Wagub Sumbar Tanam Perdana Di Kebun Jagung M. Rahmad

oleh

Limapuluh Kota, Dekadepos.com

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit didampingi sejumlah pihak melakukan tanam perdana di Kebun Jagung Percontohan Muhammad Rahmad di Jorong Talago, Baruah Kubang, VII Koto Talago, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota, Senin pagi 12 Agustus 2019.

Selain hadir langsung, Muhammad Rahmad yang disebut-sebut sebagai Kandidat Bupati Limapuluh Kota, juga hadir Ketua DPRD Limapuluh Kota Denis Asra, Anggota DPRD Limapuluh Kota Khairul Apit, OPD Terkait Propinsi Sumbar dan Limapuluh Kota, Walinagari VII Koto Talago, Jorong, Tokoh Masyarakat Luak Limo Puluah, Sevindra Juta, H. Desra, dan sejumlah tokoh masyarakat Limapuluh Kota lainnya, niniak mamak, bundo kandung dan masyarakat petani dan peternak di Limapuluh Kota.

Dalam sambutannya di kegiatan itu, Muhammad Rahmad menyampaikan bahwa Limapuluh Kota akan menjadi sentra penghasil Jagung terbesar di Propinsi Sumatera Barat ke-depan. Dengan memberdayakan potensi lahan tidur seluas 62 ribu hektare yang tersebar di 79 Nagari di Limapuluh Kota, maka akan dapat menghasilkan jagung 1,2 juta ton dalam satu tahun. Dijelasnnya, dari uji coba tanaman jagung percontohan ini, nantinya akan dilakukan analisa dasar tentang biaya produksi, teknik pengelolaan sampai panen, dan tatacara bertani jagung sesuai standarisasi pabrik bibit.

Dikatakannya, pengelolaan kebun percontohan itu langsung dilakukan oleh masyarakat dibawah binaan Jorong dan Walinagari. Karena itu, Walinagari  akan menjadi lokomotif penggerak dalam produksi jagung sebagai sentra informasi tata cara bercocok tanam jagung. “Kita optimis jika sektor tanaman jagung ini benar-benar dapat dikembangkan, maka Kabupaten Limapuluh Kota dapat menjadi pusat produksi Jagung terbesar di Sumatera Barat, dengan penghasilan minimal 13,8 trilyun rupiah per tahun,” jelas Tokoh Masyarakat Limapuluh Kota ini.

Dengan begitu disampaikan M.Rahmad, perekonomian dan kesejahteraan masyarakat akan meningkat, pengangguran dapat ditekan siknifikan, dan 26.930 orang yang saat ini hidup dibawah garis kemiskinan di Kabupaten Limapuluh Kota, akan terbebas dari kemiskinan. Diakui Muhammad Rahmad, jagung adalah komoditi penting yang sangat dibutuhkan. Tiap tahun, setidaknya Sumatera Barat membutuhkan 3,1 juta ton jagung kering. Hasil produksi jagung Sumatera Barat baru 986 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan, Sumatera Barat terpaksa membeli jagung dari luar daerah sekitar 2,1 juta ton.

Dia mencoba menghitung secara matimateka, jika harga jagung per kilo 3.500 rupiah, maka tiap tahun, Sumatera Barat membelanjakan uang keluar daerah sekitar 7,4 trilyun rupiah untuk jagung.

“Ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan. Bagaimana agar uang 7,4 trilyun rupiah yang selama ini digunakan untuk membeli jagung keluar daerah, mulai diarahkan untuk membeli jagung di daerah sendiri,” turut Tokoh muda enerjik murah senyum dan ramah ini.

Disampaikannya, Jagung mungkin komoditi yang dianggap kurang menarik oleh sebagian masyarakat. Khususnya terkait dengan harga jual yang dirasa rendah, yakni 3.150 – 4.000 rupiah per kilogram. Bila dihitung dengan rumus ekonomi, sesungguhnya jagung memberikan profit atau keuntungan sekitar 47 % per sekali panen.

Dengan modal 20 juta rupiah, dalam masa 3 bulan, uang 20 juta rupiah akan menghasilkan 29 juta rupiah. Jika uang modal itu terus diputar selama 5 tahun, maka diakhir tahun ke 5, uang sudah menjadi 1,9 milyar rupiah.

