Corona Membuat Nasib Rasai Semakin Merasai

oleh -221 views

Laporan : Edison Sikumbang

Mewabahnya Virus Covid-19 atau Corona di atas Bumi ini membuat semua sendi-sendi kehidupan melemah, tidak luput sendi-sendi ekonomi masyarakat digerogoti oleh Virus Corona ini. Sehingga banyak sekarang ini masyarakat yang jatuh merosot jauh ekonominya.

Jangankan untuk menyisihkan uang untuk masa depan, untuk makan sehari hari saja sangatlah sulit gara gara Virus Corona ini.

Seperti halnya yang dirasakan seorang Kusir Bendi di Kota Bukittinggi bernama Rasai usia 63 tahun yang beralamat di Bukik Sangkuik, Kelurahan Bukiik Apik Puhun. Semenjak mewabahnya Virus Corona dan sepinya pengunjung kota Bukittinggi membuat nasibnya semakin merasai atau susah.

Diceritakannya, ia menjadi kusir bendi semenjak usia 13 tahun, sudah 50 tahun menjadi kusir bendi, baru sekarang ini merasakan sulitnya kehidupan, gara-gara mewabahnya Virus Corona ini membuat sendi sendi ekonominya melorot.

Selama ini walaupun ada persoalan yang terjadi di tengah tengah masyarakat, tidak mengganggu kepada ekonominya sebagai kusir bendi.

“Sekarang gara-gara Virus Corona ini, semua orang takut keluar rumah, Bukittinggi sebagai kota kunjungan, sepi dari kunjungan, sehingga kami para kusir bendi yang sangat tergantung dengan kunjungan orang ke Bukittinggi saat ini terpaksa hanya bisa berdoa agar Wabah ini cepat berlalu”,ungkap bapak dari 7 anak itu.

Menurut Kasai selaku Kusir bendi yang cukup lama di kota Bukittinggi, para kusir bendi harus mengisi dua periuk untuk kelansungan hidup. Masing masingnya Periuk untuk Keluarga dan satu lagi Periuk untuk kuda yang telah memberikan nafkaf untuk para kusir bendi dan keluarganya.

Khusus untuk Kuda, sebagai kusir bendi setiap harinya harus menyisihkan uang Rp.50.000,- seharinya untuk membeli sagu dan dadak serta rumput untuk kuda.

Sedangkan untuk periuk keluarga, jelas lebih dari itu. Dan setidaknya setiap hari sebagai kusir harus berpenghasilan sedikitnya Rp.150.000,- perhari.kata Rasai.

Selama ini, sebelum adanya wabah Virus Corona ,uang sekitar Rp.150.000 ,- itu dapat terpenuhi,karena banyaknya pengunjung yang datang ke Bukittinggi. Namun, sekarang semenjak mewabahnya Virus Corona, jangankan untuk makan kelarga untuk beli makan kuda pun tidak dapat dan kudapun semakin kurus, ungkap Rasai.

Sebagai Kusir bendi dan bagian dari Warga kota Bukittinggi sangat berterima kasih kepada Pemerintah kota Bukittinggi beserta jajarannya yang telah berusaha untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona ini ditengah tengah masyarakat.Dan masyarakat kota pun memahaminya dengan mematuhi petunjuk dari Pemerintah.

Tetapi itu tidak bisa kami lakukan, dan kami harus Menentang arus untuk memaksakan diri keluar rumah ditengah tengah menebarnya Virus Corona untuk mencari secercah harapan guna menghidupi keluarga dan kelangsungan hidup kuda yang telah memberikannya nafkaf setiap harinya,sekalipun harus membawa tangan kosong pulang ke rumah,kata Rasai sembari berdoa agar wabah Virus Corona ini dapat hilang menjelang lebaran Idul Fitri,dan kunjungan kembali ramai ke Bukittinggi, dan ekonomi para kusir bendi ini dapat hidup kembali.
.
Rasai,warga Bukik Sangkuik, Kelurahan Bukik Apik Puhun, suami dari Erma wati (Almarhumah) memiliki 7 orang anak, 6 orang anaknya sudah bekeluarga.(*)