Anak Daro Pengganti (Part 6)

oleh -28 views
Ilustrasi Anak Daro : (Sumber Foto: Galery Henna dan Seni Kreatif)- Anak daro @chacahawes WO@resha.pelaminan. foto.shop.wo Nice shoot FG @putra_ambaraya

Ihsan telah berpakaian rapi. Kemeja biru tua dan celana bahan katun dengan warna senada, membuat penampilannya terlihat segar. Sebuah tas ransel hitam di tangannya. Berjalan menuruni anak tangga. Suara sepatunya seperti memecah kesunyian pagi itu. Alya yang menyibukkan dirinya dengan aktifitas beres-beres di dapur, bergegas menjumpai suaminya itu. Pada saat yang bersamaan Nurma dan Ilham juga keluar dari kamar mereka.

“Ihsan, aku ikut sama kamu, ya. Mobilku lagi di bengkel,” kata Ilham sambil merangkul pinggang istrinya. Mereka beriringan menuju pintu depan.

Ihsan mengangguk sambil menyambar kunci mobil di atas meja ruang tamu. Alya mengikutinya dari belakang. Dia juga ingin melepas suaminya bekerja, seperti yang dilakukan Nurma. Nurma tersenyum manis, saat Ilham mengecup keningnya sebelum pergi. Sedangkan Ihsan hanya menganggukkan kepalanya kearah Alya. Lalu berjalan cepat menuju mobilnya. Membunyikan klakson dan hilang diantara rumah-rumah yang berjejer.

Dengan perasaan yang sulit diartikan Alya berjalan ke kamarnya. Dia sadar,  dirinya tak diharapkan. Pernikahan ini memang bukan atas landasan cinta, dia hanya pengganti almarhumah sang kakak, agar pelaminan tidak kosong. Tapi apakah salah jika Alya mulai berharap agar mereka saling mengakrabkan diri. Berusaha saling menerima pernikahan yang tidak disengaja ini. Seperti halnya Alya, yang mulai melupakan Zulfan dan mulai membuka hati untuk suaminya.

Alya percaya,  perjodohan ini karena Allah dan Semua yang terjadi adalah takdirnya. Alya juga yakin Allah akan melunakkan hati suaminya itu, untuk bisa menerima takdir mereka. Alya akan bersabar menunggu hari itu tiba.

***

Entah kata apa yang cocok mendefinisikan hubungan ini.  Sudah hampir dua minggu mereka berstatus suami istri. Sudah sah dan tercatat. Namun komunikasi mereka masih sangat kaku. Bahkan Alya tidak tau fungsinya disana sebagai apa?  Sebagai istri atau sebagai pajangan saja.

Ihsan memang memperlakukan Alya dengan baik, kata-kata ketus sudah jarang keluar dari mulutnya. Dia juga memberi nafkah yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan Alya. Namun Alya masih sering mendapati Ihsan menangis dalam do’a-do’anya. Alya juga sedih, dia rasakan sesak dirongga dadanya melihat suaminya itu. Kadang dihatinya menaruh rasa cemburu pada Zahra, yang telah mengambil hati Ihsan sepenuhnya.

Bahkan pertemuan mereka sangat jarang,  Ihsan berangkat bekerja di pagi hari dan pulang tengah malam Hanya menyapa sekilas, lalu pergi lagi. Alya bahkan tidak tau di kamar mana suaminya itu tidur. Alya hanya mendapati Ihsan saat shalat berada di kamar itu.

Alya merasa sudah tidak betah di rumah ini. Dia ingin sekali pulang ke Bukittinggi,  menceritakan semuanya pada Amaknya, Mak Leha. Setidaknya disana dia punya aktifitas, menemani Mak Leha ke ladang atau ke sawah. Daripada menunggu suami yang tidak mengharapkannya, bahkan meliriknya saja tidak pernah. Kalau saja Ihsan mengizinkan dia ingin bekerja, setidaknya dia tidak sebosan ini.

Alya mengambil ponselnya, dan melihat foto-fotonya bersama Zahra. Wajah mereka sangat mirip, walaupun Alya tidak selembut Zahra.

Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Alya menghapus airmatanya dengan ujung jilbab instannya. Lalu membuka pintu. Saat pintu terbuka menampakkan wajah yang mulai familiar akhir-akhir ini.

“Uda, baru pulang?” sapanya berbasa-basi. Saat akan mencium tangan Ihsan, Alya tidak tau Ihsan tidak menyadarinya atau memang sengaja menghindar. Tanpa memperhatikan tangan Alya yang terulur, dia langsung ngeloyor ke kamar mandi.

Alya masih mematung saat Ihsan keluar dari kamar mandi.

“Kok sepi?  Pada kemana?”

“Ayah sama ibu pergi kerumah Angku Menan anaknya akan di pinang hari ini.” kata Alya sambil berjalan keluar. Saat akan menuruni anak tangga, dia kembali membalikkan badanya.

“Uda, mau minum apa?”

“Air putih saja.”

“Mau aku ambilkan makanan sekalian?”

“Tidak usah, masih kenyang.”

Alya berjalan ke dapur. Tak berapa lama dia kembali membawa segelas air putih dan sebuah mampan berisi kue-kue, lalu duduk di samping Ihsan.

“Uda, Alya bosan di rumah terus,” katanya sambil memilin ujung hijabnya.

“Lalu?” tanya Ihsan tanpa menoleh.

“Kalau bisa Alya ingin kerja. Siapa tau ada peluang di rumah sakit, Uda.”

Sesaat Ihsan terdiam, lalu menarik nafas panjang. “Besok akan Uda tanyakan,” katanya sambil berdiri. Dia masuk ke kamar mandi lagi. Saat keluar dia terlihat segar, habis mandi rupanya. Mengenakan celana jeans dan kaos oblong warna merah. Dia terlihat tampan.

“Cepat siap-siap kita makan di luar,”

“Apa?”

“Kamu tidak dengar?”

“Kan uda bilang,  kenyang.”

“Ayo cepat! Sebelum aku berubah pikiran,”

“Iya, Uda,” kata Alya sambil masuk ke kamar mandi. Dasar Ihsan,  dia tidak tau membedakan permintaan dengan perintah. Namun hati Alya terasa hangat saat ini. Dia mengganti bajunya di kamar mandi, lalu keluar dengan gamis hijau toska dan hijab yang senada. Mengoleskan bedak seadanya dan lipstik berwarna natural. Alya terlihat sangat cantik.

Dia menyusul Ihsan yang sudah berada di dalam mobilnya. Kira Alya, dia akan membawanya ke rumah makan biasa. Namun Ihsan membawanya ke pusat perbelanjaan.

“Sekalian beli keperluan kamu,” katanya seakan paham dengan keheranan Alya.

Kalau cuma ayam goreng Alya bisa masak sendiri, tapi lumayan bisa menghabiskan waktu bersama. Siapa tau mereka bisa semakin dekat.

“Ilham, masih sering mengganggumu?” tanya Ihsan tiba-tiba. Alya menggeleng ragu-ragu. Ilham sering membuatnya merasa takut.

Setelah membayar makanan, mereka berbelanja kebutuhan, Alya sangat teliti dalam belanja. Membandingkan beberapa produk dan melihat tanggal kadaluarsanya. Ihsan mendorong keranjang belanja. Mereka benar-benar seperti pasangan serasi. Saat akan membayar dekat kasir. Tiba-tiba seorang gadis berhijab mendekati Ihsan dan menepuk pundaknya pelan.

“Uda Ihsan. Betul Uda Ihsan kan?” sapa gadis bargamis merah itu.

Sesaat Ihsan tertegun. Tak berapa lama dia pun tersenyum. Alya melihat itu, Ihsan bahkan belum pernah tersenyum semanis itu padanya. Lelaki itu tidak bisa menutupi kegembiraannya saat melihat gadis berlesung pipi yang berdiri di depannya.

“Rara,” Ihsan tidak mungkin lupa dengan gadis itu. “Apa kabar kamu?” katanya sambil melihat sekeliling Rara.

“Aku baik,  Uda,” katanya sambil melihat ujung sepatunya

“Mana suamimu?”

Gadis itu hanya diam. Dia menatap Ihsan dengan pandangan yang sulit diartikan.