Memprihatinkan, Masih ada Nagari di Kabupaten Solok Pakai Kuda Beban

0
361
Jalan menuju Nagari Garabak Data, Kabupaten Solok masih jalan tanah.

SOLOK, dekadepos.com –

Jeritan hati kecil masyarakat pinggiran yang bermukim di daerah terisolir di Kabupaten Solok, sepertinya sudah terdengar sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten Solok dan Sumatera Barat. Namun entah apa masalahnya, sampai saat ini masyarakat yang tinggal di daerah terisolir itu seperti  di Nagari Garabak Data, Batu Bajanjang, dan Sariak Alahan Tigo, Sungai Abu dan lainnya, masih saja hidup dalam keasliannya, masih terkebelakang dan akses jalan masih beralas tanah.

Meski sudah lebih dari 72 tahun Republik ini merdeka, namun sebahagian warganya banyak yang belum menikmati apa itu arti ‘merdeka’. Merdeka disini jelas bukan masih terjajah oleh bangsa lain, namun masih belum bisa menikmati makna dari kemerdekaan itu sendiri.

Salah satu nagari di Kecamatan Tigo Lurah di Kabupaten Solok, yakni nagari Garabak Data, sampai saat ini belum pernah disentuh listrik, jalan beraspal, sarana dan tenaga kesehatan atau menikmati siaran televisi. Bahkan, satu-satunya alat transportasi adalah dengan menggunakan kuda beban, yang tarifnya dibayar Rp. 4000 per kilo meter atau satu kilo barang dengan ongkos Rp 1500 sampai 2000.

Saat menelusuri nagari Garabak Data dari nagari  Batu Bajanjang yakni dari Jorong Sabia Ayia, untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan, masyarakat disana sepertinya tidak henti-hentinya menanyakan kapan nagarinya bisa sejajar dengan nagari lain.

“Jangankan listrik atau jalan yang bagus, sarana angkutan saja masih menggunakan alat tradisonil seperti kuda beban. Jadi, kapan kami bisa mau maju,” jelas Linda (46), warga jorong Data. Namun yang paling menyentuh, ada pertanyaan yang dilontarkan seorang anak ABG putri yang bernama Kesri Rahmadhani  (14) yang masih menjadi pelajar salah satu SMK di kota Solok, dimana dia merasa sedih pulang kampung melihat kondisi jalan tanah dari jorong Sabia Ayia Batu Bajanjang menuju perbatasan Tigo Lurah.

Semua aspal tanahnya bangun dan kendaraan beberapa kali mogok dan harus secara bergotongroyong mengeluarkan dari jebakan lumpur. “Pak, Bapak kan wartawan, tolonglah sampaikan ke pemerintah, kapan jalan kami mau di aspal? Tidak usah yang lain dulu, bangun jalan saja kami sudah sangat bersyukur. Tolong ya pak sampaikan pesan kami ke pemerintah daerah,” ujar Kesri Rahmadhani dengan wajah  penuh harap.

Disebutkannya, kalau musim hujan seperti sekarang, untuk menuju ke kampung halamannya, warga harus berjuang dengan maut melawan jalan licin penuh lumpur serta kondisi jalan yang naik turun. “Sudah banyak warga kami yang terjatuh dari motor dan itu diberitakan saja karena memang jarang  wartawan yang meliput kesini,” tambahnya.

Penduduk nagari Garabak Data berjumlah  lebih kurang 2.700 jiwa, dan mengaku masih belum menikmati apa itu kemerdekaan. Wali nagari Garbak Data, Pardinal, menyebutkan bahwa pemerintah Kabupaten Solok dan Sumatera Barat tidak serius memperhatikan nagari Garabak Data.

“Kami benar-benar merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Lihat saja, zaman sekarang masih banyak warga kami yang tidak mengerti apa itu kendaraan, listrik atau televisi. Padahal negara ini sudah 72 tahun merdeka,” tutur Pardinal.

Ditambahkannya, warga Garabak Data benar-benar buta tentang kemajuan technogy dan sampai sekarang warganya masih terisolasi dan miskin. Sehari-hari menurut Pardinal, warganya hidup dari bertani coklat, kopi, manggis, pisang, padi, karet dan lain sebagainya. Namun hasil pertanian dijual sangat murah kepada tengkulak, karena mereka jauh dari pusat kota dan kecamatan.

“Bayangkan saja, untuk keluar dari Garabak Data saja mau menuju kantor kecamatan, setiap warga harus mengeluarkan ongkos ojek Rp 150 ribu untuk satu kali jalan. Bagaimana kalau mau sampai ke Arosuka ibukota Kabupaten Solok atau ke Padang, mungkin ongkosnya sampai Rp500 ribu, belum termasuk biaya lain-lain. Makanya masyarakat Garabak lebih memilih diam di kampung dan jarang berpergian ke luar,” jelas Pardinal.

Nada memilukan dan gambaran potret kemiskinan yang disampaikan walinagari Pardinal, hendaknya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah daerah. Pardinal juga menjelaskan bahwa sampai saat ini semua sarana jalan ke Garabak Data masih jalan tanah dan seadanya, sehingga akses transportasi ke daerah penghasil pertanian ini masih menggunakan kuda beban. Walinagari juga menyayangkan janji Gubernur dan Bupati pada April 2014 lalu, sampai sekarang belum terelaisasi. Garabak Data adalah penghasil pertanian yang baik, karena masyarakatnya rajin bekerja dan sekolah setingkat SMA juga belum ada. Setiap petani di Garabak Data, minimal mempunyai 1500 batang kopi (ujang jarbat)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here