Mengintip Pengolahan Gula Semut di ‘Nagari Tuak’ Labuah Gunuang

oleh

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com-

Nagari Labuh Gunung, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, sudah lama terkenal sebagai sentra tanaman pohon enau atau aren. Jangan heran, demikian banyaknya tanaman enau di nagari yang berada dipinggang kaki Gunung Sago itu, maka  nagari setempat  tercatat sebagai daerah penghasil air niro terbesar di Kabupaten Limapuluh Kota.

Menurut keterangan sejumlah warga di Nagari Labuah Gunung, keberadaan air niro adalah sebagai bahan utama untuk memproduksi gula semut dan saka niro. Kegiatan mengolah air niro menjadi saka niro dan gula semut itu, sudah lama menjadi mata pencarian warga setempat. Disamping usaha pengolahan air niro menjadi gula semut atau saka niro, ada yang dikelola secara pribadi untuk dijadikan bahan baku minunan tuak.

“ Akibat banyaknya warga mengolah air niro menjadi minuman tuak, maka kami pasrah menerima ketika nagari kami dijuluki  sebagai ‘ Nagari Tuak’, karena memang tiap hari pedagang tuak mendapatkan air niro sebagai bahan baku pembuatan minuman tuak, diperoleh dari Nagari Labuah Gunung, “ ujar Walinagari Labuah Gunung KH.Dt.Paduko Rajo saat diwawancarai di kantornya belum lama ini.

Diakui Walinagari Labuah Gunung KH.Dt.Paduko Rajo, besarnya potensi pengolahan air niro dinagarinya ini, utamanya di Jorong Talaweh, atas dukungan Pemkab Limapuluh Kota melalui Dinas Perdagangan dan Industri telah dibangun pabrik pengolahan Gula Semut yang dikelola oleh Kelompok Tani Mutiara.

Menurut Walinagari  Labuah Gunuang, KH.Dt.Paduko Rajo Lelo, sekitar 40 persen dari jumlah penduduk nagari setempat, sebanyak 5.383 lebih warga berprofesi sebagai petani pengelolah pohon enau untuk air niro. Usaha tersebut mampu meningkatkan ekonomi mereka dari pengelolaan gula semut.

Menurut dia, sebagai nagari penghasil gula semut terbanyak di Kabupaten Limapuluh Kota. Sehingga di Nagari Labuah Gunung berdiri satu unit pabrik gula semut yang kini sebagian sudah rampung dibangun.

“Tahun ini rencananya ada penambahan anaggaran untuk pebangunan pabrik tersebut yang dibangun pemkab Limapuluh Kota, melalui Dinas Perdagangan dan Industri,” ungkapnya.

Dengan adanya pabrik gula semut di Jorong Talaweh Labuah Gunuang, ujar KH.Dt.Paduko Rajo Lelo, diharapkan masyarakat tidak lagi menjual air niro yang berasal dari pohon aren untuk bahan tuak, melainkan dijual ke BUMNag yang akan dijadikan produksi gula semut. BUMNag akan memasarkan produksi gula semut tersebut.

Ditegaskan KH.Dt.Paduko Rajo Lelo, masyarakat akan memaksimalkan potensi besar dari pohon aren yang berjumlah belasan ribu batang yang tumbuh di banyak tempat. Air niro akan diproduksi menjadi gula semut, hingga siap dikonsumsi dan dipasarkan berupa produk Gula Semut. Selain penghasil gula merah, Jorong Talaweh Labuah Gunuang yang terletak di lereng Gunung Sago itu, punya potensi mengembangkan produksi lain.

“Setelah pabrik rampung seluruhnya, tidak boleh lagi warga menjual air niro mentah ke pedagang pengumpul, tapi akan ditampung BUMNag. Namun bila masih ada warga yang nakal menjual niro mentah untuk tuak, maka nagari akan memberikan sanksi denda sebanyak niro harga yang dijual,” aku KH.Dt.Paduko Rajo Lelo.

Ditambahkan KH.Dt.Paduko Rajo Lelo, para penggiat usaha air niro yang nantinya akan tergabung dalam Gapoktan, dapat terus menjaga kualitas air niro yang diambil, sehingga produksi gula semut yang dihasilkan pabrik berkualitas baik, begitu juga dengan usaha saka enau tidak akan dihentikan bahkan ditingkatkan mutunya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Mutiara, Almanik, yang dihubungi di Jorong Talaweh baru baru ini, dan menyaksikan proses pembuatan gula semut dan saka enau mengungkapak bahwa Kelompok Tani Mutiara beranggotakan 25 orang, mempunyai kebun enau 3 ribu batang lebih. Belum lagi milik perorangan masyarakat setempat, yang juga memiliki pohon enau ribuan batang. Untuk mengantisipasi maraknya peredaran tuak, utamanya di Lareh Sago Halaban, maka Kelompok Tani Mutiara, memunculkan usaha mengelola air niro untuk memproduksi gula semut dan saka niro.

“Usaha tersebut, kita lakukan selain untuk meningkatkan pendapatan anggotanya, juga untuk menghindari air niro dijual kepedagang pengumpul sebagai bahan tuak,”  ujar Almanik yang dihubungi di Talaweh baru baru ini dan menyaksikan proses pembuatan gula semut dan saka enau.

Dikatakan, kelompoknya mampu menghasilkan air niro sebanyak 80 jeriken per hari. Satu jeriken 35 liter harganya Rp2 ribu per liter. Bila air niro dijual mentah satu jeriken dihargai pedagang pengumpul dengan harga Rp70 ribu. Namun kalau dijadikan gula semut satu jeriken dengan menambah biaya kerja menghasilkan 4,5 kg gula semut, hanya terjual Rp 75 ribu. Makanya masih ada air nero langsung dijual mentah oleh penduduk setempat.

Ditambahkannya, banyaknya lahan kebun enau warga yang sudah menghasilkan air niro, tak pelak lagi sebagian air niro milik perorangan tersebut, kemungkinan besar dijadikan untuk bahan tuak dan bahan baku kecap, sebab belum sepenuhnya hasil niro di Jorong Talaweh yang terserap oleh kelompok Mutiara.

Jorong Talaweh salah satu dari 7 jorong yang ada di Labuh Gunung, namun lahan enau 70 persen berada di jorong Talaweh. Kelompok Tani Mutiara sudah memproduksi gula semut yang sudah mempunyai hak paten dengan nama Gula Semut Guseta (Gula Semut Talaweh) baru mampu memproduksi 30 kg gula semut perhari. Masih rendahnya angka produksi, karena pasaran gula semut belum tersebar luas. Artinya, saat ini hanya untuk konsumen pasar lokal dijemput sendiri oleh pedagang pengumpul dan konsumen. (edw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *