Wabup 50 Kota Dianugerahi Penghargaan YOKATTA Nobel Awards 2017

0
15

Lima Puluhkota, Dekadepos.com

Dinilai konsisten menyuarakan perjuangan tokoh pendiri republik, Tan Malaka, serta melestarikan sejarah tentang Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Wakil Bupati Limapuluh  Kota, Sumatera Barat, Ferizal Ridwan, dinobatkan sebagai penerima penghargaan YOKATTA Golden Award 2017. Penghargaan dari salah satu majalah berita nasional YOKATTA News tersebut diterima Wabup Ferizal dalam sebuah acara penganugerahan di Hotel Grand Mercure, kawasan Kemayoran Jakarta Pusat, Senin (22/5) malam. Ia menjadi salah satu wakil kepala daerah, penerima anugerah nobel bergengsi tersebut. Dalam acara penganugerahan yang dipandu langsung oleh MC kondang, Choki Sitohang malam itu diumumkan, bahwa Ferizal Ridwan berhasil memenangkan penilaian atas kategori tokoh Pelestarian Sejarah, Tan Malaka, dan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Sebab, pihak YOKATTA News menilai Wabup Limapuluh Kota, selama ini merupakan seorang tokoh daerah yang sangat getol bekerja serta berupaya menyuarakan serta mengedukasi soal sejarah kepahlawanan Tan Malaka dan PDRI.

“Alhamdulillah, kita menjadi satu-satunya wakil kepala daerah, penerima penghargaan YOKATTA Nobel Award pada tahun ini,” kata Ferizal Ridwan seraya memperagakan penghargaan yang diterimanya kepada wartawan di kantor bupati Limapuluh Kota, di Sarilamak, Selasa (23/5).

Ferizal mengaku, penghargaan atas pelestarian nilai sejarah Indonesia yakni tokoh pendiri republik, Tan Malaka dan PDRI, merupakan sebuah penilaian objektif sebuah perusahaan media independen, atas kinerja tokoh-tokoh daerah Sumatera Barat yang sudah berbuat dalam hal pelurusan sejarah. Seperti tuntutan kompensasi atas hak-hak kepahlawanan bagi daerah yang menjadi basis PDRI sebagai mata rantai berdirinya bangsa Indonesia. “Tak hanya penghargaan, ucapan terima kasih harusnya kita haturkan kepada seluruh tokoh Sumatera Barat yang ikut berjasa. Adapun saya disini, posisinya cuma mewakili,” ucap Ferizal Ridwan.

Selain Ferizal Ridwan, penghargaan YOKATTA Nobel Award 2017 itu juga diterima sederet nama tokoh daerah hingga nasional. Mulai dari Menteri Desa Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo dengan kategori sebagai Tokoh Pembaruan Kemajuan Desa. Kemudian juga, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna H Laoly, sebagai Tokoh Pembaruan Lembaga Pemasyarakatan, Menteri Pariwisata Arief Yahya sebagai Tokoh Pembaruan Promosi Pariwisata Indonesia, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohanna Yambise sebagai Tokoh Pembaruan Perlindungan Anak dan Perempuan.

Adapun, Gubernur Jabar H Ahmad Heryawan ditetapkan sebagai Tokoh Pengembangan Wirausaha Baru, Gubernur NTT Frans Lebu Raya sebagai tokoh pembangunan infrastruktur pertanian, Bupati Pasuruan H M Irsyad Yusuf pada kategori Agrowisata. Setelah itu, bupati Lombok Tengah H. Moh. Suhaili FT meraih kategori Pariwisata Bahari. Bupati Penajam Paser Utara Yusran Aspar pada kategori pengembangan UKM, Bupati Nias Shokhiatulo Laoly kategori Pembangunan Infrastruktur Pedesaan, Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar pada kategori Penegakan ibadah sholat Subuh berjamaah, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw pada kategori Pembinaan Umat Beragama.

Penghargaan Nobel Award itu diserahkan langsung oleh pemimpin umum majalah nasional Yokatta News, YO Keng Hoat. Ia menyebut, pemberian penghargaan bertujuan untuk memotivasi para pejabat negara agar senantiasa berjuang merealisasikan program kerja nyata untuk kesejahteraan rakyat. “Kesungguhan dan kerja keras pejabat negara dalam memenuhi kebutuhan masyarakat melalui program pembangunan di bidang tertentu, sudah sewajarnya diberikan penghargaan dan pengakuan yang setinggi-tingginya,” terang YO.

Lebih  jauh YO menjelaskan, pemberian penghargaan dilakukan secara profesional dan objektif. Pihaknya sudah melalui beberapa tahapan penilaian. Untuk menentukan nominasi, pihaknya membentuk panitia award, yang terdiri dari puluhan wartawan dengan tugas utama yakni memonitor kinerja pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. Panitia Yokatta Awards 2017 dalam melakukan risetnya secara konsisten telah mendesain komponen penggalian data dalam tiga tahapan, yaitu wawancara mendalam, pemuktahiran data dan konsultasi dengan tim penilai. (Esha Tegar).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here