Anak Daro Pengganti (Part 7)

oleh -29 views

Cerbung : Irawati CH

“Mana suamimu?”

“Itu! Lagi ke toilet,” katanya sambil menunjuk ke sebelah kiri. Dulu,  Rara adalah gadis yang sempat mengisi hati Ihsan. Dia adik dari Ridwan, sahabatnya saat SMA. Namun rasa itu tak pernah diungkapkannya dengan kata-kata, hanya berupa perhatian-perhatian kecil. Rara juga seperti menyimpan rasa yang sama. Gadis itu sering minta ditemani ke acara-acara sekolahnya. Namun saat mengenal Zahra, Rara bukan lagi gadis yang jadi prioritasnya.

 “Uda sama siapa?” tanya gadis itu menggagetkan Ihsan.

“Sama istri,” kata Ihsan, kata istri diucapkannya dengan sedikit lirih. Alya sudah selesai dengan belanjanya. Dua kantong besar ada di tangannya. Saat melihat Alya,  wajah Rara seperti terkejut. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya lalu segera pamit pada Ihsan. Gadis itu berjalan buru-buru dan hilang diantara para pengunjung mall.

“Uda!” Alya menggamit lengan Ihsan. Dia juga mengikuti arah pandangan suaminya itu. “Ada apa, Uda?” tanyanya, matanya menyipit.

“Eh, ti tidak apa-apa Al. Kamu sudah selesai belanjanya?” tanya pemilik iris coklat itu.

“Ayo pulang!”

Alya mengekori langkah lelaki itu. Dia sedikit kewalahan membawa belanjaan mereka. Ihsan yang menyadari Alya telah tertinggal jauh. Berdiri menunggu gadis itu, dia merasa kasihan juga melihat gadis mungil itu membawa beban berat di kedua tangannya. Setelah Alya di dekatnya, tanpa berkata-kata dia mengambil alih barang bawaan Alya. Alya tampak senang. Dia tersenyum sumringah sambil menyeka bulir-bulir keringat di dahinya.

“Uda,  Alya mau ke toilet sebentar.”

“Ya udah, Uda tunggu di mobil,” katanya sambil berjalan meninggalkan Alya. Alya bergegas kearah toilet. Sebenarnya Alya tidak kebelet sama sekali. Dia melihat gadis yang ngobrol bersama suaminya tadi, tempat dia dan Ihsan makan ayam goreng tadi. Dan gadis itu bersama Ilham. Mereka terlihat tidak canggung satu sama lainnya. Adik kembar suaminya itu memegang erat jemari gadis dengan tahi lalat di pipi kiri. Sesekali mencium kening gadis itu. Rara mendekati mereka dengan dan berdiri di belakang sebuah patung besar seorang koki yang sedang memegang paha ayam. Gadis manis itu mengambil gawai di tasnya. Mengarahkan kamera ke arah pasangan itu dan mengambil beberapa buah gambar. Setelah dirasa cukup dia segera pergi, takut mereka menyadari kehadirannya.

***

Sampai di rumah menjelang azan Isya, Alya langsung membongkar barang belanjaannya di dapur. Memasukkan sayur dan daging ke dalam kulkas. Dia memisahkan barang pribadi miliknya dan Ihsan.

Dari sudut matanya Alya melihat Ihsan berjalan memasuki dapur dan duduk di kursi yang menghadap ke dapur.

“Uda, mau makan lagi?”

“Tidak. Tolong buatkan kopi saja. Tek Yati belum balik dari kampungnya?”

“Belum. Anaknya sakit,” kata Alya sambil meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di atas meja. Menyusul tiga potong lapis ubi, hasil olahannya.

“Cobain masakan Alya, Uda.”

Bukannya tidak melihat kernyitan di dahi Ihsan,  yang nyata enggan menyantap makanan Itu. Alasannya karena rasanya yang manis tentunya. Namun saat melihat wajah Alya, dengan malas dia mengambilnya  menggunakan garpu dan memakannya dengan setengah hati.

“Gimana, Da? Enak?”

“Lumayan,” sejujurnya rasa kue bikinan Alya memang enak. Rasa manisnya pas di lidah cocok untuk pecinta manis.

***

Sejak pukul enam,  Alya sudah berkutat di dapur. Dia memasak makanan untuk semua anggota keluarga itu. Aroma masakannya menguar di seluruh ruangan. Ikan nila gulai kuning,  kerupuk balado dan sambalado tanak terhidang di meja makan. Saat itu bu Hanifah masuk ke dapur dan melihat Alya yang sedang menggiling kelapa parut untuk membuat anyang daun sampelo (pepaya). Beliau duduk di kursi yang di duduki Ihsan tadi malam. Wanita tua itu masih terlihat cantik. Dengan hijab instan lebar warna hitam dan baju kurung Toska, beliau terlihat segar. Dengan pandangan sedih beliau memperhatikan punggung gadis itu yang bergoyang-goyang saat mencampur bumbu-bumbu anyang ke rebusan daun sampelo. Saat Alya selesai dan ingin menata semua makanan itu di meja,  dia kaget saat menyadari mertuanya memandang dengan airmata berlinang.

“Ibu. Sejak kapan ibu disini? Maafkan Alya tidak menyadari kehadiran ibu,” katanya sambil mengambil gelas dan menuangkan teh manis yang sudah disiapkannya dalam teko.

“Baru saja,  Alya,” kata bu Hanifah sambil menerima gelas yang masih mengepul itu dari tangan Alya.

“Ibu,  mau sarapan?” tanya Alya. Tangannya dengan sigap mengambil piring dan menyendok nasi yang masih mengepul. Bu Hanifah mengangguk. Ada rasa haru di hatinya.

“Sepertinya anyang masakan kamu enak, Nak,”

Alya hanya tersenyum.

“Mana Ihsan?”

“Uda Ihsan tadi ke masjid, Bu,”

Tak berapa lama,  terdengar seseorang mengucapkan salam di pintu depan. Ihsan baru pulang dari masjid. Dia masih mengenakan sarung dan peci. Aroma masakan, menuntun langkahnya ke ruang makan. Tanpa bertanya dia langsung duduk dan mengambil nasi. Alya yang akan mengambilkan nasi untuknya telah kalah cepat dari gerakan pemuda itu. Bu Hanifah memperhatikan anaknya makan. Dia terlihat lahap. Mereka bertiga sarapan bersama, ini pertama kalinya untuk Alya sarapan bersama Ihsan.  Biasanya lelaki itu tak pernah mau sarapan sebelum berangkat kerja. Ayah masih di kampung beliau, di Payakumbuh. Sedangkan Nurma dan Ilham juga ke rumah orangtua Nurma di Lubuk Basung.

Saat sarapan,  sesekali Ihsan memuji makanan yang tersedia. Dia selalu berpikir itu adalah masakan bu Hanifah. Alya dan bu Hanifah hanya tersenyum.

“Ihsan, masakan menantu ibu enak,  kan?” tanya beliau sambil mengulum senyum. Ihsan mengangkat wajahnya. Dia melihat keseriusan di mata wanita yang telah melahirkannya.

“Ini bukan ibu yang masak?”

“Bukan, Nak.”

“Alya, masakan kamu enak.” terlihat ketulusan di mata itu saat mengatakannya.

Alya merasa senang,  kehadirannya mulai di anggap ada. Bukankah tidak ada salahnya jika dia sebagai istri berharap perhatian dari lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Airmata jatuh begitu saja dari pipinya yang mulus. Bu Hanifah melihat itu, namun beliau pura-pura tidak tau. Bergegas Alya mengumpulkan piring-piring kotor dan mengangkatnya ke belakang. Dia tidak mau Ihsan melihat airmata bahagia itu.