Tim Penegak Perda Jaring Belasan Anak Punk

0
96

Payakumbuh, Dekadepos.com 

Tim Penegak Peraturan Daerah (Perda) Kota Payakumbuh kembali melakukan razia dan berhasil menjaring belasan Anak Abru Gede (ABG) yang diduga merupakan Anak Punk. Razia tersebut dilakukan setelah Tim menerima laporan dari masyarat terhadap aktivitas anak Punk yang dinilai telah meresahkan. Mereka yang beraktivitas di pusat pertokoan blok Barat Lantai II (Exs.Pertokoan Aprilia) Kota Payakumbuh dinilai sudah menjadi ancaman terhadap keamanan dan kenyamanan pedagang dan pengunjung pasar. Dari bau menyengat kencing dan berak sembarangan hingga diduga kumpul dilakoni anak Punk. Terungkap dari patroli Satpol PP Kota Payakumbuh Senin (10/7) pagi dinihari, berhasil mengamankan 13 orang anak punk. Mirisnya dari 13 orang anak punk itu, dua orang diantaranya adalah perempuan. “Kita menerima keluhan dari masyarakat terkait aktivitas anak punk di Pasar pertokoan Blok Barat. Lalu kita lakukan razia dari Minggu malam hingga senin pagi. Kita dapati ada 13 orang anak punk dilokasi, dua diantaranya wanita,” sebut Kasat Pol PP Kota Payakumbuh, Davitra didampingi Kasi Ops Ricky Zaindra dan Komandan Regu Jamril usai mengamankan 13 anak punk Senin (10/7) pagi.

Disampaikan kasat, ditempat aktivitas anak Punk itu tercium bau Pesing diduga  anak punk juga menjadikan lokasi itu sebagai tempat kencing dan buang air besar bahkan disinyalir juga kumpul kebo. Dari 13 anak punk yang diamankan 9 orang diantaranya berasal dari Payakumbuh, 3 orang dari Kabupaten Limapuluh Kota, 1 orang dari aceh. “Setelah berhasil kita amankan, kemudian kita bawa ke kantor POl PP untuk dilakukan pendataan. Kemudian kita serahkan kepada Dinas Sosial untuk dilakukan pembinaan. Kemudian kepada orangtuanya diminta untuk datang menjemput anak-anaknya,”sebutnya.

Hasil interogasi dan pendekatan yang dilakukan Pol PP bersama petugas dari Dinas Sosial sebut Davitra satu orang perempuan inisial SZ asal Kabupaten Dharmasraya yang tinggal di Tanjuang Pati, bersedia untuk dibina di panti Sukarami Andam Dewi, Kabupaten Solok.

Dari pengakuan anak punk, banyak faktor yang menyebabkan mereka memilih jalan sebagai anak punk. “Mereka tidak bisa kita salahkan sepenuhnya. Karena dari pengakuan yang disampaikan kepada kita, rata-rata mereka berasal dari kelurga bermasalah (broken). Jadi ada yang dibina ada juga yang dijemput orangtuanya setelah membuat perjanjian,” Tutp Davitra. (Esha Tegar). 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here