Jual Gambir Ke PT. Sri Masyarakat Bakal Didenda

oleh

Limapuluh Kota, Dekadepos.com

Gonjang-ganjing kehadiran salah satu perusahaan Pemodal Asing (PMA) di Kabupaten Limapuluh Kota mulai mendapatkan aksi penolakan dari komponen masyarakat, bahkan berujung dengan sebuah keputusan berupa denda bagi masyarakat yang menjual daun gambir ke PT. SRI yang berada di Jorong Banja Ranah Nagari Pangkalan.

Hal tersebut diungkapkan Wali Nagari Pangkalan, Rifdal Laksamano didampingi Wali Jorong Banjar Ranah, Rio Hendra, Jumat pagi 14 Juni 2019. Menurut keduanya, kesepakatan tersebut dibuat pada Senin 10 Juni 2019 sebuah Musholla di Jorong Tersebut. Dalam Rapat tersebut juga dihadiri Bagus Banjaranah, Niniak Mamak dan Tokoh Masyarakat, unsur pemuda dan lainnya.

Dalam kesepakatan tersebut disetujui bahwa jika masyarakat tetap menjual/mengirim daun gambir ke PT. SRI akan Didenda Rp
1 juta untuk motor /becak dan Rp.2 juta untuk mobil dalam sekali penjualan.

” Iya, memang beberapa waktu lalu ada kesepakatan dari unsur masyarakat Nagari Pangkalan yang melahirkan beberapa keputusan terkait persoalan gambir di daerah ini, dan memang ada sanksi denda ada masyarakat yang melanggar hasil keputusan yang ditandatangani puluhan masyarakat itu.” sebutnya.

Rifdal yang juga pernah menyurati Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Limapuluh Kota terkait Limbah PT. SRI itu juga mneyebutkan bahwa kesepakatan tersebut mulai berlaku sejak ditandatangani.

Beberapa hal yang disepakati tersebut adalah :
1. Masyarakat Banjaranah tidak Boleh menjual / mengirim daun gambir ke PT. SRI selama belum ada keputusan dari PT. SRI untuk bersosialisasi dengan masyarakat Jorong Banjaranah.
2. Masyarakat diluar Jorong Banjaranah juga dilarang untuk menjual / mengirim daun gambir ke PT. SRI selama belum ada keputusan dari masyarakat Banjaranah.
3. Jika masih ada salah seorang

Sementara Rio Hendra, menambahkan bahwa munculnya persoalan tersebut karena masyarakat di Jorong Banjaranah terpaksa kehilangan mata pencarian sebagai tukang kampo (pengolah daun gambir menjadi berbentuk baku/jadi) karena perusahan tidak lagi membeli gambir dalam bentuk jadi dan hanya membeli daun gambir saja.

” Iya, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan sebagai pengampo gambir karena perusahaan hanya membeli dalam bentuk daun gambir saja, sebab selama ini banyak masyarakat yang tidak punya ladang gambir dan menggantungkan hidup dipekerjaan tersebut.” sebutnya.

Komoditas Gambir selama ini dikenal sebagai salah satu bahan pewarna, kecantikan dan obat-obatan. Naik turunnya harga gambir sangat berdampak kepada kesejahteraan masyarakat setempat. (Edw).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *