Penanganan Kelompok Radikal, Kapolres Bukittinggi Gandeng Elemen Masyarakat

0
25

Bukittinggi.Dekade Pos.

 

Dalam rangka menindak lanjuti program prioritas Kapolri untuk penang anan Kelompok Radikal,Pro Kekerasan dan Intoleransi yang dapat memecah be lah Persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Polres Bukittinggi menggandeng ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, Lembaga Swadaya Masarakat (LSM), serta tokoh masarakat.

 

“Polres Bukittinggi siap mengoptimalkan sosialisasi dan mengada kan pertemuan dengan pihak terkait, dengan target dapat mengantisipasi timbulnya paham kelompok radikal, pro kekerasan, dan intoleransi khusus nya di Bukittinggi,” ujar Kapolres Bukittinggi AKBP Arly Jembar Jumhana kepada wartawan Selasa(13/12) kemaren.

Menurut Kapolres Arly Jembar Jumhana, peran aktif masarakat sang at penting dalam mendukung program ini, karena paham yang patut diwas padai itu munculnya dari masarakat.  “Sejauh ini paham itu belum ditemu kan di wilayah hukum Polres Bukittinggi, namun demikian kita tidak boleh lengah, karena hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata, dan dampak nya pun juga dapat merubah pola pikir mas\arakat,” jelasnya.

 

Kemudian,AKBP Arly Jembar Jumhana mengapresiasi nilai plus yang dimiliki Sumatera Barat atau Minangkabau termasuk Bukittinggi yang me miliki pranata sosial yang baik, didukung dengan adat istiadat, serta paham agama masyarakat yang kuat.“Maka dari itu pihak Polres Bukittinggi berke yakinan munculnya paham yang dapat memecah belah persatuan dan kesa tuan itu dinilai cukup minim, namun akan selalu waspada, dengan meng optimalkan peran seluruh jajaran dan kerjasama melalui seluruh pihak terkait,” ujar Kapolres.

Sementara itu,Dosen Ilmu Hukum IAIN Bukittinggi Maswardi juga menjelaskan, untuk meningkatkan sosialisasi ke tengah-tengah masarakat, Polres Bukittinggi hendaknya juga mengoptimalkan peran Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masarakat (Bhabinkantibmas) yang bertugas di 24 Kelurahan.

“Memang sejauh ini ada satu atau dua kasus paham radikal yang ditemukan di Bukittinggi, namun hal itu telah diantisipasi oleh Polres, dan kedepan perlu diantisipasi lebih awal dengan meningkatkan pranata adat melalui peran ninik mamak dan cadiak pandai, karena Polisi sendiri belum tentu langsung mengetahui tumbuhnya paham radikal itu,” ujarnya.

kemunculan paham radikal merupakan permasalahan yang kom pleks, banyak faktor yang menjadi pemicu mulai dari keadilan yang sepihak , perekonomian, hingga kemiskinan dapat melahirkan paham itu.“Usia 12 hingga 19 tahun merupakan kondisi rentan bagi tumbuh dan kembangnya paham radikal, dan pendekatan secara kekeluargaan dan kelompok juga penting dalam upaya mencegahnya,”tambah Maswardi. (Aldo )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here