Cerai (Cerpen)

oleh -276 views
Foto : Ist

Part 2

Oleh : Irawati CH

Mataku terasa panas. Kuputuskan kembali kekota tempatku bekerja. Aku berjanji akan mencari Maura. Pintar sekali Nadia menyiksaku. Dengan menjauhkanku dari putri kesayanganku adalah siksaan berat buatku.

Setelah apa yang aku Terima dari Nadia, sepertinya aku akan berat dalam menjalani hari-hariku. Langkahku terasa berat, membawa kenangan yang sarat dengan penghianatan. Ku stop sebuah oplet yang kebetulan melintas, terminal antar Kota adalah tujuanku. Kunaiki sebuah bus jurusan kota Pekanbaru, tempatku mencari nafkah.

Kuhempaskan tubuhku disandaran bangku bus yang tidak lagi empuk. Menarik nafas kasar, melepaskan sebuah beban berat. Kuusap mukaku kasar, sambil merogoh kantong baju mencari rokok yang ternyata telah kosong. Menoleh kanan kiri, saat seorang lelaki bertubuh pendek menyapaku,

“Ongkosnya bang”. Katanya sambil bersandar pada kursi didepanku.

“Berapa?” kataku sambil sedikit berdiri memberikan ruang agar bisa merogoh kantong celana jeans kumal yang kukenakan.
“Dua ratus ribu” katanya sambil mulai asyik ngobrol dengan seorang penumpang lainnya.

Tanpa berkata apa-apa kuserahkan dua lembar uang ratusan ribu.
Kembali aku larut dalam keheningan, saat tiba-tiba Sesuatu menyentuh pipiku. Ternyata seorang ibu yang kewalahan membawa dua orang anaknya yang masih kecil-kecil sementara seorang bayi merah dalam gendongannya. Salah seorang anaknya kebingungan mencari tempat duduk.

“Sini, dek. Duduk dekat, Om” kataku sambil merangkul pinggang bocah laki-laki berumur 5 tahun itu.

“Maaf, pak. Nanti merepotkan” kata si ibu

“Enggak apa-apa kok bu”. Kataku.
Akupun memandang keluar jendela, agar tak ada lagi percakapan. Aku butuh keheningan dalam keramaian ini. Perlahan bus mulai bergerak, kupejamkan mata sambil tanganku tetap memeluk bocah lelaki yang mulai terlelap. Bayangan awal kisah kelamku kembali muncul seperti sebuah film yang tak ada jeda.
***

Pernikahanku dengan Nadia tanpa landasan cinta, kami menikah karena dijodohkan. Saat itu Nadia tengah mangandung, anak dari pacarnya, seorang tentara yang bertugas didaerah konflik Timor-timor. Dan gugur dalam tugas. Ibuku yang seorang pencari kerang, banyak berhutang budi pada keluarga Nadia. Hingga pada suatu sore yang cerah, Halimah kakak kandung Nadia datang kerumah kami. Dengan berurai airmata dia menceritakan keadaan Nadia.

“Saya mohon tolonglah saya,Bu” katanya sambil melirikku “Tolonglah kakak Rud, menikahlah dengan Nadia. Kakak tau kamu lelaki yang baik”.

Aku sangat kaget dengan permintaannya, bagiku ini sangat tiba-tiba. Aku bahkan belum mengenal Nadia, baru bertemu dengannya beberapa kali. Entah karena kasihan, atau aku memang tertarik dengan gadis itu. Aku pun menerima keadaan Nadia.

Kami pun menikah dan hidup bahagia, sebagaimana layaknya pengantin baru. Aku tak pernah mempermasalahkan anak yang dikandung Nadia. Bahkan aku juga sangat menyayanginya seperti anakku sendiri.

Setelah kami memiliki seorang kandung ku sendiri, hidupku serasa sangat sempurna. Walaupun aku hanya seorang sopir, aku sangat memanjakan keluargaku, terutama Nadia. Apapun yang dia minta selalu aku turuti.

Sering kudengar cerita para tetangga tentang Nadia yang sering jalan bersama laki-laki. Namun aku sangat mempercayainya. Tak sedikit pun menggoyahkan kepercayaanku padannya.

Hingga suatu hari aku mendapati Nadia sedang bermesraan dengan lelaki lain di kamarku. Amarahku tak dapat kutahan saat itu, kupulangkan Nadia keorang tuanya di Medan.

Krmarahanku tak berlangsung lama, rayuannya dan anak-anak yang sakit saat jauh dariku. Akhirnya dengan alasan orangtuanya akan mengawasi Nadia, mereka meminta Nadia tetap di Medan dan aku tetap mencari nafkah disini. Sebulan sekali aku akan pulang kesabaran dan memberikan semua uang yang diminta Nadia.

Nadia yang pintar memasak, memintaku meminjam uang untuk modal usaha. Dia ingin membuka warung makan. Keahliannya dalam berbisnis telah menjadikan warung makan itu menjadi sebuah restoran.

Sampai pada suatu hari, Nadia menelponku dan mengatakan kalo restoran sudah mulai ramai, sehingga dia butuh beberapa orang karyawan. Akupun dia minta untuk pulang dan membantu usahanya.

Namun inilah perlakuan yang aku terima saat aku sampai disini. Yang paling menyakitkan adalah saat Nadia ingin aku jauh dari anakku, Maura.

***

“Yang mau makan, dan buang air disini ya!” teriak kenek bus. Aku dan para penumpang lainnya juga ikut turun. Sekedar makan atau membeli beberapa cemilan. Aroma soto sangat menggiurkan, mengingatkanku belum makan apa-apa dari pagi. Setelah makan dan sholat, kucoba menelpon Nadia. Karena kemaren Nadia bilang akan mengizinkanku berbicara dengan Mauraku. Namun no ponsel Nadia tidak aktif. Padahal ini masih pukul delapan malam. Biasanya Maura belum tidur.

Perjalanan pun dilanjutkan. Bocah lelaki yang tadi duduk bersamaku, telah pindah kebangku lain. Ada penumpang yang turun dirumah makan tadi. Jadi dia bisa duduk nyaman.

Sesampai dikontrakan, kubuka pintu perlahan. Masuk dan tidur. Aku merasa badanku tidak sehat. Ku coba lagi menelpon Nadia. Namun tidak tersambung. Baru saja kucoba merebahkan badan, tiba-tiba pintu kontrakan itu digedor-gedor dengan kasar dari luar.

“Siapa yang datang bertani pagi-pagi begini?. Mengganggu saja”. Batinku sambil beranjak dengan malas menuju pintu. Belum sempat kumemegang handel pintu, suara teriakan diluar kembali terdengar

“Hai ! Kamu tuli ya, kenapa belum juga keluar. Setiap hari aku datang kemari mencarimu, tapi kau menghilang begitu saja! ” seru seorang lelaki.

“Ada apa? Anda mencari siapa? ” tanyaku sambil berdiri diambang pintu.

Seorang lelaki bertubuh kekar bersama seorang wanita paruh baya. Dari gaya mereka seperti seorang tukang kredit, atau rentenir atau apalah itu.

“Nadia. Mana Nadia? “.

“Nadia tidak tinggal disini lagi”.

“Kamu suaminya kan? “.

“Tidak lagi”. Jawabku sambil menutup pintu kembali.

“Ah, alasan. Nadia berhutang pada saya dan sudah menunggak beberapa bulan. Kalau Nadia tidak ada disini, kamu yang bertanggungjawab”. Kata wanita yang terlihat nyentrik itu.

“Aku tidak pernah tahu hutang Nadia, dia tidak pernah bilang apa-apa padaku. Kalau memang aku yang bertanggungjawab apa ada tanda tanganku di surat hutang itu? Tidak ada kan? “. Kataku ” Sudahlah kalian pulang saja”.

Namun silelaki kekar itu malah mencengkram kerah bajuku. Dia memukulku dan aku tersungkur. Kuraba bibirku terasa sakit, ada rasa asin dilidahku. Kulihat dilantai ada darah yang mengucur dari hidungku.

Tiba-tiba aku melihat sebuah martil di dekat kaki kursi. Kuraih martil itu dan bertubi-tubi kupukulkan kekepala lelaki itu. Dia pun tersungkur. Aku tidak tau apakah dia mati atau pingsan. Wanita itu histeris dan meracau tidak jelas. Para tetangga mulai berdatangan. Mereka terlihat sibuk. Ada yang menelpon polisi, ada juga yang menelpon ambulan.

Aku terduduk dipintu. Suara-suara disekitarku terdengar seperti lebah. Bahkan saat mobil polisi yang menjemputku pun tak kurespon. Saat mereka memborgol kedua tanganku dan membawaku kemobil patroli aku pun tak mau pusing.

Akan kah hidupku ku habiskan di balik jeruji besi ? Lagi-lagi karena Nadia. Ternyata dia ingin menghancurkan hidupku sehancur-hancurnya. Ibu. Aku ingat ibu, bagaimana perasaan ibu saat tau anaknya telah menjadi seorang pembunuh.

Sekarang aku disini. Dibalik jeruji ini. Lelaki yang kupukul dinyatakan meninggal dunia. Dan aku divonis sepuluh tahun penjara.

Sebelumnya : Cerai Part 1

Bersambung dulu ya mak. Jangan lupa kripiknya ya.
Part selanjutnya kita akan bahas pov Nadia. Setuju nggak?