Anak Daro Pengganti (Part 2)

oleh -53 views
Ilustrasi Anak Daro : (Sumber Foto: Galery Henna dan Seni Kreatif)- Anak daro @chacahawes WO@resha.pelaminan. foto.shop.wo Nice shoot FG @putra_ambaraya

Cerbung : Irawati CH

 Zahra semakin lemah. Pandangannya nampak kosong. Dia semakin menggigil. Giginya gemeletuk. Tubuhnya terasa dingin. Bibirnya membiru. Orang-orang membaca surat yaasiin. Sementara itu pak Ustad menuntunnya membaca dua kalimah sahadat.

 

Terlihat Zahra menarik nafas panjang, lalu menghambuskannya kasar. Dadanya yang awalnya terlihat turun naik, tak lagi bergerak. Matanya tertutup. Zahra telah dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan.

 

“Zahra! Bangun, Nak! Jangan tinggalkan amak! ” ratap Mah Leha sambil mengguncang-guncang tubuh Zahra.  Pak Lelo  memeluk istrinya, embun di pelupuk matanya luruh membasahi pipinya.

 

Ya,  Nisa Azzahra, putri sulung mereka telah pergi untuk selamanya. Semua orang menitikkan airmata. Pelaminan nan megah telah menjadi saksi kepergian Zahra.

 

Disaat semua orang sedang berkabung, seorang gadis cantik, bertubuh mungil muncul dipintu. Tanpa mengucapkan salam,  dia menerobos masuk kedalam rumah. Wajahnya terlihat kebingungan. Ditatapnya wajah Ayah dan Amaknya yang terus menangis. Melihat kedatangannya Mak Leha semakin histeris.

 

“Alya. Unimu sudah meninggalkan kita semua. Seharusnya dia memakai baju pengantin itu, ” kata Mak Leha sambil menunjuk baju penganten yang dihanger dekat pintu kamar. “Tapi sekarang kain kafan yang akan dipakainya.” katanya sambil memeluk gadis yang tergugu di depannya. Dilepasnya tas ransel dari sandangan. Kakinya terlihat gemetar. Wajahnya pucat. Dia adalah Alya. Putri kedua Mak Leha dan Pak Lelo. Dia  adik kandung Zahra. Dia baru saja pulang dari Medan. Dia bekerja sebagai bidan disana. Alya pulang ke Bukittinggi untuk menghadiri pernikahan kakak kesayangannya.

 

“Uni Zahra!  Apa yang terjadi pada Uni Zahra amak?”

 

“Sudahlah! Ikhlaskan saja. Ini sudah jalannya. Kita semua menyayangi Zahra, tapi Allah lebih sayang padanya,” kata Mak Datuak sambil mengusap airmatanya kasar.

 

Hujan pun turun dengan sangat lebat. Kota Bukittinggi yang dingin semakin dingin. Rasa dingin itu menjalar ke tulang.

 

Sebuah mobil berhenti di halaman. Semua mata memandang siapa yang datang. Tatapan mereka penuh rasa kasihan. Mereka merasa iba melihat Ihsan. Pemuda itu berjalan santai. Dia tampak gagah dengan jas hitam dan peci dikepalanya. Sebuah sarung berlipat dipundaknya, menambah wibawa pemuda itu. Dia melempar senyum pada semua orang yang berada disana. Ada rasa aneh dihatinya melihat senyum mereka seakan dipaksakan.

 

Baru saja dia akan melangkah kedalam rumah. Suara tangisan menyurutkan langkahnya. Berdiri di ambang pintu. Matanya menyapu seluruh ruangan,  namun tak menemukan sosok yang dicarinya, Zahra. Ia menatap sendu ke arah jenazah yang tertutup kain panjang bermotif pucuk rebung. Dengan gontai dia berjalan, pandangannya kabur. Tenaganya tiba-tiba hilang,  dia tak sanggup lagi melangkahkan kakinya. Dengan merangkak dia menuju jenazah. Membuka selendang putih penutup muka. Airmatanya luruh, dia bahkan tak sanggup bersuara saat melihat siapa yang terbaring tak bernyawa. Dipukul-pukulnya dadanya menahan sesak yang teramat sangat disana. Bu Hanifah,  ibu Ihsan mendekati putranya. Memeluknya, mencoba menguatkan.

