Pasangan LGBT yang Ditangkap di Solok Baru Datang dari Lampung, Pengakuannya Mengejutkan

oleh -5.031 views

SOLOK, Dekadepos.com

Pasangan LGBT yang ditangkap sedang berbuat mesum dalam rumah ibadah di Nagari Cupak pada Senin dini hari (2/3) lalu, Merupakan Warga Lampung yang merupakan anak dibawah umur yang juga korban “Broken Home”.

Dia juga merupakan korban brokem home atau perceraian dan merupakan warga Lampung.

Sementara pelaku utama, berinisial EPS (23) diterapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polres Solok.

“Tersangka EPS diduga Sudah mencabuli korban di dalam sebuah Musalla di Jorong Pasa Baru Nagari Cupak,” terang Kapolres Solok, AKBP Azhar Nugroho, melalui Kasat Reskrim Polres Solok, AKP Deny Akhmad, Kamis (5/3).

Sementara itu, korban diserahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Solok untuk menjalani pemulihan mental usai mengalami pelecehan seksual oleh pelaku. Selanjutnya korban diserahkan keorang tuanya di Nagari Aia Dingin. 

Saat ini korban sudah dibawa oleh Dinas Sosial untuk diberi pemulihan mental dan menghilangkan trauma dan stres, serta percaya dirinya.

EPS melakukan pencabulan terhadap korban RA (13) dengan cara memaksa. Perbuatan cabul EPS dilakukan di sebuah Musalla Dagang Balerong di Jorong Pasar Baru, Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok

“Kejadian bermula saat EPS dan korban izin kepada pengurus dan warga sekitar untuk menginap di dalam surau karena kemalaman dan kehabisan ongkos untuk pulang mencari orang tua korban yang katanya tinggal di Nagari Aie Dingin. Keduanya datang ke surau tersebut pada Minggu (1/3) malam,” sebut AKP Deny Ahmad.

Mereka menumpang menginap di Mushalla di Cupak, karena kemalaman dan kehabisan ongkos mau mencari orang tua yang tinggal di Aia Dingim.

Oleh Masyarakat Cupak, mereka diizinkan menginap di mushalla. Namun pengurus curiga, disaat mereka menginap, lampu dimatikan dan pengurus mendengar ada suara mendesis dari dalam mushalla.

Rupanya kecurigaan pengurus dan pemuda, terbukti. Saat digerebek, keduanya dalam keadaan bugil dan sedang melakukan hubungan sejenis atau LGBT.

“Kita nemang sudah menghimbau kepada Bapak Jorong dan Warga, agar waspada kepada setiap orang baru yang masuk ke Nagari kita. Sebab bisa saja mereka berniat mau berbuat kriminal,” terang Fatmi Bahar.

Walinagari juga sangat menyayangkan bahwa kedua pelaku telah menodai tempat ibadah umat Islam.

 “Pasangan sesama jenis ini, kedapatan sedang melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseksual), bertempat di Mushalla Dagang Balerong, Nagari Cupak,” sebut Walinagari Cupak, Fatmi Bahar Dt. Tuo.

Selanjutnya oleh masyarakat pasangan mesum ini dibawa ke kantor Walinagari dan kemudian diserahkan ke Polres Solok.

Saat diproses, ternyata RA, hanya korban dan dipaksa oleh pelaku EPS dan oleh penyidik diserahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Solok. Selanjutnya, Dinas Sosial juga menyerahkan korban ke orang tuanya di Nagari Aia Dingin, Kecamatan Lembah Gumanti.

Walinagari Aia Dingin, Patrizal, menyebutkan bahwa korban RA sudah diantar orang Dinas Sosial ke orang tuanya di Nagari Aia Dingin.

“Sebenarnya korban RA merupakan warga Lampung. Namun karena Bapaknya berasal dari Aia Dingin dan sekarang berumah tangga di Nagari Surian, lalu korban bermaksud mencari orang tuanya di Aia Dingin dan mereka berdua pergi ke Aia Dingin bersama pelaku. Namun karena kemalaman dan kehabisan ongkos, mereka numpang menginap di Nagari Cupak, dan pada saat itulah peristiwa memalukan itu terjadi,” terang Patrizal.

Walinagari juga menyebutkan bahwa RA juga merupakan korban broken home atau perceraian orang tua. Sebab orang tua perempuan RA berasal dari Lampung dan sekarang jadi TKW di Singapura. Sementara orang tua kelaki korban sudah menikah lagi di Surian.

“Ya, disaat bermaksud mencari orang tua inilah korban dicabuli. Korban baru saja datang dari Lampung,” terang Patrizal.

Sementara itu, tokoh masyarakat Nagari Cupak, H. Hasan Basri, berharap pelaku dan orang tuanya meminta maaf kepada warga Cupak dan umat Muslim, karena sudah menidai tempat ibadah.

“Kita tentu berharap pelaku meminta maaf kepada seluruh masyarakat Nagari Cupak, karena sudah berbuat noda di tempat ibadah dan membuat malu warga Cupak,” terang Hasan Basri 

Sementara Bupati Solok, H. Gusmal, mengau ikut Prihatin yang mendalam dengan kejadian tersebut.

“Kita merasa sedih dan prihatin dengan kejadian ini. Ini benar-benar sudah memalukan. Setahun yang lalu kita di Kabupaten Solok pernah melakukan Muzakarah Ulama, ingin menemukan penyebab ada nya LGBT ini. Cuman kita belum tau apa penyebab utamanya, yang pasti memang pendalaman agama yang kurang,” sebut H. Gusmal.

Bupati juga berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi di Kabupaten Solok dan Sumbar.(jarbat)