“Bandingkan dengan uang 20 juta rupiah yang disimpan masyarakat dalam bentuk tabungan selama 5 tahun. Diakhir tahun ke 5, uang tabungan itu hanya akan berjumlah 20 juta 700 ribu rupiah. Jika uang 20 juta disimpan dalam bentuk deposito selama 5 tahun, maka diakhir tahun ke 5, uang deposito itu akan berjumlah 26 juta 300 ribu rupiah,” jelasnya.

Dalam konteks ini, maka bertanam jagung adalah cara yang paling cepat bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang sangat menjanjikan. Jagung bisa tumbuh dengan mudah, dimana saja bahkan diperkarangan rumah sekalipun. Jagung termasuk tanaman yang tidak memerlukan perawatan khusus, dan tidak memerlukan banyak air. Di Kabupaten Limapuluh Kota, saat ini terdapat 54 ribu hektar lebih lahan terlantar, ada 6,6 ribu hektar sawah irigasi tak produktif dan ada 1,5 ribu hektar sawah tadah hujan non irigasi. Total ada 62 ribu hektar lebih lahan nganggur.

Bila lahan tersebut ditanami jagung, maka akan menghasilkan jagung setidaknya 395 ribu ton. Bila diuangkan dengan harga jagung 3.500 rupiah per kilogram, maka total uang yang akan diperoleh masyarakat adalah minimal 13,8 trilyun rupiah.

“Maka strateginya kita perlu aturan, dimana masyarakat dengan mudah mendapatkan bibit, pupuk dan tatacara bercocok tanam, dan kita akan berikan itu dalam bentuk video kepada masyarakat bagaimana bercocok tanam Jagung. Bibit tarok di Nagari, Pupuk ditarok di Nagari, memotong jalur birokrasi yang selama ini eksklusif. Kemudian Dinas sebagai pembina atau suvervisi,” sebutnya.

Sementara Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit mengatakan Pemerintah Propinsi Sumatera Barat sangat mendukung program menggalakkan bercocok tanam Jagung di Limapuluh Kota. Mengingat sebut Ketua DPD Gerindra Sumatera Barat ini, Propinsi Sumatera Barat tidak memiliki Tambang sebagai sumber pendapatan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Sumbar tidak punya tambang, kita hanya punya prodak UKM, pertanian, kuliner dan pariwisata. Sektor peetanian itu yang paling unggul, ini harus dibina, jangan semua kita kaitkan dengan politik. Hari ini kita tidak bisa lagi pencitraan, orang akan ukur kinerja kita. Dan Muhammad Rahmad telah mulai dengan membuat lahan percontohan penanaman Jagung, hendaknya juga diikuti oleh yang lainnya, mari berlomba-lomba dengan program,” sebutnya.

Menurut mantan Bupati Pesisir Selatan dua priode ini, Propinsi Sumatera Barat hanya punya produk UKM, Pertanian dan Kuliner yang lezat. Menurutnya, untuk Kabupaten Limapuluh Kota, produksi pertanian Jagung sangat unggul. Untuk itu, dirinya meminta agar pengelolaan bercocok tanam Jagung ini harus dibina dengan baik, sehingga masyarakat Limapuluh Kota bisa sejahtera dengan hasil pertanian Jagung.

Bahkan Nasrul Abit optimis, bukan hanya sekedar akan memutus mata rantai kemiskinan di Limapuluh Kota, namun produksi Jagung Limapuluh Kota bakal swasembada. Disamping itu, Limapuluh Kota bakal menjadi daerah penghasil Jagung terbesar di Sumbar.

Tokoh masyarakat Limapuluh Kota, Sevindra Juta optimis tanaman Jagung memang cocok di beberapa daerah di Limapuluh Kota. Untuk itu dirinya menyampaikan pendapat agar ada pemetaan wilayah mana yang cocok untuk bertanam jagung. Kemudian masing-masingg daerah jenis tanaman apa yang paling cocok terutama terkait kondisi tanah.

“Harus dipetakan kondisi wilayah kita, kecocokan agrobisnis. Limapuluh Kota yang progresif harus dibangun oleh orang-orang yang progresif. Kemudian masing-masing daerah akan memiliki unggulan, dan akan menjadi sentra,” sebutnya. (Edw).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *