Buyuang Amai si ‘Manusia Kuda’, Do’a kan Buya Feri jadi Bupati

oleh -1.744 views

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com-

Jujur, kabar kemanusian dari Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan yang akrap disapa Buya Feri ini, sangat jauh dari sifat pencitraan.

Meski saat ini sedang memasuki tahun politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), sekali lagi, jujur, kabar kali ini benar-benar jauh dari sifat pencitraan. Artinya, inilah sepenggal kabar kemanusian, yang rasanya dapat dicontoh dan diteladani oleh para calon pemimpin yang ada di negeri ini.Semoga!

Tiba-tiba arak-iring mobil dinas BA 2 C yang membawa Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, mendadak berhenti di pinggir jalan raya Suliki- Payakumbuh, tepatnya di kawasan Kenagarian Guguk VIII Koto, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota,Senin petang, (23/3/2020).

Orang nomor dua di Kabupaten Limapuluh Kota itu turun dari mobil dinasnya, lalu berjalan kaki menyeberangi jalan menuju sebuah pondok mirip sebuah dangau kecil berukuran sekitar 1x 1 meter.

Semua anggota rombongan usai mengikuti perjalanan dinas Wakil Bupati Ferizal Ridwan mengunjungi Lapas Kelas III B Suliki, dalam rangka membagi-bagikan masker dan melakukan penyemprotan disenfektan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 itu, tidak seorang pun yang tahu apa yang ingin dilakukan Wabup Ferizal Ridwan, saat dia menghampiri seorang pria dewasa berbadan kurus, yang akhirnya diketahui laki-laki itu adalah penderita cacat fisik yakni buta, tengah duduk seorang diri di dalam pondok dan di dinding pondok tersebut tersandar beberapa buah sapi lidi dagangannya.

“ Assalammualaikum, lai sehat-sehat sajo uwan Buyuang,” sapa Wabup Ferizal Ridwan dengan ramah dan nadanya terdengar sangat akrap dengan laki-laki si penderita buta itu.

Melihat pemandangan tidak biasa itu, rombongan Wabup Ferizal Ridwan termasuk sejumlah awak media, juga turun dari kendaraan dan berkerumun mendekati Wabup Ferizal Ridwan yang terlihat sangat akrap berdialog dan bersilaturahmi dengan pria buta itu.

“Lai obeh dek uwan Buyuang sia nan manyalami uwan ko,” ujar salah seorang awak media mengajukan pertanyaan kepada pria buta tersebut

“ Lai, Buya Feri,” jawab pria yang menderita buta sejak lahir itu dengan mantap.

Salut. Tragedi kemanusian ini, benar-benar sangat mengharukan.  Betapa tidak, meski pria itu tak bisa melihat sosok seorang Ferizal Ridwan, namun insting dan naluri persahabatan yang tertanam dengan tulus di lubuk hatinya, ternyata pria itu dengan mudah dapat mengenali suara Ferizal Ridwan, yang juga dengan tulus menjaga silaturahim dengan pria yang diketahui punya sejarah panjang dengan Ferizal Ridwan.

Dalam suasana nan sangat mengharukan dan penuh keakraban itu, tiba-tiba suara pria bernama Buyuang Amai itu terlontar kepada Wabup Ferizal Ridwan.

“Lai mambaok bareh kaditanak, Buya?,” ujarnya meminta sambil merangkul tangan Ferizal Ridwan.

“ Jalang ka puaso, diantakan bareh ke siko,” jawab Ferizal Ridwan sambil mohon diri dan menyelipkan sejumlah uang ketangan pria buta tersebut.

Namun ketika Wabup Ferizal Ridwan melepaskan tangan pria itu dan hendak beranjak pergi meningalkannya, tiba-tiba pria itu berucap dengan tulus; ’Ambo do’a kan Buya jadi Bupati,”  ujar pria itu terdengar sangat tulus.

Buyuang Amai si ‘Manusia Kuda’    

Lantas, siapakah pria buta di dalam pondok yang didatangi Wabup Ferizal Ridwan itu? Lalu, mengapa mereka begitu dekat dan terlihat sangat akrap serta saling mengenal serta menjaga silaturahim.

Inilah sepenggal kisah kemanusian yang pernah terjadi antara Ferizal Ridwan dengan pria bernama Buyuang Amai yang dikenal sebagai ‘manusia kuda’ itu.

