Anak Daro Pengganti (Part 1)

oleh -444 views
Ilustrasi Anak Daro : (Sumber Foto: Galery Henna dan Seni Kreatif)- Anak daro @chacahawes WO@resha.pelaminan. foto.shop.wo Nice shoot FG @putra_ambaraya

CERPEN

Oleh : Irawati CH

Dengan wajah berseri Zahra mematut dirinya di cermin, dia sangat puas dengan hasil rancangan uni Eli. Baju penganten berwarna kuning gading itu sangat pas di tubuh langsingnya. Setelah puas mencoba baju penganten yang dia pesan dari dua minggu yang lalu. Dia pun beranjak pulang sambil menenteng kantong plastik besar. Wajah cantik itu tak henti-hentinya tersenyum. Dia sangat bahagia. Seminggu lagi dia akan menikah dengan lelaki pujaan hatinya, Ihsan.

Saat akan memasuki halaman rumahnya yang luas. Beberapa orang sibuk memasang tenda berwarna biru di samping sebelah kanan rumah yang cukup besar itu. Ibu-ibu memeras santan kelapa untuk dibuat kalamai dan rendang. Dua buah tungku dengan api yang menyala. Dan dua buah kancah besar di atasnya.

“Hei, Zahra! Ayo masuk. Calon anak daro (pengantin wanita) tidak boleh keluyuran!” kata Mak Leha sambil menuntun gadis berhijab itu masuk.

Zahra menurut dan masuk ke kamarnya. Setelah melaksanakan sholat zuhur, Zahra memeriksa undangan yang akan diantar oleh Fauzi adik lekaki satu-satunya.

Beberapa orang mulai sibuk menghias rumah, terdengar gelak tawa dan canda muda mudi yang sedang memasang kain berwarna merah, kuning dan hijau dengan hiasan emas memenuhi dinding ruangan. Pelaminan sangat indah terpasang disudut halaman depan. Beberapa orang lelaki memasang pentas yang akan di pakai untuk malam bainai. Akan ada kemeriahan saluang bagurau dan randai. Sepertinya pesta besar anak pengusaha tour and travel itu akan sangat meriah.

Seakan-akan seluruh kampung ikut merasakan kebahagiaan Zahra dan Ihsan yang seorang dokter itu.
**
Hari itu semua persiapan sudah selesai. Ini adalah hari pernikahan Ihsan dan Zahra. Mereka akan menikah di mesjid yang berada tidak jauh dari rumah Zahra. Pagi-pagi sekali rombongan urang sumando telah berangkat manjapuik marapulai. Yaitu adat minang, dimana penganten lelaki di jemput oleh pihak keluarga perempuan.

Orang-orang yang menyiapkan keberangkatan itu terkejut saat mendengar teriakan Mak Leha.

Dikamarnya, Zahra menangis. Dia mengaduh kesakitan sambil terus membenturkan kepalanya ke tepi tempat tidur. Darah segar mulai memberi warna pada mukena putih yang dipakainya. Tak henti dia meracau. Dia bahkan tertawa melengking, membuat bulu kuduk berdiri. Matanya liar, memandang kearah jendela yang terbuka. Beberapa orang lelaki berusaha memegangi Zahra yang mulai membuka pakaiannya. Mak Leha histeris melihat anak gadisnya itu.

“Zahra! Sudah nak. Istighfar sayang, ” bujuknya sambil berusaha mendekat. Namun tangan mak Leha di tepisnya dengan kasar, lalu mendorongnya. Tenaga Zahra tidak tertandingi bahkan oleh lima orang lelaki. Mah Leha jatuh membentur sudut lemari. Untuk sesaat dia memegang kepalanya, lalu pingsan. Beberapa orang perempuan membopong tubuhnya keluar dari kamar itu. Wajah mereka terlihat sangat tegang. Mereka melangkah dengan hati-hati, takut akan amukan Zahra.

Beberapa orang mengatakan Zahra terkena sijundai, yaitu semacam santet yang dikirim oleh seseorang yang menaruh hati atau orang yang merasa sakit hati atas penolakan. Konon menurut cerita sijundai dilakukan oleh seorang pria yang merasa sakit hati, pada seorang gadis yang telah lancang atau menghinanya. Dengan menggunakan media ludah dari korbannya.

