Anak Daro Pengganti (Part 9)

oleh -60 views

Cerbung : Irawati CH

Ini hari kelima sejak kejadian tabrak lari itu. Kekhawatiran Alya semakin bertambah melihat keadaan Ihsan yang tak kunjung memberikan titik terang. Jantungnya bahkan sempat berhenti berdetak,  beberapa jam setelah dokter memvonisnya koma.

Alya hanya bisa menangis,  sepanjang waktu dia selalu berada di ruangan tempat Ihsan dirawat. Dengan sabar gadis itu merawat dan mengurus semua keperluan Ihsan. Setiap saat dia lantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di telinga suaminya itu.

***

Tiga minggu telah berlalu, kondisi Ihsan masih tetap sama. Dia masih berbaring di atas ranjang,  dengan selang infus di tangannya. Pagi dan malam Alya selalu berdo’a untuk kesembuhannya. Selama itu pula Alya selalu di rumah sakit. Dia hanya pulang sebentar untuk ganti baju. Kadang-kadang pak Rajo dan Bu Hanifah yang membawakan pakaian Alya dan Ihsan,  juga beberapa makanan.

Selama itu pula Alya selalu berusaha menghindari dokter ganteng yang merawat Ihsan.

Waktu berjalan sangat cepat. Pagi dan petang datang silih berganti. Jarum jam seolah berputar tanpa suara. Tiba-tiba waktu telah berputar sangat jauh. Tiga bulan sudah berlalu. Alya tetap menunggu. Ihsan masih koma. Selang semakin banyak dipasang di tubuhnya. Beruntung,  kemarin keadaannya membaik. Beberapa selang sudah dibuka.

Atas permintaan bu Hanifah,  Alya tidur di rumah. Pak Rajo dan Ilham yang menunggui di rumah sakit. Alya merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Rasa lelah,  mendatangkan rasa kantuk. Tak menunggu lama,  dia pun tertidur pulas.

Alya terbangun saat merasakan tangan yang hangat membelai wajahnya. Dia hampir saja menjerit saat menyadari Ilham telah berada di kamarnya. Lelaki kembaran suaminya itu tersenyum. Lebih tepatnya seperti seringai. Dia berusaha mendekati Alya. Namun,  Alya segera mengeluarkan jurusnya. Ditendangnya lelaki itu. Dia segera berlari ke kamar bu Hanifah.

“Bundo!” Sekali saja Alya memanggil kamar itu segera terbuka. Bu Hanifah masih memakai mukena, matanya sembab seperti habis menangis.

“Ada apa, Nak?”

“Alya boleh tidur sama bundo? Alya takut. Alya mimpi buruk, ” kata Alya dengan wajah memelas.

“Ooo. Bundo kira kamu kenapa, Nak. Mari masuk.”

Alya bergegas masuk. Sekilas dia melihat bayangan Ilham menuju kamarnya. Alya tidak habis pikir apa yang diinginkan lelaki itu. Bukankah dia memiliki Nurma yang cantik dan baik.

Pagi ini cuacanya sangat cerah. Sinar matahari pagi masuk ke celah-celah dapur. Alya,  Nurma dan Bu Hanifah duduk menikmati sarapan pagi. Alya tidak melihat Ilham. Kemana dia?

Setelah membantu Nurma membereskan piring-piring kotor. Alya memasukkan nasi dan beberapa potong ikan dan sayur ke dalam rantang yang akan dia bawa ke rumah sakit untuk sarapan pak Rajo.

“Bundo, Nurma,  Alya berangkat ya,” katanya sambil menyalami bu Hanifah.

“Hati-hati di jalan,  Alya,”kata Nurma dan bu Hanifah serentak.

” Iya,  Bundo, Alya. Assalamu’alaikum.’

“Wa’alaikumsalam.”

Setelah taksi yang ditumpanginya sampai di depan rumah sakit, dia pun keluar. Kaki jenjangnya membawanya masuk ke dalam. Perlahan di dorongnya pintu kamar Ihsan.

“Alya,” tergesa pak Rajo memanggil Alya. Alya mencium tangan mertuanya itu

“Assalamu’alaikum, yah,”

“Wa’alaikumsalam,” suara berat milik pak Rajo menjawab salamnya. Diserahkannya makananan yang dibawanya dari rumah.

“Ayah belum sarapan kan? Ini Alya bawakan makanan,” lelaki berusia setengah abad itu menerima rantang dari tangan Alya.

“Alya. Ihsan telah berhasil melewati masa komanya, nak.”

Mata Alya berbinar mendengar kabar itu. “Masya Allah. Ayah benaran Uda Ihsan sudah melewati masa komanya?”

