Catatan Tercecer dari ‘Perburuan’ WNA Penambang Emas di Hutan Mangani

oleh -2.249 views

Catatan Tercecer dari ‘Perburuan’ WNA Penambang Emas di Hutan Mangani

Oleh: Doddy Sastra

MANGANI, Jorong Puadata, Nagari Kototinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, tak obahnya ibarat sebuah maknit yang memiliki daya tarik untuk mengundang orang berduyun-duyun datang.

Sejak zaman penjajahan Belanda dan bahkan sampai pada saat ini, utamanya bagi si pencari kekayaan, terus berupaya datang untuk mengguras kekayaan bumi Mangani yang mengandung mineral logam mulia magan, perak dan emas. 

Sebelumnya, beberapa puluh tahun bekalangan, pernah tersiar kabar jika orang asing pernah melakukan survey dan mengambil mineral yang terkandung di hutan kawasan Mangani. Katanya, untuk diselidiki seberapa banyak kekayaan meneral logam mulai dari perak dan emas, tersimpan di kawasan Mangani.

Namun, entah kenapa, walaupun bongkahan demi bongkahan isi perut bumi Mangani sudah diangkut oleh orang asing tersebut, tapi entah kepada, kehadiran orang asing di Mangani itu lenyap begitu saja, tanpa ada kabar berita apakah akan mengoploitasi kandungan emas yang ada di kawasan Mangani.

Kasus terbaru yang sempat mengemparkan masyarakat Sumatera Barat, utamanya warga Kabupaten Limapuluh Kota, adalah masuk secara diam-diam 10 orang Wanga Negara Asing (WNA) China ke kawasan hutan Mangani.

Herannya, tidak seorangpun pihak atau lembaga termasuk lembaga Pengawasan Orang Asing yang telah ditugasi oleh negara untuk mengawasi eksodusnya bangsa lain di negeri ini, tahu dan mengakui kapan dan sudah berapa lama serta siapa orang asing asal China yang telah melakukan aktifitas penambangan emas di hutan Mangani tersebut.

Yang jelas, ketika media massa mulai heboh memberitakan keberadaan WNA China itu di hutan Manggani, sejumlah pejabat yang terkait dengan tugas Pengawasan Orang Asing mulai kalang kabut dan berusaha memburu orang asing asal China yang telah menggeruk kekayaan kawasan hutan Mangani.

Pertanyaan besarnya, kenapa orang-orang asing itu bisa dan begitu mudah masuk kawasan hutan Mangani dan melakukan aktifitas penambangan emas secara ilegal di daerah itu?

Jujur, penulis salah satu wartawan yang ikut bergabung dalam tim imigrasi kelas II Non TPI Agam, saat melakukan perburuan terkait keberadaan orang asing China di hutan Mangani, Kamis lalu (2911), tidak dapat membayangkan bahkan dapat menerima dengan akal sehat, kenapa begitu mudah dan leluasanya WNA China itu masuk ke hutan Mangani.

Pasalnya, akses jalan yang menghubungkan pusat Jorong Puadata dengan kawasan Mangani, tidaklah mudah dan hanya dihubungan dengan jalan sepatak dengan medan jalan yang cukup sulit, penuh lumpur serta bebatuan.

Sekali lagi, pertanyaan besarnya, kenapa begitu mudah dan leluasa orang asing China itu masuk ke hutan Mangani? Bayangkan, medan jalan menuju kawasan hutan Mangani yang begitu berat dan hanya dihubungan dengan jalan setapak penuh lumpur dan melewati puluhan jembatan darurat yang terbuat dari pohon kayu dengan kedalaman jurang 5 sampai 20 meter.

Lalu, kenapa begitu mudah dan gampang serta leluasanya orang asing itu masuk membawa peralatan tambang, genset, kulkas dan peralatan lainnya serta kebutuhan hidup saat mereka mulai membangun base camp sampai berhasil mengekploitasi emas yang terkandung di perut bumi Mangani?.

