Anak Daro Pengganti (Part 5)

oleh -40 views
Ilustrasi Anak Daro : (Sumber Foto: Galery Henna dan Seni Kreatif)- Anak daro @chacahawes WO@resha.pelaminan. foto.shop.wo Nice shoot FG @putra_ambaraya

Cerbung : Irawati CH

Setelah sholat magrib,  Alya berencana turun, dia ingin ke dapur. Siapa tau ada yang bisa dia bantu di sana. Dia merasa bosan di kamar. Baru saja dia akan berjalan membuka pintu, pintu itu sudah terkuak dengan sendirinya. Kemudian menampakkan wajah yang paling menyebalkan, Ihsan. Alya mundur memberi jalan kepada Ihsan. Tanpa mempedulikan kehadiran Alya,  lelaki itu membuka kemejanya dan menyisakan kaos dalam, lalu duduk di pinggir ranjang. Seketika Alya terpaku melihat pemandangan di depannya. Ternyata pria yang telah jadi suaminya itu bertubuh atletis dan sangat tampan tanpa kacamatanya. Pesonanya mengalahkan Sahrukh Khan,  artis Bolywood yang jadi idola Alya.

‘Untung sudah menikah,  jadi tidak takut dosa kalau di pandangi lama,’ pikir gadis itu.

“Sampai kapan kamu akan berdiri di situ?” Sentak Ihsan yang membuyarkan pikiran nakal Alya. “Duduklah!  Ada yang ingin Uda katakan,” katanya sambil menepuk tempat tidur disisi kirinya.

Tanpa bicara,  Alya berjalan sambil menundukkan wajahnya. Kakinya terasa berat. Dadanya berdebar kencang. Dia merasa kikuk saat berdekatan dengan lelaki kulkas itu. Sambil menggigiti jari-jarinya Alya duduk tidak jauh dari Ihsan. Ihsan sepertinya tidak menyadari perubahan sikap gadis tomboy itu atau dia memang tidak mau tau.

Dia menyodorkan beberapa lembaran merah. “Ini, untuk pegangan kamu,” Alya terlihat ragu-ragu saat menerima uang itu. “Jangan salah paham, mulai sekarang semua kebutuhan kamu adalah tanggung jawab saya. Dan keuangan kita adalah tanggungjawab kamu yang mengatur.” Alya menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Ihsan mengangguk, lalu berdiri.

“Ayo ke bawah, kita makan malam,” katanya sambil melangkah keluar. Alya mengikutinya dari belakang. Di ruang makan semua orang telah berkumpul. Kedua orangtua Ihsan, Ilham dan istrinya. Tak ada suara saat makan. Setelah makan,  Ilham dan istrinya pergi ke kamar mereka,  setelah sempat berbasa basi dengan Alya. Sedangkan Ayah dan Ibu duduk di depan TV. Alya mengikuti langkah Bu Hanifah. Lalu duduk dekat beliau.

“Alya,  terimakasih kamu telah mau jadi menantu ibu. Kamu harus lebih sabar menghadapinya. Dia sebenarnya baik,” Alya hanya tersenyum dan mengangguk.

“Ya udah,  kamu istirahat ya, Nak,” kata Bu Hanifah lagi. Alya hanya mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Sesampai di kamar di dapatinya Ihsan sedang sholat. Alya pun masuk ke kamar mandi,  membersihkan dirinya dan bersiap untuk sholat.

Saat dia keluar dari kamar mandi,  dia melihat Ihsan sedang berdo’a. Lelaki itu berurai air mata, pundaknya berguncang. Tanpa suara,  Alya membentang sajadah dibelakang Ihsan dan memulai sholatnya. Ihsan yang menyadari kehadiran Alya, mengusap airmatanya dan berdiri sambil melipat sajadah.

Setelah sholat isya, Alya melaksanakan sholat sunat dan meraih Al-Qur’an diatas meja. Dia mulai membaca huruf demi huruf dengan suara lirih. Namun terdengar sangar merdu. Setelah membaca dua halaman,  dia melipat mukena dan sajadahnya.

Saat itu dia melihat Ihsan sedang tidur membelakanginya. Dia pun perlahan naik ke tempat tidur, gerakannya perlahan sekali. Takut membangunkan pemuda itu. Alya pun tidur membelakangi Ihsan. Pada awalnya matanya tidak mau terpejam. Alya memang susah beradaptasi di tempat baru. Namun suasana malam dan nyanyian jangkrik melenakan tidurnya.

Seperti kebiasaannya Alya selalu terbangun pada sepertiga malam untuk melaksanakan tahajjud. Namun dia tidak melihat keberadaan Ihsan. Kemana lelaki itu?  Ah sudahlah!  Biarkan saja. Pikir Alya. Setelah melaksanakan tahajjudnya dengan khusuk,  Alya kembali membaca Al-Qur’an. Pikiran dan hatinya terasa sangat tenang dan nyaman. Alya sudah pasrah dengan takdirnya. Dia berjanji akan menjadi istri yang baik dan akan belajar mencintai lelaki yang sangat mencintai almarhumah uninya itu.

Alya memutuskan untuk tidak tidur,  dia segera ke dapur. Menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang. Meracik nasi goreng kesukaannya dan membuat kue-kue dari bahan-bahan yang ada, karena Alya belum sempat belanja.

Setelah Alya selesai memasak, dia menatanya di meja makan. Azan subuh pun berkumandang dari masjid yang tidak berapa jauh dari rumah. Saat dia akan bersiap untuk sholat,  tiba-tiba Ilham yang akan ke dapur mengambil minum,  mencium aroma harum dari masakan Alya. Dia pun berjalan mendekati Alya yang saat itu hanya mengenakan baju tidur tangan panjang, dari bahan yang agak tipis. Alya bahkan lupa mengenakan hijabnya. Menyadari pandangan Ilham yang terlihat aneh,  Alya pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Namun Ilham menahan langkahnya. Ilham mencengkram tangan gadis berambut panjang itu. Alya kaget. Dia berusaha menarik tangannya. Pergelangan tangannya memerah. Dengan airmata bercucuran dia berlari ke kamarnya, mengambil Wudhu dan sholat shubuh. Akhirnya Alya pun tertidur di atas sajadah.

Alya terbangun saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Alya kaget saat melihat Ihsan duduk di sampingnya. Alya kembali teringat pandangan mata Ilham yang jelalatan memandangnya. Refleks dia menghambur kepelukan Ihsan. Ihsan merasa heran dengan sikap gadis itu.

“Uda. Alya takut,” katanya disela isakannya.

“Kamu bertemu Ilham di dapur?” tebak Ihsan. Dia tau betul tabiat adiknya yang pengangguran itu. “Kata Bundo, kamu tadi sudah masak di dapur.”

Alya hanya mengangguk sambil menarik tubuhnya. Mukanya memerah. Dia malu sekali telah bersentuhan dengan lelaki es itu.

“Sabar ya,Alya. Uda Akan segera membawa kamu pindah dari rumah ini, kalau kamu tidak nyaman dengan Ilham. Mulai hari ini,  Uda akan sholat di rumah, uda akan belajar jadi imam kamu. Kita harus percaya dengan takdir kita. Allah telah mentakdirkan kamu sebagai jodoh uda. Uda akan menjagamu seperti Zahra. Sudah siang, ayo sarapan,” Alya merasa takjub mendengar kata-kata yang panjang lebar dari Ihsan. Baru kali ini lelaki itu berbicara sepanjang itu itu dengan Alya.