PERNAH TEMPAT BERLINDUNG PEJUANG PDRI: Goa Aie Singkek, Mistis dan Menakjubkan

0
746
Ketua DPRD Limapuluh Kota, Safarudin Dt.Bandaro Rajo, mengaku terkesima dan tahjub melihat keindahan Goa Aie Singkek Koto Tinggi.

GOA Aie Singkek, sebuah objek wisata alam menyimpan pesona nan menakjubkan berada di Jorong Kampung Melayu, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapouluh Kota, sekitar 55 kilometer dari Kota Payakumbuh, adalah salah satu potensi wisata yang pantas untuk dikunjungi.

Betapa tidak, selain kondisi goa ini masih asri dianggap memiliki nilai mistis dan punya pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan dengan batu stalakmit dan stalaktitnya yang berwarna putih susu dan kuning keemasan, menjadikan goa ini menjadi salah satu goa terindah tanah air.

Uniknya, di lokasi ini ditemukan 2 buah goa yang mulut goanya saling berhadap-hadapan dengan jarak hanya sekitar 100 meter. Informasi yang diperoleh dari tokoh masyarakat setempat, Desri, yang juga pejabat dilingkungan Pemkab Limapuluh Kota menyebutkan bahwa, satu goa telah behasil dijelajahi masyarakat panjangnya hampir 1,5 km dan satu lagi panjangnya sekitar 1 km dengan kondisi yang satu memanjang ke Barat dan satu lagi memanjang ke Timur.

Desri, tokoh masyarakat Kototinggi sangat berharap potensi wisata goa Aie Singkek mendapat perhatian Pemkab untuk dibenahi menjadi salah satu destinasi wisata alam di Limapuluh Kota.

“ Karena keberadaan kedua goa ini masih asri, maka jika ada para pengunjung yang ingin menjelajahi keindahan goa Aie Singkek ini sebaiknya dipandu oleh masyarakat setempat dengan sarana atau perlengkapan penerangan yang memadai. Pasalnya, agar para pengunjung tidak tersesat, karena terowongan yang ada di dalam goa ini sangatlah panjang dan belum sepenuhnya goa berhasil dijelajahi,’ ungkap Desri.

Desri juga mengakui bahwa, beberapakali mengunjungi goa Aie Singkek ini tak ada rasa bosan. Soalnya, didalam goa ini benar-benar terpampang sebuah pemandangan menakjubkan tiada duanya dengan ornament stalakmit atau stalaktit berbentuk kelambu yang penuh kemilau karena selalu dialiri oleh resapan air.

“Kedua goa Aie Singkek ini punya cerita sejarah perjuangan masa lalu yang tak boleh dilupakan oleh anak bangsa negeri ini, karena ditempat ini pernah dijadikan sebagai tempat persembunyian atau tempat rapat-rapat bagi pejuang Pemerintah Daruar Republik Indonesia (PDRI), lantaran lokasinya dekat dengan sender radio PDRI di Puardatar, Kototinggi,” sebut Desri, salah seorang tokoh masyarakat Kototinggi yang paling gigih memprimusikan keberadaan goa Aie Singkek ini di publik.

Goa Aie Singkek ini selain menyimpan misteri sejarah PDRI, masih menurut cerita Desri, goa ini konon tembus ke goa Imam Bonjol. Dan salah goa didalamnya, memiliki air terjun setinggi 10 meter dan satu lagi ada kolam kecil dengan airnya yang sejuk, jernih dan bening.“Dari cerita para tetua yang ada di Kototinggi, air yang ada didalam goa ini sering dipakai sebagai sebagai obat,” beber Desri lagi.

Lebih jauh Desri mengungkapkan bahwa, keindahan goa Aie Singkek tidak hanya memiliki daya tarik ornament stalakmit atau stalaktitnya yang indah menggelantung di dalam goa. Namun, di sekitar lokasi juga ditemukan fenomena alam yang langka yakni ditemukannya Bunga Raflesia.

“ Beberapakali, disekitar goa Aie Singkek ini pernah ditemukan Bunga Raflesia. Sayang, lokasi wisata sejarah dan wisata alam goa Aie Singkek ini belum tersentuh oleh Pemerintah atau Dinas Periwisata yang berwenang memangani potensi wisata ini. Masyarakat berharap kedepannya, fenomena dan keindahan alam Kototinggi ini dapat dikenal khalayak umum, sehingga suatu saat daerah ini akan menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Limapuluh Kota yang layak dikunjungi setelah objek wisata Lembah Harau, Kelok Sembilan dan Padang Mangateh” harap Desri.

Desri mengakui, Nagari Kototinggi juga dikenal sebagai daerah bersejarah dalam perjalanan bangsa ini, karena pernah menjadi menjadi Ibukota Negara Indonesaia ketiga setelah Jakarta dan Yogjakarta atau dikenal sebagai pusat Pemerintahan Residen Sumatera Barat dan merupakan basis perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) masa agresi Belanda II pada tahun 1948 lalu dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang menjadi Presiden Darurat.

Untuk mengenang perjuangan bangsa itu, di Kototingi telah dibangun Monumen Nasional Bela Negara, yang saat pembangunannya masih terbengkalai.Sebagai masyarakat Kototinggi, ulas Desri, dia sangat berharap keberadaan Monumen Nasional Bela Negara yang pembangunnya masih terbengkalai itu dapat dilanjutkan oleh pemerintah pusat, karena monument PDRI itu sangat penting artinya untuk mengenang perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda.

Selain membangun Monumen Bela Negara yang berlokasi di Jorong Sungai Siriah, rencananya juga akan diikuti dengan pembangunan berbagai fasilitas seperti pembangunan Miniatur Rumah Adat seluruh Indonesia, sarana prasarana pariwisata dan pendidikan sejarah perjuangan serta hotel.

“Jika rencana pembangunan itu terwujud, maka tidak tertutup kemungkinan nagari Kototinggi bakal menjadi daerah kunjungan dan kedepannya akan berkembang menjadi kota satelit,” harap Desri.

Diakui Desri, Nagari Kototinggi selain dikenal sebagai daerah bersejarah dan pada zaman kolonial Belanda dulu pernah menjajdi daerah tambang emas di Manggani, saat ini juga dikenal sebagai sentra perkebunan jeruk dengan sebutan Jeruk Siam Gunung Omeh (Jesigo).

“Saat ini keberadaan kebun-kebun jeruk Jesigo sudah menjadi objek wisata keluarga yang banyak dikunjungi para wisatawan yang sengaja datang untuk menikmati secara langsung lezat dan manisnya jeruk Jesigo yang dapat dipetik langsung dari batangnya dilahan perkebunan miliki masyarakat,” ulas Dersi.

Apabila pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan Nagari Kototinggi, ulas Desri, maka daerah ini pasti akan menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi yang dapat diandalkan untuk peningkatan ekonomi daerah. Semoga! (doddy sastra)