Simpang siur informasi yang diperoleh dari masyarakat setempat, termasuk informasi yang diperoleh dari penambang lokal yang berhasil diwawancarai tim imigrasi, tak hanya melahirkan tanda tanya besar bagi tim imigrasi termasuk bagi penulis.

Rasanya, tidak berlebihan penulis ingin mengatakan bahwa, diduga ada kemungkinan ada pihak yang sengaja menyembunyikan kehadiran orang asing China di lokasi hutan Mangani tersebut.

Sebagai orang awam, penulis juga ingin menyampaikan keraguan-raguan yang ada dalam pikiran penulis yang menyatakan; benarkah kehadiran orang asing China itu hanya sekadar berburu emas di hutan Mangani? Atau jangan-jangan, ada tujuan lain yang mungkin hanya bisa dianalisa dan diterjemahkan oleh aparat memang berwenang untuk menafsirkan tentang kehadiran orang asing di negeri ini.

Namun yang pasti, atas munculnya orang asing asal China di hutan Mangani, tak hanya Wakil Bupati Limapuluh Kota Ferizal Ridwan yang marah besar. Bahkan sejumlah tokoh masyarakat Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota) baik yang ada diperantauan di jagat raya tanah air ini termasuk yang bermukim di kampung halaman, juga meluapkan kekesalahnya dan kemarahan, betapa gampangnya orang asing masuk mengekploitasi dan merusak lingkungan hutan Mangani yang dilindungi itu.

Begaram komentar muncul di media sosial, yang sebagian besar mempertanyakan kenapa bisa urang asing China begitu mudah masuk kawasan hutan Mangani? Pertanyaan lainnya, kenapa bisa orang asing China melakukan kegiatan penambangan di hutan Mangani? Siapa pihak yang telah mengantarkan orang asing asal China itu mengguras kekayaan bumi Mangani? Siapa oknum yang berada di balik keberadaan orang asing China itu di bumi Mangani?

Lantas, siapa yang telah memberikan dukungan dan ikut memobilisasi, sehingga seluruh barang dan peralatan tambang milik orang asing China itu, bisa sampai ke kawasan hutan Mangani?

Pertanyaan terakhir, mampukah aparat berwenang mengungkap misteri hadirnya orang asing asal China yang telah melakukan ekploitasi dan merusak hutan lindung Mangani? Kita lihat saja nanti.

Namun yang pasti, kasus masuknya orang asing melakukan aktifitas dan mencari rejeki di ranah Luak Limopuluah, tentunya menjadi pintu masuk bagi aparat berwenang untuk lebih waspada lagi melakukan pengawasan sekaligus melakukan pendataan.

Tentunya, kita tidak ingin kecolongan untuk kedua kalinya, setelah kasus hadirnya orang asing China di Mangani. Setidaknya, lakukan pendataan seberapa banyak orang asing saat ini melakukan aktifitas, baik sebagai pelaku investasi atau tenaga kerja yang sudah menetap di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh.

Setidaknya, catatan penulis, yang sudah pernah melakukan investigasi mencatat di Kota Payakumbuh sudah hadir WNA asal China melakukan usaha pengolahan pinang.

Sedangkan di Kabupaten Limapuluh Kota, ada pula orang asing asal China melakukan usaha pengolahan pinang. Tak hanya orang asing asal China itu saja yang sudah melakukan aktifitas ekonomi di Limapuluh Kota, namun WNA asal China lainnya juga ada yang mekakukan usaha pertambangan batu berikut menghadirkan para tenaga kerjanya. Sedangkan di Nagari Pangkalan, WNA asal India sudah ada yang melakukan usaha pengolahan gambir.

Sekali lagi, agar kita tidak kecolongan, sudah sepantasnya dilakukan pendataan ulang untuk mencari tahu seberapa banyak saat ini orang-orang asing baik asal China dan India bermukim di Luak Limopuluah. Semoga! (doddy sastra)