Anak Daro Pengganti (Part 8)

oleh -46 views

Cerbung : Irawati CH

Ihsan sedang mengikat tali sepatunya, Saat seorang gadis berhijab modis tiba-tiba muncul dihadapannya. Ihsan mendongakkan kepalanya, dan menemukan sosok Rara yang tersenyum menyapanya. Ihsan cepat-cepat menunduk dan melanjutkan kegiatannya mengikat tali sepatunya.

 

“Assalamualaikum, Uda.”

 

“Wa’alaikumsalam.”

 

“Sudah mau pulang, Uda?”

 

“Iya,” jawab Ihsan singkat. Dirinya baru selesai melaksanakan shalat ashar berjamaah di masjid dekat rumah sakit tempat dia bertugas. Ihsan bangkit, menepuk celananya lalu mengangguk pamit pada Rara. Dia juga tidak mau tau ada keperluan apa Rara di sana.

 

“Saya duluan. Mari,” katanya sambil melangkah meninggalkan gadis itu.

 

“Tunggu!”

 

Rara menyusul langkah Ihsan. Ihsan menatap gadis itu sambil menunggu apa yang akan dikatakan gadis yang pernah mengisi hatinya itu. Gadis itu terlihat gusar, dia memilin ujung hijabnya. Seperti ada rahasia besar yang ingin dikatakannya. Lama mereka terdiam, namun Rara tidak juga membuka suaranya.

 

“Hem,” Ihsan berdehem sambil membetulkan letak kacamatanya.

 

“Oh, eh. Uda, Rara pulang duluan ya,” tergesa Rara melangkah melewati Ihsan. Ihsan merasa ada yang ingin disampaikan gadis itu. Namun,  dia merasa ragu atau mungkin takut. Ya tepatnya gadis itu merasa takut.

 

Ihsan menarik nafas dan menghempaskannya kasar. Cahaya matahari senja memerah dan menyentuh hijab biru gadis itu. Ihsan masih berdiri di tempatnya memandang gadis itu sampai hilang di keramaian jalan. Ihsan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu bergegas pulang. Dia berpikir, tak ada gunanya juga dia mengejar Rara dan mencari tau apa yang akan dikatakan gadis itu. Toh sekarang antara Rara dan dirinya tidak ada hubungan apa pun juga. Sebagai pria beristri dia tak berniat menodai pernikahannya, walaupun belum ada rasa cinta di hatinya pada Alya. Namun,  dia merasa bertanggungjawab pada gadis yang telah sah menjadi istrinya itu.

 

****

 

Alya berlari kecil,  membukakan pintu saat suara mobil Ihsan terdengar memasuki halaman. Ditatapnya wajah lelah suaminya itu, sambil meraih tas dari tangannya. Diulurkannya tangannya. Ihsan memandang sejenak lalu menyambut tangan gadis itu. Untuk kedua kalinya setelah ijab qabul Alya menyalami lelaki itu. Diciumnya tangan lelaki beraroma pinus itu takzim.

 

“Uda, mau mandi dulu atau mau makan dulu?”tanyanya terdengar riang.

 

” Uda mau mandi dulu dan istirahat. Jangan ganggu!” Lelaki itu bergegas masuk kamar. Alya mengikutinya sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Tapi, Uda. Alya sudah masak gulai pucuk ubi dan goreng ayam kesukaan, Uda,”

 

“Alya, dengar ya! Aku capek dan tidak lapar. Jadi, kamu tidak usah repot-repot!” Tak tau kenapa kata-kata ketus itu yang keluar dari mulut Ihsan. Lelaki berkumis tipis itu menyadari kalau dia sudah melukai hati gadis di depannya. Namun,  dia merasa gengsi untuk mengakuinya.

 

Alya menunduk, matanya mengembun. Dengan langkah berat dia melangkah dan duduk di balkon di samping kamar mereka. Sambil mengusap matanya yang terasa panas,  gadis berparas cantik itu menghempaskan pantatnya di kursi yang menghadap ke taman.

 

Matahari mulai terbenam,  menyisakan langit jingga di sebelah barat. Alunan merdu ayat-ayat Al-Qur’an dari masjid terdekat menyejukkan hatinya yang panas. Dari tempat duduknya, dia bisa melihat Ihsan berjalan keluar dari pagar rumah. Lelaki yang mulai bersemayam di hatinya itu terlihat gagah berjalan ke arah utara. Dengan baju koko putih dan sarung hijau lumut pemuda itu terlihat lebih ganteng. Alya yang kebetulan tidak sholat,  bisa menikmati pemandangan ini sepuas hatinya sampai lelaki itu menyebrang jalan menuju gerbang masjid.

 

Suara rem berdecit,  dan tubuh Ihsan terlempar ke aspal. Sesaat Alya terpana melihat pemandangan itu. Seperti sebuah mimpi buruk. Dicubitnya tangannya.

