Pemuda Payakumbuh, Ciptakan Kosmetik Dari Kakao

oleh

Payakumbuh,dekadepos.com

Kakao merupakan tanaman yang memiliki nilai jual tinggi. Selain dijadikan sebagai olahan coklat yang memiliki nilai jual tinggi, biji kakao ternyata juga bisa dijadikan olahan kosmetik, kok bisa?

Adalah Wilmar Roshadi, anak muda kreatif asal Kelurahan Sawahpadang Aurkuning (Sapaku) Kecamatan Payakumbuh Selatan yang memiliki inovasi tersebut. Melalui tangan dinginnya, kakao yang awalnya hanya bisa dikonsumsi, kini dikembangkan menjadi produk kosmetik. Tak hanya satu, Cak Datuk (sapaan akrab Wilmar-red) berhasil menciptakan beberapa produk kosmetik dari kakao.

“Alhamdulillah, dari kakao kita bisa menciptakan produk pomade yang dapat menyuburkan rambut. Selain pomade, hasil olahan kakao juga kita kembangkan menjadi masker dan lulur coklat,” ujar Cak Datuk saat dihubungi, Jumat (22/02)

Untuk mendongkrak penjualan, Cak Datuk telah memperkenalkan inovasinya ke berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Payakumbuh dan jajarannya. Dikatakan, dirinya telah bertemu langsung dengan Walikota Payakumbuh beberapa waktu lalu.

“Kami sengaja mengunjungi bapak walikota. Selain bersilaturahmi, saya juga memperlihatkan hasil inovasi baru dari olahan coklat yang telah kami kembangkan bersama warga di Kelurahan Sapaku,” ujar Cak Datuk.

Ditambahkan, “Kita ingin ekpansi untuk skala produksi lebih besar, namun masih tekendala pendanaan dan tempat. Oleh karena itu kami meminta dukungan dari bapak walikota dan jajaran beliau,” tambahnya.

Cak Datuk berharap, ekspansi produksi yang akan dilakukannya akan mampu membuka lapangan kerja, khususnya bagi warga Kelurahan Sapaku.

Sementara, Walikota Payakumbuh Riza Falepi sangat mengapresiasi dan menyambut hangat inovasi yang dilakukan Cak Datuk dan warga Kelurahan Sapaku.

“Luar biasa, saya sangat apresiasi perkembangan dan inovasi baru yang ada di Kelurahan Sapaku. Insyaallah saya akan mendukung penuh terobosan yang sudah dirancang dan akan membantu apa saja yang dibutuhkan untuk pengembangan pabrik dan produk kecantikan tersebut” ujar Riza saat dihubungi via ponsel, Jumat (22/02).

Dari penuturan, Cak Datuk ternyata tidak hanya memproduksi kosmetik dari kakao. Dikatakan, dirinya juga membuat kerajinan dari berbagi hasil olahan sampah seperti plastik, batok kelapa dan juga bambu.

“Kami juga membuat kerajinan atau souvenir dari olahan sampah, seperti jam tangan dari batok kelapa, lampu belajar dari bambu dan masih banyak. Produk seperti ini sangat diminati oleh turis mancanegara dengan nilai jual tinggi. Kita sudah kirim ke Bali, Lombok dan beberapa tempat wisata nasional lainnya,” ungkap Cak Datuk.

Gelar Cak Datuk sendiri merupakan gelar kehormatan yang diperoleh Wilmar dari orang tuanya. Diketahui, Wilmar berdarah campuran Minang-Jawa. Ibunya asli Sawah Padang, Payakumbuh, sementara sang ayah berasal dari Jawa Timur.

“Kebetulan saya juga diangkatkan sebagai Panungkek di kaum saya. Sebelumnya di Surabaya saya di panggil dengan sebutan Cak. Maka jadilah nama panggilan saya Cak Datuk,” pungkas Wilmar “Cak Datuk” Roshadi. (edw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *