Anak Daro Pengganti (Part 3)

oleh -79 views
Ilustrasi Anak Daro : (Sumber Foto: Galery Henna dan Seni Kreatif)- Anak daro @chacahawes WO@resha.pelaminan. foto.shop.wo Nice shoot FG @putra_ambaraya

Cerbung : Irawati CH

Setidaknya ada 15 ayat dalam Al-qur’an yang menerangkan tentang jodoh.  Salah satunya seperti yang terdapat dalam surat Yaasin ayat 36, yang artinya sebagai berikut.

 

“Maha suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk semuanya berpasangan, baik apa yang ditambahkan oleh bumi atau dari diri mereka. Ataupun dari apa yang mereka mrngetahuinya.”

 

Dari firman tersebut Allah menjamin kepada hamba-Nya bahwa dia telah menjadikan sesuatu yang ada di bumi berpasang-pasangan. Allah memberikan pasangan tersebut sebagai jodoh untuk jalan beribadah kepada-Nya.

 

Siapa yang menyangka Ihsan putra Chaniago itu akan menikahi Alya Lestari, perjalanannya dari Padang untuk menikahi Zahra, kakak Alya.

 

Sekarang di kamar penganten yang sedianya akan di tempatinya bersama Zahra. Kini gadis berpakaian penganten tergolek tak sadarkan diri. Gadis asing itu yang kini jadi istrinya. Ihsan belum pernah bertemu selama ini. Saat masih bersahabat dan dilanjutkan berta’aruf dengan Zahra,  tak sekalipun dia bertemu dengan Alya. Zahra pernah bercerita kalau dia memiliki seorang adik yang tinggal di Medan bersama Mak Tuonya. Karena Mak Tuonya tidak memiliki anak. Beliau membawa Alya sejak dari Alya berumur 2 tahun.

 

Ihsan duduk di sebuah kursi di sudut kamar,  sesekali di liriknya Alya yang masih pingsan. Namun tidak ada niat untuk mendekati gadis itu. Ihsan terlihat sangat kacau. Matanya merah, begitu juga dengan hidung mancungnya telah berubah merah jambu. Ingatannya kembali kebeberapa jam yang lalu.

 

“Saya terima nikah dan kawinnya Alya Lestari binti Komaruddin dengan mahar seperangkat alat shalat di bayar tunai,” sekali tarikan nafas Ihsan membacakan ijab kabul.

 

“Bagaimana saksi? “

 

“Sah.”

 

“Sah.”

 

Ucapan Alhamdulillah berdengung di ruangan itu. Salah satu sisi hati Ihsan tidak bisa menerima pernikahan ini. Karena tujuannya kerumah ini untuk menikah, tapi bukan menikahi gadis ini. Hatinya masih tertutup pada gadis tomboy itu.

 

Surat menyurat mereka akan menyusul kemudian, karena ada perubahan data-data. Mereka tak mempermasalahkan itu. Alya mencium punggung tangan Ihsan dengan takzim. Ihsan tidak membalas mencium keningnya.

 

“Uda!” Suara itu mengagetkannya. Ternyata Alya telah duduk disisi tempat tidur. Kakinya menjuntai ke lantai. Rambutnya acak-acakan. Sambil mengucek matanya,  Alya melangkah ke arah Ihsan.

 

“Stop!  Berhenti disitu!” katanya tiba-tiba. Gadis itu pun kaget. Tidak menyangka akan mendapatkan bentakan seperti itu.

 

“Ingat. Pernikahan ini hanya untuk memenuhi keinginan keluarga kita, bukan aku. Tolong garis bawahi bukan keinginanku.”

 

Alya mundur,  dia kembali berjuntai di sisi tempat tidur. Airmatanya luruh.

 

“Alya tau, Da. Alya juga datang kemari untuk melihat kebahagian Uni Zahra. Tapi.. “

 

Aneh rasanya berdua dengan laki-laki itu dalam satu ruangan. Walaupun dia saat ini adalah suaminya. Suami?  Suami seperti apa yang tidak menginginkan kehadirannya. Bayangannya kembali ke Medan. Di sana dia memiliki kedekatan dengan putra melayu. Lelaki itu bernama Zulfan, seorang dokter juga.

 

Alya berharap setelah pernikahan Zahra. Dia akan mengenalkan Zulfan kepada orangtuanya. Alya menangis sesengukan. Timbul rasa sesal di hati Ihsan saat melihat gadis itu menangis karena dirinya. Dia merasa gadis itu jauh berbeda dengan Zahra yang lemah lembut dan keibuan. Tapi Alya tomboy dan terlihat tegas.

 

Alya masuk ke kamar mandi, tanpa menoleh pada Ihsan. Tak berapa lama dia keluar dari kamar mandi. Dia terlihat segar. Kulitnya berkilau dengan balutan gamis hitam dan sebuah hijab instan berwarna hitam juga. Alya memakai baju Zahra,  karena dia tidak memiliki baju seperti itu.

 

Tanpa bicara dia keluar dari kamar. Perlahan di tutupnya pintu. Dia ikut duduk bersama amak dan ayahnya di ruangan tengah menerima ucapan belasungkawa juga ucapan selamat atas pernikahannya.

 

****

 

Seminggu setelah pernikahan itu. Ihsan mengajukan pindah tugas ke Padang. Dia ingin melupakan sesaat semua kenangan yang bersama Zahra di sini. Begitu juga Alya. Mak Leha membantu persiapan Alya. Sambil melipat pakaian yang akan di masukkan ke dalam koper Alya,  Mak Leha berkata “Alya, kamu harus jadi istri yang baik buat suamimu. Manjakan lidahnya. Apabila dia suka masakanmu,  maka dia juga akan mencintaimu juga. Hargai dia. Jangan lagi bertingkah seperti anak kecil.”

 

Alya mengambur ke pelukan Mak Leha. “Maafkan Alya,  Mak. Belum bisa membahagiakan amak. Sekarang harus meninggal amak sendiri. Alya akan merindukan anak dan ayah.”

 

“Sudah. Sudah. Tidak usah menangis lagi.”

 

Keesokan paginya, saat matahari mulai naik. Sinarnya menebus ke celah-celah dedaunan. Kicauan burung merupakan suara khas di pagi hari di kampung yang masih asri ini. Ihsan dan  Alya melangkah keluar dari rumah itu. Ihsan memasukkan barang-barangnya dan juga beberapa koper milik Alya ke dalam mobil. Kemudian dia bersalaman dengan ayah dan ibu mertuanya. Saat Ihsan membalikkan badannya tiba-tiba Pak Lelo memeluknya erat. Ihsan kaget. Namun dia balas memeluk ayah mertuanya itu. Tubuh tua itu berguncang. Suaranya serak.

 

“Ihsan. Ayah titip anak gadis ayah. Tolong jaga dia baik-baik. Sekarang dia satu-satunya anak perempuan ayah.”

 

“Baik,  Yah.” hanya itu yang mampu Ihsan ucapkan. Dia tidak sanggup berjanji banyak pada orangtua itu. Dia takut tidak sanggup memenuhi janjinya. “Do’akan kami, Ayah.” hatinya bergetar.

 

“Tentu, Nak. Tanpa diminta pun kami sebagai orangtua tak akan putus mendo’kan kalian.

 

Setelah bersalaman mereka pun pamit.

 

“Assalamu’alaikum,” kata Alya dan Ihsan serentak. Sesaat mereka saling pandang.

 

“Wa’alaikumsalam. “