 

“Auuww. Sakit!” Dia menyadarinya, ini bukan mimpi.

 

“Udaaa! Uda Ihsan!”

 

Sekuat tenaga dia berlari. Sambil mengangkat gamisnya menuruni anak tangga. Dia terus berteriak memanggil nama Ihsan. Ibu Hanifah dan pak Rajo yang hendak bersiap sholat magrib,  bergegas keluar dari kamar mereka. Nurma juga ikut menyusul Alya ke jalan.

 

“Kenapa, Alya?”

 

Alya tak menyahut. Dia terus saja berlari,  bahkan saat kakinya tersadung pada pot bunga. Dia kembali bangkit dan terus berlari. Tak dipedulikannya lututnya yang luka dan berdarah.

 

Saat Alya sudah sampai ditempat Ihsan. Beberapa orang sudah berkerumun. Alya menyeruak diantara kerumunan itu. Melihat baju koko putih yang di pakai Ihsan telah berubah merah.

 

“Tolong pak. Tolong panggilkan ambulan,” katanya dengan wajah memohon pada orang-orang yang berdiri di sana.

 

“Sudah uni. Ambulancnya sedang jalan kamari,” kata seorang pemuda.

 

Alya meletakkan kepala Ihsan yang sudah tak sadarkan diri di pahanya. Tak berapa lama bu Hanifah dan pak Rajo pun sampai di sana. Bu Hanifah menangis histeris melihat kondisi Ihsan.

 

Syukurlah,  tak berapa lama ambulanc pun datang. Alya ikut masuk ke mobil ambulanc. Alya terus saja menangis dan memanggil nama Ihsan. Dia sangat takut. Mobil ambulan yang melaju kencang terasa lambat bagi Alya.

 

Ihsan langsung di bawa masuk ke ruangan UGD rumah sakit. Dia langsung ditangani oleh tim dokter yang bertugas malam itu. Alya menunggu di luar. Alya merasa sangat takut. Tubuhnya terasa dingin. Dia terus saja berjalan modar mandir di depan pintu. Mulutnya komat-kamit sambil terus saja menyebut nama Tuhannya. Beberapa mata yang berlalu lalang,  memandangnya dengan heran. Gamis merah jambu yang di pakainya penuh dengan darah.

 

Tak berapa lama,  terlihat Pak Rajo dan bu Hanifah berjalan tergesa. Wajah mereka terlihat cemas. Bu Hanifah mendekati Alya dan menutun gadis itu duduk di bangku yang terletak tak jauh dari pintu masuk. Tanpa berkata sepatah kata pun Alya menurut pada ibu mertuanya itu. Dia duduk sambil mengosok-gosok telapak tangannya. Wajah terlihat pucat,  mulutnya tak pernah berhenti memohon keselamatan atas suaminya Airmatanya membasahi pipinya yang dingin.

 

“Alya,  sana ganti pakaian dulu,  Nak. Ini bundo bawakan pakaian gantimu dan juga pakaian Ihsan,” kata bu Hanifah sambil menggeserkan travel bag ke arah Alya.

 

“Nanti saja, Bundo. Alya mau mendengar kabar dari dokter dulu,” jawab Alya sambil menyusut airmatanya.

 

“Kita berdo’a saja ya, Nak. Mudah-mudahan Ihsan baik-baik saja,” kata bu Hanifah sambil meraih tubuh menantunya itu.

 

Alya hanya mengangguk dalam diam. Dia tau tak ada tempat baginya di hati Ihsan. Namun,  lelaki itu adalah suaminya. Waktu terasa lama dari detik ke detik. Jarum jam bergerak sangat lamban.

 

Derit pintu terdengar memekakkan telinga dalam keheningan. Saat pintu terbuka utuh, menampakkan sosok dokter muda berpakaian serba hijau berdiri disana. Dengan tenang dokter itu mendekati Alya yang spontan berdiri di depannya.

 

“Keluarga dokter Ihsan?” Tanya dokter muda itu sambil memandang Alya intens.

 

Dengan senyum kecut Alya mengangguk. Dadanya berdebar kencang. Pandangan dokter itu masih seperti dulu.

 

“Bagaimana keadaan suami saya,  Dok?” Tanya Alya menutupi rasa gugupnya.

 

“Dokter Ihsan masih belum sadarkan diri. Beliau banyak kehilangan darah. Ibu boleh melihatnya.”

 

Alya,  diikuti pak Rajo dan bu Hanifah melangkah masuk. Dokter ganteng itu merasa perih di dalam dadanya saat Alya melewatinya. Dia merasa gadis itu telah benar-benar melupakannya. Gadis itu bahkan tak memanggil namanya. Wajahnya terlihat sangat sedih. Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan Ihsan.