BERDIALOG DENGAN DERITA

oleh -70 views

BERDIALOG DENGAN DERITA

Oleh : Dr. Asep Ajidin, MH

Derita itu serupa makhluk sehingga dapat kita sapa dan kita ajak berdialog untuk dijinakkan. Penjinakan itu bukan untuk membuat dia tidak ada, melainkan sekadar membuat agar orang tidak merasakan derita yang kita punya.

Banyak orang gagal menyimpan deritanya, malah tak sedikit pula yang justru menawarkan derita itu kepada siapa saja. Cara ini betul-betul berbahaya karena orang semacam itu akan segera menjadi ‘proposal masalah’ di hadapan orang lain, ia akan dengan cepat menuai hasil berupa atribut sebagai orang yang ditolak dan disingkiri. Kedatangannya dianggap sebagai sumber persoalan dan pribadinya akan dianggap semacam kuman lepra.

Membiarkan suasana hati secara terbuka hanyalah suatu kemanjaan. “Hari ini aku sedang tak enak hati, engkau jangan menyetel musik terlalu keras, jangan mengetuk pintu sembarangan dan jangan memancing kemarahan,” katamu.

Pada akhirnya permintaanmu itu akan menjadi semacam kekonyolan belaka. Karena apa pun suasana hatimu sekarang, dunia tetap akan berputar seperti biasa. Matahari akan tetap muncul dari timur tanpa peduli apakah engkau sedang sedih atau gembira. Jika engkau kedapatan tengah memanjakan kesedihanmu, memohon belas kasihan orang-orang di sekitarmu, sesungguhnya engkau sedang merepotkan banyak orang.

Kesedihan yang engkau pertontonkan adalah rapor buruk bagi hidupmu. Mengertilah, setiap orang punya beban dan kesedihannya sendiri sehingga untuk memahami bebanmu, orang boleh mengklaim tak punya waktu.

Jika ada jenis orang yang masih saja menyediakan waktu untuk menghiburmu, bukan berarti orang itu lebih bahagia darimu, tetapi karena ia benar-benar telah bekerja keras untuk itu. Ia harus menekan deritanya sendiri demi menghibur deritamu. Ia sama sepertimu, orang yang mestinya juga penuh persoalan, tetapi karena sedikit sekali ia mengurusnya, si persoalan itu pun putus asa. Ia menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dan akhirnya pergi sia-sia.

Itulah sebabnya orang yang semacam itu terlihat selalu kuat, tenang, dan terjaga. Engkau tak pernah dapat menebak apakah ia sedang sedih atau bahagia. Jika tengah bergembira, ia tak akan pernah terlihat berbunga-bunga. Jika tengah bersedih, ia tak pernah kedapatan kusut dan menekuk muka. Kegemparan tak pernah membuatnya kaget, kekacauan tak pernah membuatnya panik.

Kepadanyalah orang-orang takjub dan terpana. Kepadanyalah orang mengadu dan bertanya. Kedatangannya menjadi sesuatu yang ditunggu, kata-katanya adalah hiburan, perilakunya adalah keteladan-an, dan pancaran pribadinya mendatangkan kegembiraan.

Apakah orang ini lalu menjadi suci? Tidak. Ia masih tetap orang biasa seperti kita. Bedanya, ia cuma malu menyusahkan sekitarnya dengan kesusahannya. Ia malu orang lain menderita karena deritanya.

Ia paham beratnya menanggung kesedihan. Kesedihan orang lain akan terasa sebagai deritanya. Berpikir tentang kepentingan orang lain jauh lebih menyita kesibukannya. Ia sungguh enggan merepotkan dunia dengan urusan dan kepentingannya sendiri. (*)