“Iya, Nak. Ayah sudah menelpon Bundo untuk menyampaikan kabar gembira ini. Sebentar lagi Bundo dan Nurma akan kemari. Alhamdulillah semua doa-doamu,  doa kita semua sudah diijabah oleh yang maha kuasa.”

“Alhamdulilah ayah. Alya mau ketemu Uda Ihsan. Ayah sarapan dulu. Insya Allah kedepannya Uda Ihsan akan baik-baik saja.”

Alya melangkah masuk ke kamar Ihsan. Lelaki itu masih tertidur pulas. Selang infus masih tertancap di tangannya.

“Kapan Uda akan bangun?” Tanya Alya. Kondisi Ihsan yang tidak menunjukkan perkembangan selama tiga bulan ini sangat membuatnya khawatir. Mesin EKG yang memperlihatkan detak jantung lelaki itu berjalan cukup stabil. Alya sedikit lega melihatnya.

“Maafkan Alya,  Uda. Alya belum bisa menjadi istri yang baik bagi Uda,” tangisnya mengungkapkan penyesalan.

Alya meneliti setiap lekuk wajah Ihsan. Suaminya itu memang sangat tampan. Pasti banyak wanita yang tergila-gila padanya. Seperti uninya Zahra. Zahra yang susah jatuh cinta, begitu mencintai Ihsan. Alya bisa tau dari semua cerita-cerita Zahra padanya.

Saat Alya akan ke kamar mandi, seseorang memegang tangannya dari belakang. Sedangkan di ruangan ini hanya ada dirinya dan Ihsan. Apakah Ihsan yang telah memegang tangannya?

Rasa syukur menghampiri tatkala Alya melihat Ihsan sudah sadar. Dia sadar dari koma nya setelah tiga bulan lamanya.

“Al-Alya,” Ihsan memanggilnya. Suaranya masih terdengar lemah. Alya mendekatinya, mata gadis itu berbinar.

“Iya, Da”

Ihsan menatap Alya lama,  sebelum akhirnya bersuara.

“Alya, Uda merindukanmu.” Mereka saling menatap cukup lama. Sampai akhirnya Alya menunduk dengan muka merah jambu. Ihsan sedikit mengangkat sudut bibirnya ke atas. Dia tersenyum. Selama ini hanya wajah datar tanpa ekspresi yang di lihat Alya. Walaupun senyum itu terlihat kaku, mungkin efek dari komanya selama tiga bulan ini tak bergerak. Namun,  bagi Alya itu adalah senyum paling manis yang pernah dia lihat dari imamnya itu setelah enam bulan berumah tangga.

“Alhamdulillah,  Uda sudah sadar,”

Mereka masih saling berpegangan tangan,  seharusnya Ihsan belum boleh banyak bergerak. Tubuhnya masih kaku. Dia belum bisa bicara banyak, walaupun sekedar mengatakan rindu.

“Al-Alya, Uda ma-“

“Uda baru sadar. Jangan ngomong dulu. Alya panggilkan dokter sebentar.”

Alya meninggalkan Ihsan sendirian di kamar,  dia memanggil dokter yang merawat Ihsan selama ini.

“Dokter.” Alya memanggil dokter yang memakai jas putih itu. Dadanya berdetak tak beraturan saat mata mereka saling bertemu. Alya segera mengalihkan pandangannya.

“Ada apa, Alya? Eh ibu Alya. Ada yang bisa saya bantu?” Kata dokter itu sambil tersenyum. Dokter itu terlihat sangat kikuk berhadapan dengan gadis cantik itu.

“Suamiku sudah sadar, Dok.”

Dokter itu terlihat kaget. Ia berlari ke kamar Ihsan. Alya mengekorinya di belakang.

“Saya sudah menduga dokter Ihsan akan segera sadar secepatnya,  setelah melewati masa komanya tapi saya tidak mengira beliau akan sadar hari ini,” dokter itu tersenyum. Kuasa Allah memang tidak ada duanya. Setiap takdir yang Allah tuliskan pada hambanya memang tidak ada yang menduga. Seperti hubungan dokter ganteng itu dengan istri pasiennya ini. Siapa sangka gadis yang dicarinya akan bertemu di rumah sakit ini. Saat merawat seorang pasien kecelakaan,  dia melihat gadis yang menangis dan panik. Dia adalah Alya, gadis yang sangat dicintainya. Namun,  gadis itu selalu menghindarinya. Tak pernah dia memberi sedikit ruang untuk bicara. Bahkan saat menyapa pun dia tidak pernah mau menatap wajah dokter Zulfan. Sungguh beruntung dokter Ihsan mendapatkannya sebagai seorang istri,  dia wanita yang menjaga dirinya sebagai seorang wanita bersuami.