PERISTIWA BERDARAH TERJADI DI NAGARI TARAM TERNYATA TERKAIT SOAL TANAH ULAYAT

0
45009

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com-

Ternyata, peristiwa berdarah telah merengut nyawa seorang warga Nagari Pilubang, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, bernama Erwin (45) Minggu (10/9) sekitar pukul 12.45 Wib, dipicu oleh persoalan tanah ulayat.

Hal itu diungkapkan Kapolres Limapuluh Kota AKBP Haris Hadis ketika dihubungi, Minggu (10/9) melalui telepon genggamnya.

Menurut Kapolres, saat ini sudah diperiksa sejumlah saksi yang ada di lokasi saat peristiwa berdarah itu terjadi. “Untuk sementara kita menyimpulkan kasus tersebut adalah perkelahian,” sebut Kapolres AKBP Haris Hadis.

Korban Erwin, ketika dilarikan ke RSUD dr. Adnan WD Payakumbuh dan menghembuskan nafas terakhir karena menderita luka bacok cukup parah.

Kapolres belum bisa menyimpulkan apakah kasus perkelahian itu berawal dari penyerangan. Yang pasti, di Tempat Terjadinya Peristiwa (TKP) seorang anggota DPRD Limapuluh Kota, Tedy Sutendi, berencana melakukan pembangunan jalan memanfaatkan dana pokir.

“ Tiba-tiba terjadi cekcok antara Tedy Sutendi dengan warga Pilubang sehingga terjadi peristiwa berdarah itu dan mengakibatkan seorang warga Nagari Pilubang bernama Erwin meninggal dunia. Sedangkan Tedy Sutendi bersama adiknya Tito menderita luka bacok,” sebut AKBP Haris Hadis.

Dikatakan AKBP Haris Hadis, untuk saat ini ketiganya kita sebut korban. Karena  untuk saat ini pihak penyidik masih melakukan pemeriksaan sejumlah saksi yang sedang berada di TKP.

Tedy Sutendi Dilarikan ke Padang

Tedy Sutendi, anggota DPRD Limapuluh Kota terpaksa dilarikan ke RSU dr. M. Jamil Padang karena luka bacok yang dicerita cukup serius.

Menurut infomasi yang dikumpulkan, akibat luka bacok yang diderita Tedy Sutendi cukup parah, pihak Rumah Sakit Ibnu Sina Payakumbuh telah merujuk anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota itu ke RSU dr. M. Jamil Padang.

Pernah Dilaporkan Ke Polres

Sebelumnya,  11 orang pemangku adat atau ninik mamak asal Nagari Pilubang, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Senin (16/5) lalu, pernah mendatangi Polres Limapuluh Kota melaporkan Tedy Sutendi, karena dituduh telah melakukan perampasan hak atas tanah ulayat milik 13 kaum ninik mamak yang ada di nagari Pilubang.

Ke 11 orang ninik mamak Nagari Pilubang yang membuat laporan pengaduan itu adalah Nurdalis Dt. Majo Indo, sman Dt. Bagindo, Safrial Dt Rangkayo Bosa, Daman Dt Rajo Mudo, Jumrial Dt Rajo Ali, Erisno Dt. Marajo, Afrudin Dt. Karayiang, Marsis Dt. Mangkuto, Januar Dt. Bagindo Nan Panjang, Erman Dt.Putiah nan Kancang dan Buyung Dt. Gopuang Nan Panjang.

“ Seara resmi laporan pengaduan kami sudah diterima oleh pihak kepolsian tertulis dalam Laporan Polisi Nomor:LP/K/74/ V/2016/SPKT/Res-LKP tangal 16 Mei 2016 ditandatangani Brigadir Aris Jafril,” ulas Nurdalis Dt. Majo Indo.

Tito adik kandung Tedy Sutendy juga menderita luka bacok cukup serius, dirawat di RS Ibnu Sina Payakumbuh.

Menurut Nurdalis Dt. Majo Indo, ke 11 ninik mamak pemangku adat yang ada di Nagari Pilubang terpaksa melaporkan, Tedy Sutendi, kepada pihak kepolisian  karena tindakan oknum anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota dari Partai Hanura itu, telah merugikan anak nagari Pilubang  sebagai pemilik hak atas tanah ulayat.

“ Tanah tersebut sebagai sumber kehidupan masyarakat Nagari Pilubang, terletak di Kenagarian Pilubang dengan luas lebih kurang 150 hektar, dirampas dan diambil paksa oleh Tedy Sutendi. Adapun tanah tersebut sebelah Timur berbatas tanah pancang (hutan lindung) sebelah Barat, berbatas Batang Mungo (sungai) sebelah Utara berbatas tanah pancang (hutan lindung) dan sebelah Selatan berbatas aia cuci (jalan tongak),” sebut Nurdalis Dt. Majo Indo.

Diakui Nurdalis Dt Majo Indo, sebelumnya ninik mamak Nagari Pilubang sudah melarang, mantan Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Limapuluh Kota itu untuk menggarap tanah tersebut. Bahkan, tindakannya merambah hutan dan menggarap tanah ulayat milik 13 orang ninik mamak nagari Pilubang itu, sudah dilaporkan kepada Walinagari Pilubang dan Walinagari Taram.

Sementara itu, Tedy Sutendi, kepada ketika diminta komentarnya terkait adanya laporan 11 orang ninik mamak Nagari Pilubang yang telah menuduhnya melakukan tindakan pidana perampasan hak atas tanah ulayat Nagari Pilbang itu, membantah dengan tegas tuduhan itu.

Dikatakan Tedy Sutendi, dia dan niniak mamak Pasukuan Malayu Kampuang Pucuak Nagari Taram, Kecamatan Harau, bukan mengolah lahan milik masyarakat di Pilubang. Melainkan, lahan dari kaum mereka sendiri.

“Tidak benar kami mengolah lahan milik orang lain. Yang ada, justru masyarakat nagari Pilubang yang telah menduduki lahan kami dari dulu dan mengolah lahan kami,” aku Tedi.

Dia juga menegaskan, jika benar masyarakat di Pilubang merasa lahannya dirampas, tidak satupun yang memperlihatkan bukti suratnya. “Saya tanya, kalau benar mereka punya lahan, mana suratnya?,” aku Tedy Sutendi.

Tedy Sutendi juga menyebutkan bahwa, lahan yang digarapnya itu akan diolah menjadi kebun jagung. Saat ini, luas lahan yang sudah diolah 20 hektare. “Sebagai catatan, Nagari Taram tidak pernah berbatas dengan Pilubang, kecuali dengan Buluah Kasok. Jadi, lahan sekarang ini, tidak masuk ke Pilubang,” klaim Tedi Sutendi.

Menurut Tedy Sutendi, setelah datangnya masyarakat Pilubang ke Pemerintahan Nagari dan KAN Taram, mereka mendapatkan jawaban jika Taram tidak berbatas dengan Pilubang. Jadinya, dari mana lahan mereka?,” ujar Tedi Sutendi saat itu. (esha tegar)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here