Payakumbuh itu, selalu dipadati puluhan pekerja pengantar koran arau loper koran.

Namun pagi itu, plataran parkir toko buku Pustaka Hizra milik Haji Anas yang berada di jantung Kota Payakumbuh itu, benar-benar sepi dari keberadaan puluhan loper koran yang biasanya setiap pagi ramai mangkal, menunggu, beraktifitas dan menyusun serta melipat koran yang akan mereka antarkan ke tempat pelanggannya masing-masing.

Sepinya para loper koran, sontak membuat sejumlah ‘perpanjangan tangan’ pengelola surat kabar yang bertugas di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, seperti para wartawan yang diberi tanggungjawab oleh perusahaan koran untuk mengurus pendistribusian koran agar sampai ke tangan pembacanya, menjadi kalang kabut dan panik.

Betapa tidak, persoalannya bukan sepele dan sederhana. Tanpa mereka si loper koran, dipastikan koran-koran yang sudah sampai di Kota Payakumbuh yang seyogianya harus sampai ke tangan para pembacanya, menjadi tak berarti dan hanya akan menjadi kertas pembungkus ikan asin atau lado, jika sore hari koran-koran itu baru sampai ke tangan pembacanya.

Lah sansai….lah sansai awak. Loper koran tak masuk hari ini. Hari ini urang balimau kamasuak puaso, loper koran istirahat mengantar koran. Hari ini mereka akan membawa istri dan anak-anaknya untuk bersilaturahmi dengan sanak dan keluarganya, bermaaf-maafan atau ada juga yang pergi balimau dengan istri dan anaknya,” kata Pak Amik tokoh sentral di toko buku Pustaka Hizra Payakumbuh yang tiap hari bergelut dengan para loper koran yang ada di Kota Payakumbuh ini.

Menurut Pak Amik, meski dia adalah agensi yang bertanggungjawab terhadap peredaran koran di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, namun dia mengaku tak berdaya mencegah atau melarang ketika para loper koran itu minta ‘cuti’ barang satu hari untuk tidak mengantar koran kepada pelanggannya, dengan alasan yang sangat manusiawi yakni akan memasuki bulan suci ramadhan untuk bersilaturahmi dengan keluarga.

“Bagaimanapun juga, loper koran itu juga manusia punya rasa dan cinta,” ungkap Pak Amik mengmaklumi.

Tak ada jalan lain, ulas Pak Amik, hari ini kita yang akan menjadi loper koran bertugas untuk mengantar koran-koran ini kepada pembacanya. “Minimal, langganan untuk kantor-kantor harus sampai ke tangan pembacanya agar bapak-bapak itu tak kehilangan informasi,” ulas Pak Amik.

Tak hanya Pak Amik saja yang mengambil sikap demikian. Sejumlah wartawan yang diberi tanggungjawab oleh perusahaan koran tempat mereka bekerja untuk mengurus pendistribusian koran agar sampai ke tangan para pelanggannya, juga terpaksa mengambil sikap untuk tugas rangkap yakni; sebagai wartawan sekaligus juga harus rela menjadi loper koran.

“Tak ada jalan lain, Koran harus sampai ke tangan pembaca. Wartawan atau loper koran, sama saja. Yang penting, Koran kita sampai ke tangan pelanggan dan dibaca,” ulas wartawan gaek Pak Kumis yang hari itu terpaksa menjadi loper koran demi memuaskan para pelanggannya.

Dikatakan Pak Kumis, inilah saatnya semua pihak dapat memahami betapa pentingnya peranan seorang loper koran. Meski mereka hanya sebagai pengantar koran, namun peranannya tak boleh dilihat sebelah mata.

“Bayangkan, dalam kondisi cuaca apapun loper koran berada digarda terdepan untuk mengantarkan koran ke konsumen. Pekerjaan sebagai pengantar koran, bukanlah pekerjaan yang biasa dan mudah untuk dikerjakan. Sebagian orang beranggapan bahwa, pekerjaan sebagai pengantar koran atau kerap disebut loper koran, adalah pekerjaan yang mudah, sepele, gampang, biasa, bahkan ada yang menganggapnya sebagai pekerjaan rendahan,” ulas Pak Kumis yang akrap disapa Mamak Kumis itu.

Dikatakan Pak Kumis, hanya orang-orang tertentu saja yang mau menekuni pekerjaan sebagai pengantar koran. Tetapi, dibalik anggapan rendah yang ditujukan kepada pekerja pengantar koran, ternyata ada nilai-nilai mulia yang lahir dari tangan seorang loper koran yang secara tidak langsung punya tugas dan fungsi mencerdaskan anak bangsa.

“Orang-orang takkan pernah tahu, kesulitan dan rintangan, serta perjuangan apa saja yang sudah dilalui si pengantar koran, hingga sampai ke rumah si pembaca dengan aman. Mengantar koran, bukan hanya bicara soal pengantaran, tetapi bagaimana cara melayani si pembacadengan kondisi pelayanan yang memuaskan tanpa ada komplain atau pun keluh kesah dari konsumen itu sendiri,” pungkas Pak Kumis. (doddy sastra)