Ada Program ‘Sedekah Sampah’ Bakal Jadi Ladang Amal, Mulai Diterapkan di Kabupaten Limapuluh Kota

oleh

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com-

Sukses memberdayakan program Bank Sampah, Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Rakyat dan Pemukiman (DLHPP) Kabupaten Limapuluh Kota, kembali melahirkan inovasi unik guna merobah pola pikir, prilaku dan kesadasaran masyarakat dalam penanggulangan sampah yaitu program ‘Sedekah Sampah’.

Program apa pula ini? Sampah kok disedekah! Bukankah selama ini sampah menjadi persoalan pelik dan menjadi momok bagi masyarakat, termasuk bagi lembaga yang bertugas menanggani persoalan sampah di banyak daerah?

Ternyata, tidak demikian halnya bagi DLHPP Kabupaten Limapuluh Kota. Di bawah kendali Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah dan Pertamanan, Yuniwal,MT, setelah sukses melahirkan inovasi Bank Sampah, kini DLHPP Kabupaten Limapuluh Kota melahirkan program ‘Sedekah Sampah’.

Menurut Yuniwal, program Sedekah Sampah ini untuk mendukung program Bank Sampah UMESA yang mulai diterapkan di Limapuluh Kota.

“Sedekah Sampah adalah sebuah inovasi yang dilahirkan DLHPP Kabupaten Limapuluh Kota  dalam penanggulangan sampah yang langsung melibatkan masyarakat sebagai produsen sampah. Artinya, sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat akan berdayaguna jika dimanfaatkan dengan baik melalui program Sedekah Sampah, sekaligus bakal menjadi ladang amal karena sampah yang disedekahkan akan menjadi nilai ekonomi bagi petugas sampah atau pemulung dengan sistim daur ulang,” ujar Yuniwal yang sekaligus dipercaya sebagai Direktur Bank Sampah UMESA.

“ Alhamdulliah, sejak dicanangkan tanggal 5 November 2019 lalu, program Sedekah Sampah sudah mulai diterapkan di lingkungan masyarakat. Nagari pertama yang melaksanakan program Sedekah Sampah adalah Nagari Situjuah Batua. Sedangkan sekolah pertama yang menjalankan program sedekah sampah ini adalah SMAN I Guguak,” ujar Yuniwal.

Lantas, bagaimana program ‘Sedekah Sampah’ itu dijalankan? Menurut Yuniwal, program sedekah sampah hakekatnya adalah merobah prilaku dan pandangan masyarakat terhadap bagaimana mengelola sampah.

“Walau sudah banyak cara dan upaya bagi pihak pemerintah melakukan penanggulangan sampah, ternyata belum mampu merobah prilaku masyarakat akan pentingnya penanggulangan sampah,” ulas Yuniwal.

Diakui Yuniwal, program Sedekah Sampah hakekatnya adalah meminta kesadaran masyarakat akan pentingnya kepedulian terhadap penanggulangan sampah. Setidaknya, ada tiga hal soal sampah yang harus yang diberikan pemahaman kepada masyarakat. Pertama, jika melihat sampah apakah dibiarkan,dipunggut atau disedekahkan.

“Dari tiga hal ini, pasti orang akan memilih disedekahkan karena akan menjadi ladang amal,” ujar Yuniwal.

Caranya, ulas Yuniwal, di lokasi tertentu disiapkan bak atau karung sampah bertuliskan ‘Sedekah Sampah’. Artinya, dengan kesadaran sendiri, sampah-sampah plastik bernilai ekonomis seperti gelas plastik dan botol plastik dimasukan ke dalam bak atau karung sampah yang telah disiapkan.

Setelah sampah bernilai ekonomis itu terkumpul, akan datang petugas sampah dari DLHPP Kabupaten Limapuluh Kota dan mungkin ada pemulung yang lewat untuk mengambil sampah-sampah bernilai ekonomis tersebut, untuk kemudian dijual ke Bank Sampah UMESA atau ke pedagang barang buruak.

“Jujur, jika program Sedekah Sampah ini berjalan seperti yang diharapkan di semua lingkungan masyarakat, selain akan menjadi ladang amal karena akan mendatangkan nilai ekonomi bagi petugas sampah atau bagi pemulung,” ungkap Yuniwal.

Diakui Yunuiwal, saat ini pihaknya tengah gencar mensosialisasikan program Sedekah Sampah ini ke lingkungan masyarakat, baik melalui pemerintahan nagari, perkantoran pemerintah.

Bahkan, program Sedekah Sampah ini sudah masuk ke lingkungan sekolah dengan cara meminta pihak Kepada Sekolah membuat program peduli sampah seperti halnya telah dilakukan SMAN I Guguak.

Setiap hari Jum’at, pihak sekolah diminta membuat kebijakan agar murid-muridnya membawa satu buah sampah botol plastik untuk disedekahkan. Kemudian sampah plastik yang terkumpul melalui kesadaran murid-muridnya itu akan diberikan kepada petugas sampah untuk kemudian akan dijual ke Bank Sampah.

“Melalui program Sedekah Sampah ini, secara tidak langsung kita telah mengajarkan kepada anak-anak kita atau anak didik kita tentang kesadaran sosial dan kepedulian lingkungan,” ujar Yuniwal.

Dianjurkan Yuniwal, program Sedekah Sampah ini bisa diterapkan oleh pemerintah di tingkat nagari. Artinya, ada kebijakan dari pihak pemerintahan nagari untuk membuat bak sampah atau karung sampah bertuliskan Sedekah Sampah. Ketika sampah bernilai ekonomis itu sudah terkumpul, akan datang petugas sampah atau pemulung untuk memunggut yang pada akhirnya akan bernilai rupiah bagi petugas atau pemulung sampah.

Diakui Yuniwal, saat ini ada jamaah masjid seperti dilakukan jamaah Masjid Istiqomah di Nagari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, menjalankan program Sedekah Sampah untuk membangun masjidnya.

“Alhamdulliah, melalui program Sedekah Sampah ini selain akan menjadi ladang amal, dan secara tidak langsung program ini sudah mampu memberikan nilai positif bagi penanggulangan sampah. Diharapkan program Sedekah Sampah ini bisa membudaya dan diterapkan diseluruh nagari di Kabupaten Limapuluh Kota,” pungkas Yuniwal yang punya slogan; Kalau cara yang sama selalu gagal atau kurang tepat, pakai cara baru. Harus berani berubah. Bersih, hijau dan berkelanjutan. (doddy sastra)   

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *