Cerpen : Ibu

oleh -298 views

Oleh : Irawati Ch

Hayati, gadis manis bertubuh mungil selalu memakai gamis dan jilbab lebar, tak henti tersenyum melayani pembeli di warung makan padang milik ayahnya. Saat itu jam makan siang, pengunjung yang lumayan ramai membuatnya sedikit kewalahan, namun dia masih ramah pada komsumen karena prinsipnya konsumen adalah raja. Bi asih yang biasa membantunya, pagi-pagi sekali harus izin karena anaknya yang sedang sakit.

Hayati hidup berdua dengan ayahnya, Pak Burhan. lelaki kurus dan berkacamata itu sangat menyayangi hayati. Sepeninggal istrinya 10 tahun lalu, Hayati lah satu-satunya miliknya paling berharga. Mereka sepakat apapun yang mengganjal di hati harus dibicarakan.

Hayati ditinggal ibu nya saat masih berusia 8 tahun. Saat itu ibunya ingin mengadu nasib di negeri jiran Malaysia. Bu Maya tak pernah berkirim kabar sampai hari ini. Tak ada yang tau Bagaimana nasib beliau sekarang. Entah masih hidup atau sudah meninggal. Namun pak Burhan dan Hayati tetap menunggu kedatangannya.

Siang ini matahari sangat terik, tenggorokan terasa pahit berharap setetes air membasahi kerongkongan. Seorang wanita paruh baya berjalan menelusuri jalanan. Sesekali dia mengusap peluh didahinya dengan ujung selendang. Sebuah tas lusuh ditanganinya. Aroma sedap masakan Padang yang menguar dari warung di dekatnya mengingatkannya pada seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Ragu-ragu dilangkahkannya kaki menuju rumah makan tersebut. Pengunjung yang ramai menyurutkan langkahnya. Namun rasa yang melilit diperutnya memaksanya untuk memberanikan diri.

“Ma…. maaf nak, saya lapar sekali… Boleh kan saya meminta makanan sedikit saja” katanya perlahan sambil memandangi ujung kuku-kuku kakinya yang luka dan terkelupas. Menandakan sudah jauh dia berjalan tanpa alas kaki.

Hayati yang sedang sibuk memandangnya sekilas dan tersenyum. Kemudian dia berjalan kearah ibu itu dan berkata
” Ayo bu… Duduk disini” katanya sambil menarik kursi plastik berwarna hijau itu. Kemudian dia menuangkan air putih yang terletak di meja kedalam gelas dan menyodorkannya pada ibu itu.

“ini bu… Minum dulu” kata Hayati sambil berjalan kearah dapur dan mengambil makanan.
Ibu Maya terkesiap memandang mata teduh itu, mata itu mengingatkannya pada suaminya yang telah lama dia tinggalkan. Lamunanannya kembali ke masa lalunya. Saat dia pergi ke Malaysia. Saat itu kehidupan keluarga dalam kesusahan, suaminya yang seorang supir di sebuah perusahaan terkena PHK. Kehidupan mereka yang pas-pasan semakin terpuruk.

Suatu hari pada sebuah pesta pernikahan salah seorang kerabat, bu Maya bertemu dengan teman lamanya. Tanpa disadari dia bercerita kepada sahabatnya itu tentang kesulitannya.

“Kamu jangan khawatir May. Ikut aku aja jadi TKW ke Malaysia”.

Terbujuk rayuan sahabatnya itu bu Maya pun minta izin pada suaminya. Awalnya Pak Burhan tidak setuju, tapi bukan Bu Maya namanya kalau tidak bisa membujuk suaminya itu.

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan, Bu Maya berangkat. Masih terbayang putri kecilnya Hayati menangis saat mobil yang ditumpanginya bersama rekan-rekannya.
Setelah menjalani pelatihan selama dua bulan, mereka pun di berangkatkan menuju Malaysia. Namun semua tidaklah semulus yang dia bayangkan, di negeri jiran itu Maya mendapatkan seorang majikan yang sangat kejam. Maya pun melarikan diri dan berhasil lolos. Dibantu oleh seorang teman dia dibawa Ke Jakarta.

Sesampai di Jakarta Maya pun mengalami musibah. Dia di rampok. Semua uang dan surat-surat telah hilang. Maya tidak punya ongkos untuk pulang ke Padang. Setiap hari dia mencari kerja, namun belum berhasil. Untuk makan, dia terpaksa mengemis. Sampai akhirnya kaki tuanya melangkah ke rumah makan Padang ini.

Hayati yang memperhatikan wanita lusuh namun masih nampak cantik itu dengan seksama. Wanita itu belum menyentuh makanan yang dia hidangkan sama sekali. Hayati pun mendekat.

“Ibu… Kenapa nasi nya belum dimakan, nanti keburu dingin” katanya tersenyum.
“Oh… Iya nak”. Kata Maya buru-buru mencuci tangan dan mulai menyuap.
“Hayati, ayah mau sholat di masjid dulu ya”. Tiba-tiba suara itu mengejutkan mereka berdua. Wajah Maya tiba-tiba pucat dan air matanya menetes deras. Di tatapnya lelaki yang berdiri dekat pintu.

“Uda Burhan” lirihnya.
Hayati menoleh dan mengernyitkan dahinya.
“Ibu kenal dengan ayah saya? ” tanyanya.
“Itu ayah kamu nak? Apakah kamu Hayati? ”
“Iya bu, saya Hayati”
“Hayati ini ibu, nak”. Tiba-tiba Bu Maya meraung dan bersimpuh di lantai. Lututnya terasa lemah. Tidak menyangka akan bertemu anak dan suaminya di kota ini.
Pak Burhan mendekati mereka dan menatap wanita yang terduduk di lantai.

“Maya?benarkah ini kamu? ”
“Iya uda, ini aku Maya. Istrimu”
Hayati yang bingung bergantian memandang ayah dan ibunya.
“Kenapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi padamu?”
Hayati dan Pak burhan membawanya duduk kembali, Maya pun menceritakan semua yang dia alami selama ini. Hayati sangat bahagia, dia tak mau melepaskan pelukan dari sang ibu yang selalu dia tunggu kedatangannya. Mereka pindah ke Jakarta karena mereka hidup di kota Padang hanya mengingatkan mereka pada ibu yang mereka nanti dan tak kunjung pulang. Dengan bekal menjual beberapa petak sawah mereka meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan itu. Berbekal hobbi Pak Burhan adalah memasak dan masakannya lumayan enak, mereka membuka warung makan kecil-kecilan sampai akhirnya punya rumah makan yang lumayan laris ini.

Tak ada yang bisa menyangka akhirnya penantian panjang ini berakhir. Keluarga mereka kembali utuh dan bahagia kembali.