Kondisi Jalan ke Jorong Banjarsari Memprihatinkan

oleh

LIMAPULUH KOTA, dekadepo.com –

Kondisi jalan ke Jorong Banjarsari, Nagari Labuah Gunung, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota sepanjang 1 km memprihatinkan.

Hasil pantauan media baru-baru ini merekam, jalan tersebut masih tanah ditumbuhi rerumputan, hanya tersisa berbentuk jalan setapak untuk dilewati kendaraan roda dua tanpa bisa dilewati mobil.

Bila warga Jorong Banjarsari hendak berbelanja dan menjual hasil pertanian mereka ke pasar Gadut, Kecamatan Lareh Sago Halaban, mereka lebih memilih jalan ke pasar Alang Laweh, Nagari Halaban dengan jarak yang berlipat. Karena jarak tempuh ke Jorong Banjarsari dari Jorong Kayutanam nagari yang sama, mencapai sekitar 9 km dengan kondisi jalan yang memiriskan.

Walinagari Labuh Gunung, KH.Dt.Paduko Rajo Lelo, ketika dihubungi di kantornya beberapa hari yang lalu, mengakui jalan rusak yang belum dibangun menuju Jorong Banjarsari. Jalan itu ada yang sudah dikerekel dan merupakan jalan tanah berumput selebar 2 meter. Tapi untuk lewat sepeda motor hanya selebar jalan setapak.

Selain itu, sebagian jalan ke Banjarsari kondisinya beragam, ada jalan aspal, macadam, jalan rabat beton dan ada pula yang sudah habis aspalnya yang kini tinggal kerikil. Untuk membangun jalan yang 1 km itu diperlukan bantuan Pemkab Limapuluh Kota melalui Dinas PU/PR setempat. Karena jika dikerjakan dengan dana desa tidak akan mencukupi dananya, ulas Walinagari.

Dikatakannya, jumlah penduduk Jorong Banjarsari, terdapat sekitar 58 kepala keluarga, sebagian berprofesi sebagai petani.”Bila jalan ke Jorong Banjarsari, yang tinggal 1 km tersebut dibangun, kita harapkan hubungan dari pusat pemerintahan Nagari Labuh Gunung ke pusat Jorong di Banjarsari bakal semakin lancar.

Warga setempat tak perlu lagi menempuh perjalanan jarak jauh jika berurusan ke pemerintahan nagari yang berada di simpang ampek Labuh Gunung,”ulas KH.Dt.Paduko Rajo Lelo.

Selain itu jalan tersebut, bakal membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, seumpama mengankut air niro maupun saka enau, karena Labuh Gunung sebagai sentra saka enau maupun gula semut.

Menurut Ninik mamak itu, sebagian mereka juga berperan sebagai pedagang pengumpul membeli air niro langsung ke masyarakat pemilik pohon enau, sehingga mampu mendukung perekonomian masyarakat,”tuturnya. (edw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *