Sebelum Peristiwa Maut Terjadi, Ini Minta Warga

0
5800

Limapuluh Kota, Dekadepos.com

Jika saja jajaran Pemkab Limapuluh Kota cepat tanggap menyikapi gejolak yang terjadi di lokasi berdarah Nagari Taram, yang telah menewaskan seorang warga Nagari Pilubang, Kecamatan Harau, Erwin (34) dan melukai 2 korban lainnya yakni anggota DPRD Limapuluh Kota Tedy Sutendi dan adik kandungnya Tito warga Nagari Taram, mungkin peristiwa membawa maut akibat perebutan tanah ulayat itu dapat diatasi. Pasalnya, jauh sebelum peristiwa maut itu terjadi Walinagari dan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Pilubang sudah mengirim surat keberatan atau sanggahan kepada Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pemkab Limapuluh Kota, agar tidak melakukan program pembangunan jalan baru atau rehabilitasi jalan produksi yang berlokasi di Kapalo Banda Taram melalui Air Suci menuju Pilubang, tempat terjadinya peristiwa maut tersebut.

Surat sanggahan yang di kirimkan Walinagari Pilubang, Firdaus dan Ketua KAN Nurdalis Dt. Majo Indo tersebut, selain ditembuskan kepada Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Kepala Dinas PU, Kapolsek dan Camat dan Danramil Kecamatan Harau itu, dinyatakan tanah lokasi dibangunnya jalan oleh pemkab Limapuluh Kota memanfaatkan dana pokok pikiran (pokir) anggota dewan itu, diklaim tanah ulayat masyarakat Nagari Pilubang dan masalahnya sudah dilaporkan kepada Polres Limapuluh Kota berdasarkan laporan polisi nomor: LP/K/74/V/2016/SPKT/RES-LPK tertanggal 16 Juli 2016 lalu.

Ternyata, sanggahan dan keberatan Walinagari dan KAN Pilubang tersebut tidak mendapat perhatian serius dari jajaran Pemkab Limapuluh Kota. Buktinya, program pembangunan fisik sarana jalan dibiayai dengan dana APBD terus saja dilakukan jajaran Pemkab setempat di atas tanah ulayat yang sedang sengketa antara ninik mamak Nagari Pilubang dan Tedy Sutendi yang juga mengaku sebagai pemilik sah atas tanah ulayat tersebut.

Menurut informasi yang diperoleh, keresahan warga Nagari Pilubang memuncak ketika pemkab Limapuluh Kota melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, melakukan program pembangunan jalan lingkung dari Air Suci Sawah Like Jorong Tanjung Atas Taram tahun anggaran 2017. Sebelum proyek pembangunan jalan yang bersumber dari pokok pikiran (pokir) anggota DPRD Limapuluh Kota, Tedy Sutendi itu dimulai pekerjaannya, warga sudah melakukan protes agar proyek senilai Rp 189.550.000 dengan SPK No.131.03/PPK-LP/PJJP-BM/PUPR-LK/2017 tanggal 24 Juli 2017 dikerjakan CV. Paliko itu dihentikan.

Sayangnya, gejolak sosial yang terjadi antara masyarakat Nagari Pilubang dengan masyarakat Nagari Taram itu, terlambat diatasi sehingga terjadilah peristiwa berdarah menewaskan seorang warga Nagari Pilubang dan melukai 2 warga Nagari Taram itu. (Est)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here