 

“Mungkin Zahra bukan jodohmu, Nak. Do’akan dia, semoga tenang disana. Zahra gadis yang baik. Dia tidak akan suka melihatmu begini.”

 

“Tidak, Bundo. Zahra akan bangun,” katanya sambil mengguncangkan tubuh Zahra. “Zahra, bangun! Ini hari yang kita tunggu. Sembilan tahun kita bersahabat,  tak sekalipun kamu meninggalkan Uda. Kamu selalu ada di saat Uda merasa gamang, kamu selalu menguatkan saat Uda merasa sendiri. Tapi kenapa sekarang kamu pergi, Zahra.”

 

Beberapa kerabat menenangkan Ihsan.  Dia duduk bersandar ke dinding. Mukanya di tutup dengan tangannya. Walaupun tanpa suara, tubuhnya berguncang.

 

Mak Datuak dan beberapa kerabat dari pihak Ihsan mulai membicarakan pernikahan. Penghulu telah di mesjid. Namun mendapat kabar calon anak daro meninggal, beliau pun mendatangi rumah duka. Pihak keluarga tak ingin kesedihan Ihsan berlarut-larut. Mereka sepakat tetap melaksanakan pernikahan di depan jenazah Zahra.

 

Tapi siapa yang akan jadi anak daro? Saat itu Alya melintas di depan Mak Datuak. Beliau berpikir kalau Alya yang lebih pantas menggantikan posisi Zahra. Karena selain kecantikannya setara dengan Zahra, dia juga seorang bidan. Pastinya akan serasi dengan Ihsan yang seorang Dokter. Usul dari Mak Datuak di terima dengan baik oleh pihak kelurga Ihsan. Begitu juga dengan keluarga Zahra. Pada awalnya Alya dan Ihsan sama-sama menolak. Namun permintaan Mak Leha meluluhkan hati keduanya.

 

Dengan gaun penikahan Zahra, Alya di dandani seadanya. Gaun itu terlihat pas di tubuh Alya. Alya terlihat cantik dengan make up natural. Namun airmata terus saja membasahi pipinya. Penikahan dilaksanakan di depan jenazah Zahra. Setelah selanjutnya jenazah dimandikan dan disholatkan.

 

Berat rasanya mengantar Zahra ke peristirahatan terakhirnya. Ihsan berjalan beriringan dengan Alya. Di hati Alya, dia merasa telah menghianati sang kakak yang sangat menyayanginya.

 

Setelah acara pemakaman selesai,  Ihsan masih berdiri disana. Di belainya batu nisan yang masih basah itu. Airmatanya kembali berlinang. Seakan malas beranjak meninggalkan tempat itu. Alya duduk di depan Ihsan. Dia juga memandangi batu nisan itu. Pandangannya nanar. Tiba-tiba semua menjadi gelap.

 

Beberapa kerabat yang masih disana berdiri di bawah sebuah pohon durian yang sedang berbunga, terkejut melihat Alya yang tiba-tiba ambruk ke atas gundukan tanah. Reflek, Ihsan menyambar tubuh istrinya itu. Istri? Ah tidak mungkin dia memanggil gadis yang tidak pernah bertegur sapa sama sekali selama ini,  yang telah menjadi istrinya.

 

Di bopongnya tubuh Alya,  menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari pemakaman itu. Dibantu seorang pelayat yang berdiri disana, membuka pintu belakang. Dan meletakkan gadis itu disana. Lalu dia duduk dekat Alya. Dan meminta Pak Sudir, sopir pribadi keluarga Ihsan itu untuk segera pulang.