Sebenarnya, pria itu bernama Buyuang Feri (56 tahun) tercatat sebagai warga Padang Arai, Kenagarin Guguk VIII Koto, Kecamatan Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota.

Kisah nestapa Buyuang Feri bersama ibu kandungnya Nila (84 tahun) tahun 2006 lalu, pernah viral setelah di muat media dan bahkan pernah diangkat dalam acara talkshow Kick Andy Metro TV.

Perjalanan hidup Buyuang Feri yang buta bersama ibunya Nila yang akrap disapa Amai, kini sudah almarhumah, menjadi inspirasi banyak pihak termasuk Ferizal Ridwan yang kala itu masih duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota.

Membaca kisah Buyuang Feri yang memilukan yang dimuat media masa, karena setiap hari Buyuang Amai harus menarik gerobak (maaf, mengantikan posisi seekor kuda), sementara ibunya duduk di atas gerobak sambil mengendalikan jalannya gerobak sambil menjual sapu lidi berkeliling ke pasar tradisional seperti ke Limbanang, Danguang-Danguang, Kubang, serta pasar Payakumbuh.

Tidak kurang 40 kilometer jarak yang ditempuh Buyuang Feri bersama Amainya setiap  hari untuk menjajakan sapu lidi buatan mereka.

Meski terus dihimpit pahitnya ke kehidupan, Buyuang Feri dan Amainya tidak pernah menggeluh. Setiap hari Buyuang Feri dan Amainya berjalan kaki menjual sapu lidi keliling seputar Kabupaten Limapuluh Kota bahkan sampai ke pasar Payakumbuh.

Hari-hari terus berjalan. Minggu berganti bulan dan bukan berganti tahun. Kehidupan sebagai penjual sapu lidi dengan gerobak, Buyuang Feri bertindak sebagai penarik gerobak itu, akhirnya menarik perhatian salah satu televisi swasta dan mengangkat kisah kemanusian itu dalam acara talkshow Kick Andy.

Inilah kebesaran Allah SWT, acara talkshow Kick Andy yang dimotori Ferizal Ridwan bersama reporter Metro TV, Amfreizer, ternyata menjadi jalan mengubah hidup Buyuang Feri dan ibunya Nila menjadi jutawan.

Menyaksikan acara talkshow Kick Andy dengan bertajuk; Buyuang Amai si ‘manusia kuda’ itu, banyak menimbulkan rasa simpati dan kemanusian dari pemirsa dan memberikan bantuan sebanyak Rp70.800.000 dari sumbangan pemirsa stasiun televisi nasional tersebut. Uang tersebut ditambahkan oleh Menteri Perindustrian, Fahmi Idris menjadi Rp100 juta.

Istri Wakil Presiden, Mufidah Jusuf Kalla juga tersentuh dan langsung memberikan dana Rp50 juta untuk mereka.

“Mereka orang kampung saya, wajib bagi saya membantunya. Saya berharap kepala daerah dan tenaga kesehatan di Limapuluh Kota mampu mengurus mereka. Kalau saya lewat di sana pasti saya singgah,” tuturnya Mufidah Jusuf Kalla dengan mata berkaca-kaca.

Pendek cerita, usai acara talkshow Kick Andy ,Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari langsung meminta agar mata Buyuang Feri  dioperasi, namun sebelum menjalani operasi harus dilakukan periksaan di RSCM Jakarta.

Namun sayang, mata Buyuang tak bisa lagi diperbaiki. Urat syaraf matanya telah mati . Demikian waktu itu dokter mata di RSCM berpendapat.

Seiring berjalannya waktu, Nila ibu Buyuang Feri akhirnya dipanggil sang khalik dan kini Buyuang Feri alias Buyuang Amai tinggal sebatang kara.

Ferizal Ridwan, sebagai orang yang pernah bersimpati dengan nasib Buyuang Amai, meski saat ini sudah menjadi Wakil Bupati, ternyata tak pernah melupakan persahabatan dan silaturahmi yang dibangunnya dengan baik itu meski secara hirarki status sosial kedua mereka jauh berbeda.

Ketika Wabup Ferizal Ridwan beranjak meninggalkan Buyuang Amai yang masih terdiam di dalam pondok sambil menjual sapu lidinya, ada sepotong doa nan ikhlas dari Buyuang Amai agar perjuangan Buya Feri menjadi Bupati Limapuluh Kota terwujud. Amin! (doddy sastra)