Andi Decol, Pedagang Sarung Keliling Asal Makasar Terperangkap Covid-19 di Sumbar

oleh -17.428 views

PAYAKUMBUH, dekadepos.com-

Erlan panggilan Andi Decol (20 tahun) adalah pemuda tangguh dari Kelurahan Bunga Eja Beru, Kecamatan Tallo, Kota Makasar, Propinsi Sulawesi Selatan.

Pemuda berdarah Bugis ini, bertahun-tahun melanglang buana di sejumlah daerah di tanah air, mengadu nasib sebagai pedagang keliling kain sarung asli tenunan Makasar yang tersohor dengan songket lipasabet dan sarung sengenggam  berbahan baku serat  serat nenas dan serat pisang.

Menurut Andi Decol, songket dan sarung tenun tradisional kahas Sulawesi yang dijualnya ke sejumlah daerah di Indonesia itu, asli hasil pekerjaan tangan yang dikerjakan oleh orang tuanya secara tradisional dengan mempergunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Diakui Andi Decol, dia bersama 10 orang temannya dipimpin oleh kakaknya, mereka sudah 9 bulan berada di Propinsi Sumatera Barat, untuk berdagang sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan itu.

“ Selama berdagang kain sarung khas Sulawesi ini di Sumbar, kami menetap atau tinggal di Kota Padang. Setiap hari kami berkeliling ke sejumlah daerah kota dan kabupaten yang ada di Sumbar  untuk berjualan sarung tenun tradisional khas Sulawesi ,” ujar Andi Decol.

Diungkapkan Andi Decol, ketika datang ke Sumbar, dia bersama sepuluh rekannya dari Makasar, Sulawesi Selatan, sedikitnya membawa 5000 buah songket lipasabet dan sarung sengenggam untuk dijual kepada konsumen.  

Namun, karena ada kasus penyebaran corona atau covid-19 dan Pembasatan Sosial Bersala Besar (PSBB) di tanah air, membuat mereka harus bertahan di Sumbar, karena tidak boleh keluar atau masuk propinsi lain.

Hal hasil, tiga bulan belakangan atau selamanya berlangsungnya kasus penyebaran corona, ungkap Andi Decol, sangat berdampak kepada hasil penjualan songket atau sarung yang diperdagangannya, karena sulitnya ekonomi masyarakat.    

“ Biasanya, pangsa pasar Propinsi Sumatera Barat sangat menjanjikan untuk berdagang sarung tenun tradisional khas Sulawesi. Namun karena kasus penyebaran corona, minat beli masyarakat Propinsi Sumatera Barat benar-benar anjlok,” ungkap Andi Decol.

Diakui Andi Decol, biasanya berdagang sarung tenun tradisional khas Sulawesi di beberapa propinsi atau daerah di tanah air seperti Bali, Jawa, Sumatera dan Kalimantan, mereka hanya berdagang selama 1 atau 2 bulan. Artinya,  selama dua bulan itu semua dagangan sarung atau songket tenun tradisional khas Sulawesi yang diperdagangannya habis terjual.   

Menurut Andi Decol, karena sepinya minat beli masyarakat Propinsi Sumatera Barat terhadap sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan ini, dia bersama sepuluh rekannya terpaksa bertahan di Sumbar dan hampir 9 bulan berada di daerah ini.       

“Alhamdullilah, disejumlah daerah PSBB sudah dihapus dan masuk era new normal dan jika dagangannya yang hanya tinggal sekitar 500 potong terjual habis, kami akan kembali ke Makasar,” ujar Andi Decol.

Sebagai pedagang keliling sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan, sepertinya Andi Decol tidak hanya mahir ‘merayu’ calon pembeli. Bahkan dia begitu hebat memberikan penyelasan tentang mutu dan kualitas sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan yang diperdagangannya.

“ Tenun atau sarung yang paling laris dibeli masyarakat adalah jenis songket lipasabet , songket cenada  dan sarung sengenggam yang dikemas apik dalam kondisi basah disiram air sutra,” pungkas Andi Decol yang mengaku sudah 6 tahun berkeliling berdagang sarung tenun tradisional khas Sulawesi Selatan ini. (doddy sastra)