Anak Daro Pengganti (Part 4)

Ilustrasi Anak Daro : (Sumber Foto: Galery Henna dan Seni Kreatif)- Anak daro @chacahawes WO@resha.pelaminan. foto.shop.wo Nice shoot FG @putra_ambaraya

Cerbung : Irawati CH

Sepanjang perjalanan menuju Padang,  tak ada pembicaraan. Hening. Ihsan fokus menyetir. Alya pun malas memulai percakapan. Gadis itu asyik memandang ke luar jendela.

Tiba-tiba mobil berhenti pada sebuah rumah makan. Ihsan pun turun tanpa berkata sepatah kata, dia memasuki rumah makan itu dan duduk di pojok. Alya yang merasa diabaikan,  segera turun menyusul lelaki itu.

“Uda,  mau makan kok enggak ngajak Alya?” sungutnya.

“Aku lapar. Kalau kamu mau makan, silahkan!”  kata Ihsan sambil melambaikan tangannya ke arah pelayan.

“Uda,  tambunsu sm rendang. Serta asam padeh,” katanya sambil melirik Alya. “Kamu mau pesan apa? “

“Alya masih kenyang. Alya pesan kopi manis saja.”

Pelayan itu mengangguk.  Lalu berlalu. Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Ihsan makan dengan lahapnya. Alya menelan ludah namun dia jaga gengsi, karena tidak ditawari sama sekali. Diperhatikannya Ihsan yang sedang makan. Kalau dilihat-lihat Ihsan ganteng juga. Kacamatanya bertengger indah di hidung mancungnya. Kulitnya juga bersih.

“Ehem! Ada apa? Kenapa menatap saya begitu lama?” sentaknya. Alya melengos dan berjalan keluar.

‘Gadis Aneh. Dia bahkan tidak malu saat ketahuan sedang menatap seorang pria,’ pikir Ihsan. Dia membayar ke kasir. Setelah itu dia segera masuk kemobil. Di sana sudah ada Alya. Gadis itu sedang sibuk dengan gawainya. Sepertinya dia sedang berkirim pesan dengan seseorang. Wajahnya berubah-ubah. Kadang dia tersenyum adakalanya terlihat sedih. Ihsan tidak mau peduli.

Langit mendung, hujan mulai turun rintik-rintik. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam. Ihsan kembali fokus ke jalan. Sedangkan Alya sibuk dengan fikirannya. Pesan whatsapp yang dikirim oleh Zulfan telah memporak porandakan hatinya.

[Assalamu’alaikum, putri angsa ]

[Wa’alaikumsalam, Pangeran kodok. Lagi apa? ]

[Lagi mikirin kamu. Oh iya, kamu udah bilang sama orangtua kamu kan kalau bulan depan aku akan datang?]

Inilah yang ditakutkan Alya. Apa yang akan Alya katakan pada Zulfan. Mau bohong takut dosa. Dia juga takut menyakiti hati pemuda baik seperti Zulfan. Namun kejujuran adalah yang terbaik. Karena pernikahannya dengan Ihsan telah sah menurut agama dan negara. Dengan airmata berlinang dibalasnya pesan Zulfan.

[Bang,  jangan harapkan Alya lagi. Alya sudah menikah.]

Zulfan yang berfikir Alya sedang bergurau. Meneleponnya berkali-kali. Dilihatnya gawai di tangannya sambil menyusut airmatanya. Ihsan menghentikan mobilnya, dia bingung melihat gadis disampingnya itu menangis.

“Gawai kamu bunyi. Kenapa tidak dijawab?” Alya hanya menggeleng.

“Kenapa nangis?” Alya menghapus airmatanya dengan cepat. Dia tidak sadar kalau sudah menangis di depan Ihsan. Diambilnya gawainya, diblokirnya nomor Zulfan. Sambil tersenyum dia berkata “Ayo, Da. Kita berangkat.”

Tanpa menjawab Ihsan kembali menyetir. Sebelum zuhur mereka sampai di rumah orangtua Ihsan. Alya merasa canggung saat bersalaman dengan Bu Hanifah dan Pak Rajo. Di sana juga ada adik Ihsan, Ilham dan istrinya Nurma.

Mereka menyambut hangat kedatangan Alya dan Ihsan. Alya dengan mudah bisa berbaur dengan keluarga itu. Mereka sama sekali tidak pernah menyebut nama Zahra. Ilham yang humoris berbanding terbalik dengan Ihsan yang seperti kulkas berjalan.

Ihsan memindahkan koper-koper miliknya dan Alya ke kamar di lantai atas.

“Pergilah beristirahat Alya! Ikuti suamimu!” kata Bu Hanifah. Alya melangkah pelan di belakang Ihsan. Saat dia memasuki kamar yang lumayan luas itu,  Alya tidak melihat Ihsan di sana. Koper mereka masih terletak di dekat pintu. Alya duduk di sisi tempat tidur sambil membuka hijab pasminanya dan melepas rambutnya. Kota Padang terasa panas. Dia merasa gerah dan ingin mandi. Saat akan ke kamar mandi dia berpapasan dengan Ihsan. Rambut lelaki itu terlihat basah, wajahnya juga segar. Sepertinya dia sudah mandi. Dia terlihat tampan dengan memakai baju koko berwarna hijau muda dan kain sarung dengan warna senada.

“Alya!” suara berat itu memanggilnya.

“Eh. Iya, Da,” sahut Alya. Dia menghentikan langkahnya namun tidak berani membalikkan badannya. Dadanya berdegup sangat kuat.

“Susun baju-baju kamu di lemari itu. Masih ada sisi yang kosong. Saya akan ke mesjid,” kata Ihsan sambil meraih gagang pintu.

“Itu. Eng. Anu. Aku nanti tidur dimana?” tanya Alya yang terlihat gugup.

Telunjuk Ihsan menunjuk ke arah tempat tidur.

“Uda tidur dimana?”

“Alya, Seingat saya kita sudah menikah. Ya,  saya juga tidur di sini,” kata Ihsan. Wajahnya terlihat jengkel. Mata Alya menyapu setiap sudut ruangan itu. Dia tidak melihat sofa yang bisa di pakai Ihsan buat tidur. Selama seminggu mereka di rumah Alya, Ihsan selalu tidur di sofa.

“Kecuali kalau kamu mau tidur terpisah, silahkan cari kamar yang lain.” gerutunya sambil meraih peci dan meninggalkan Alya yang bersungut-sungut sambil menyusun baju-bajunya. Rencananya untuk mandi terpaksa dia tunda sejenak.