“Apa mungkin Zahra telah terkena sijundai? ” kata seorang ibu yang menggunakan hijab instan.

“Tidak mungkin ada seseorang yang tega pada gadis sebaik dan seramah Zahra” bantah seorang ibu yang bertubuh gemuk.

Bisik-bisik dan berbagai praduga mulai berdengung di ruangan itu. Kegiatan di dapur telah terhenti.

Pak Lelo Sutan, ayah Zahra terlihat berjalan bersama seorang ustad. Mereka masuk ke kamar Zahra. Sesaat kemudian terdengar jeritan Zahra seperti kesakitan, tubuhnya mengejang. Pak Ustad membacakan ayat kursi dan sholawat Nabi. Kemudian meniupkannya ke segelas air putih. Kemudian dia menyerahkan gelas itu kepada pak Lelo.

“Kalau bisa usahakan dia minum air ini sebanyak tiga teguk. Lalu balurkan ke ubun-ubunnya”.

Pak Lelo mengangguk. Lalu mendekati Zahra yang terlihat mulai tenang, tapi matanya masih liar mengawasi gerak gerik setiap orang yang ada di kamar itu. Setelah meminumkan dan membalurkan air itu ke ubun-ubun Zahra, pak Lelo menyelimuti tubuh putrinya itu. Zahra menurut pada ayahnya itu, saat di suruh tidur dia pun memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian dia terlihat pulas.

Mak Leha yang sudah siuman, mendekati anak kesayangannya itu. Dengan air mata bercucuran, dibelainya pucuk kepala gadis dengan tahi lalat di puncak hidung mancungnya itu.

“Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Hamba yakin Engkau tidak akan menguji hamba-Mu melampai batas kemampuannya. Hamba pasrahkan pada-Mu, Zahra anak hamba. Sembuhkanlah dia. Jagalah dia Ya Allah”

Setelah tiga jam berlalu, Zahra masih tertidur. Pihak keluarga mulai bingung karena rombongan marapulai (pengantin laki-laki) sudah dalam perjalanan. Bagaimana mereka akan mengatakan keadaan Zahra pada rombongan besan. Pak Lelo dan Mak Datuak terlihat sedang berunding. Pukul sepuluh akad nikah akan dilaksanakan namun Zahra belum juga bangun.

Tiba-tiba Zahra membuka matanya dan menangis. Dengan lemah dia berusaha duduk. Namun tenaganya seakan hilang. Tubuhnya seperti tidak bertulang. Mak Leha memeluknya dan meletakkan kepala gadis itu di sandaran tempat tidur. Wajah Zahra terlihat sangat pucat, bibirnya membiru dan gemetaran.

“Zahra dingin, mak”. Katanya dengan lirih. Mulutnya berdesis. “Zahra capek, mak”

“Ayah, Zahra tidak kuat lagi”. Katanya sambil meraih tangan ayahnya dan membawa tangan itu kewajahnya yang terasa beku.

Mak Leha dan pak Lelo tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Mereka menangis sambil terus menuntun gadis itu membaca sahadat.

**

Sementara itu rombongan marapulai mulai meninggalkan kota Padang. Namun Ihsan merasa aneh. Jika tadi malam dia sangat bahagia, tidak untuk saat ini. Hatinya terasa hambar. Ada kesedihan di relung hatinya terdalam. Walaupun wajahnya selalu tersenyum, menyambut uluran tangan para tetangga dan kerabat yang akan melepas kepergiaanya melepas masa lajangnya. Ucapan selamat disambutnya nya seperti angin lalu. Dia berpikir ‘mungkin ini hanya perasaanku saja’ dia tersenyum menyadari kecengengannya akan jauh dari orang tuanya. Setelah menikah otomatis pertemuan dan perhatian akan mulai terbagi. Walaupun dia sudah biasa berpisah dari mereka. Karena Ihsan adalah seorang dokter yang bertugas di Bukittinggi, tempat calon istrinya berada. Teringat Zahra, tiba-tiba Ihsan merasa ada yang tidak beres. Namun dia menepis pikiran buruk itu.