Penyalahgunaan Lem Marak, Anak Usia Sekolah Mendominasi

0
87
Devitra, Kasat Pol-PP dan Damkar Kota Payakumbuh.

Payakumbuh, Dekadepos.com

Kasus penyalah-gunaan Lem di Payakumbuh, kian hari kian marak. Dari data Satpol-PP Payakumbuh, pada tahun 2017 lalu, 35 orang Anak Baru Gede (ABG) usia sekolah dari berbagari tempat di Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota serta daerah lainnya berhasil dijaring oleh Tim Penegak Peraturan Daerah yang tergabung dalam Tim 7 maupun Satpol-PP yang melaksanakan operasi rutin.

Ngelem atau menghirup lem, kini menjadi trend dikalangan anak jalanan ataupun mereka yang putus sekolah dan berkumpul dengan sejumlah ABG lainnya. Mereka yang dijaring kedapatan ngelem diberbagai tempat dalam kota Payakumbuh. Sebahagian dari mereka dibina oleh Dinas Sosial Kota Payakumbuh bekerjasama dengan Batalion dan Pol PP. Sayang, setelah beberapa hari dibina sebahagian anak-anak jalanan ini kembali kejalanan dan terjaring kembali melakukan perbuatan yang sama.

” Data yang kami miliki, pada tahun 2017 lalu sebanyak 35 orang, anak-anak usia sekolah tapi sudah putus sekolah berhasil dijaring karena kasus lem. Rata-rata mereka berasal dari Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh kota. Mereka kita jaring saat/sesudah ngelem diberbagai tempat di Payakumbuh” sebut Kasat Pol-PP dan Damkar Kota Payakumbuh, Devitra didampingi Kabid Penyidikan Erizon, Rabu (17/1) di Markas Satpol-Pp di Kantor Balaikota Baru di Eks. Lapangan Bola Kapten Tantawi Kelurahan Bunian Kecamatan Payakumbuh Barat.

Baca : http://www.dekadepos.com/ngelem-7-anak-baru-gede-abg-dijaring-satpol-pp/

Baca juga : http://www.dekadepos.com/ngelem-pol-pp-amankan-anak-jalanan/

Saat dijaring, anak-anak jalanan ini berkumpul bersama-sama pada satu tempat. Tetapi ada yang kedapatan ngelem dan ada juga yang hanya sekedar ikut-ikut kumpul-kumpul pada tengah malam. Selain itu juga ada yang mengakui minum Tuak dan miras serta penyalahgunaan obat-obatan. “Selain ngelem, kita juga mendapati mereka minum Tuak. Kemudian juga penyalahgunaan obat-obatan sepanjang tahun 2017 ada sebanyak 10 kasus. Kemudia miras sebanyak 78 kasus dan sudah diputus Pengadilan sebanyak 9 kasus khusus bagi pemilik,” sebut Devitra.

Pol PP mulai tahun 2017 lalu sudah membawa kasus pelanggaran Perda keranah hukum untuk menjalani sidang pidana tipiring. Dari 9 kasus kepemilikan miras baik Tuak maupun minuman keras lainnya, PN menjatuhkan hukuman pidana Denda kepada pemilik.

“Memang kita sudah bawa persoalan pelanggaran perda keranah hukum. Dari putusan yang sudah diputus semuanya dijatuhkan pidana denda paling banyak Rp 600 ribu. Tentu kedepan kita akan terus melawan maksiat di Kota Payakumbuh, dan bagi yang sudah pernah dijatuhi pidana denda kedapatan kembali melanggar Perda maka hukumannya akan lebih berat lagi,” sebut Kasat.

Terpisah, Ketua DPRD Payakumbuh, meminta Satpol-PP atupun Tim 7 Kota Payakumbuh untuk terus menggiatkan Patroli atau Razia rutin untuk mengantisipasi berbagai Penyakit Masyarakat, termasuk melakukan penertiban anak-anak yang melakukan penyalah-gunaan Lem. “ Kita dukung dan apresiasi Tim 7 maupun Satpol-PP untuk melakukan razia rutin ataupun patrol mengantisipasi berbagai penyakit masyarakat”. Sebutnya baru-baru ini. (Est)