Petani Gambir Nagari Pangkalan Minta PT.SRI Ditutup

oleh

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com –

Puluhan petani gambir di Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Kotobaru, Kabupaten Limapuluh Kota meminta kepada pemkab setempat untuk menutup usaha pengolahan gambir milik PT. Sumatera Resources Internasional (PT.SRI), karena keberadaan pabrik gambir milik Pemodal Asing (PMA) asal India itu, dikecam telah mendatangkan kesengsaraan bagi masyarakat, utamanya para petani gambir yang ada di daerah itu.

Dihadapan Kepala Dinas Penanaman Modal Peyanan Terpadu dan Perindustrian (DPM PTTP) Limapuluh Kota, Ambardi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Limapuluh Kota, Irvan AM, Forkopinca Pangkalan, Walinagari, Bamus dan tokoh masyarakat yang digelar di aula pertemuan kantor Walinagari, Jum’at 15/6) juga dihadiri manajemen PT SRI, tokoh masyarakat nagari Pangkalan menyatakan bahwa, izin pendirian usaha pabrik pengolahan gambir milik PT.SRI diduga ada rekayasa.

“Rekomendasi untuk mendapatkan izin usaha pengolahan gambir di nagari Pangkalan direkayasa. Buktinya, rekomendasi persetujuan masyarakat Nagari Pangkalan yang dilampirkan dalam izin usaha tersebut, tidak ada stempel resmi Walinagari, KAN dan Ketua Pemuda, “ ujar sejumlah tokoh masyarakat yang hadir dalam rapat konsolidasi tersebut

Selain mempersoalkan soal perizinan, masyarakat setempat juga mengecam sikap perusahaan PT.SRI yang hanya baik diawal saja dan hanya memberikan janji-janji manis saat pengurusan izin

“Awalnya, harga jual daun gambir kepada PT.SRI. dibayar dengan harga tinggi yakni mencapai Rp 8 ribu perkilonya. Namun seiring berjalannya waktu, harga daun gambir terus menurun dan kini dibeli hanya seharga Rp 1500 perkilo. Ini tidak sesuai lagi dengan janji-janji pihak PT.SRI dan sudah membohongi masyarakat, ungkap sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Sementara itu tokoh masyarakat lainnya mempersoalkan limbah padat cair hasil pengolahan gambir yang dibuang atau dialirkan oleh pihak perusahaan PT.SRI ke sungai Ulu Kasok.

“Limbah pabrik tersebut telah merusak lingkungan masyarakat Nagari Pangkalan. Padahal, keberadaan air sungai Ulu Kasok sampai saat ini masih dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan MCK, kolam ikan dan peraiaran persawahan.

STOP JUAL DAUN GAMBIR KE PT.SRI

Puncak kekesalan warga atas sikap manajemen PT.SRI yang tidak memenuhi janji-janjinya untuk meningkatkan ekonomi petani gambir, maka sebagai protes keras atas sikap manajemen PT.SRI, warga masyarakat Nagari Pangkalan membuat kesepakatan melarang masyarakat menjual daun gambir kapada PT. SRI.

Tak hanya itu masyarakat di luar Jorong Banjar Ranah juga dilarang untuk menjual dan mengiri8m daun gambir ke PT. Sri selama belum ada keputusan dari masyarakat Jorong Banjar Ranah. Jika mamsih ada salah seorang yang menjula atau mengirim daun gambir ke PT.SRI dan melanggar keputusan masyarakat maka akan didedan Rp 1 sapai Rp 2 juta.

Sementara itu Walinagari Pangkalan, Rifdal Laksamano dalam pertemuan tersrbut dengan nada lantang minta kepada Pemkab Limapuluh Kota untuk menyelesaikan kisruh yang terjadi anatara masyarakat nagari pangkalan dengan PT. SRI.

“ Terkait harga daun gambir yang terlalu murah dan merugikan petani termasuk masalah pembuangan limbah padat dan cair ke sungai agar segera dihentikan, karena telah merusak lingkungan masyarakat,” ujar Rifdal Laksamano.

Sementara itu Kepala Dinas Penanaman Modal Peyanan Terpadu dan Perindustrian (DPM PTTP) Limapuluh Kota, Ambardi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Limapuluh Kota, Irvan AM, dalam pertemuan tersebut meminta kedua pihak untuk menahan diri sembari mencari jalan untuk menyelesaikan tuntutan masyarakat ini akan dilakukan  rapat lanjutan.

Usai rapat konsulidasi, Kepala DPM PTTP Limapuluh Kota, Ambardi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Limapuluh Kota, Irvan AM dan Forkopinca, Walinagari Pangkalan bersama tokoh masyarakat melakukan peninjauan ke lokasi pabrik PT.SRI untuk melihat secara dekat sistim pengolahan limbah yang dikeluhkan warga. (edw)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *