Dampak Pandemi Covid-19, Pedagang Oleh-oleh dan Pedagang Daging Sapi Musiman Terkena Imbas

oleh -123 views

PAYAKUMBUH, dekadepos.com

Sudah lama, dan bahkan, sejak berpuluh-puluh tahun lalu, apabila akan masuk bulan suci Ramadhan termasuk akan dilaksanakannya hari kemenangan Hari Raya Idul Fitri, pedagang daging sapi musiman menjamur membuka lapak atau tenda-tenda kecil dipinggir jalan untuk berjualan daging sapi, tentunta termasuk di kawasan pertigaan Lampasi Tigo Nagari (Latina).

Namun sejak pandemi covid-19 menerjang daerah di seluruh tanah air, bahkan sempat meluluhlantakan tatanan sosial dan ekonomi masyarakat di negeri ini sangat berimbas kepada masyarakat, termasuk kepada para pedagang daging sapi musiman, yang mau tidak mau atau suka tidak suka, harus pasrah menerima keadaan akibat terimbas oleh ganasnya virus corona yang telah menerjang beberapa negara yang ada di atas bumi ini.

Adalah Ijun (47 tahun), seorang pedagang daging sapi musiman yang membuka lapak di kawasan pertigaan Lamposi, kepada anggota Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Payakumbuh dari unsur media guna penyebarluasan informasi penanganan Covid-19 untuk wilayah Kecamatan Latina mengungkap bahwa, permintaan atau kebutuhan daging sapi untuk menghadapi lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah sangat jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“ Kita dapat memahami, rendahnya daya beli masyarakat terhadap kebutuhan daging sapi jelang Hari Raya Idul Fitri 1441 H, akibat terkena imbas virus corona yang sudah merusak ekonomi masyarakat,” ungkap Iyun.

Menurutnya, meski daya beli masyarakat untuk kebutuhan daging sapi jauh menurun dibandingkan Idul Futri tahun-tahun sebelumnya, namun masih ada beberapa konsumen yang membeli daging sapi untuk kebutuhan mereka meskipun jumlah pembelian agak terbatas.

“Kebanyak warga membeli daging hanya sekilo dan bahkan ada yang setengah kilogram saja,” aku Iyun.

Pengakuan yang sama juga dilontarkan para pegadang oleh-oleh khas Luak Limopuluah yang ada di sekitar kawasan simpang tiga Lamposi.

“Biasanya, setiap musim Lebaran Idul Fitri permintaan oleh-oleh khas Luak Limopuluah (Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, red) seperti makanan spesifik galamai, batiah, beras rendang, rendang daging, rendang telur dan sejumlah produk makanan ringan lainnya cukup tinggi,” ungkap kariawan Dapur Rendang Yolanda, Dani.

Namun, dalam kondisi daerah terserang pandemo Covid-19, daya beli masyarakat terhadap makanan spesifik seperti galamai, batiah, beras rendang, rendang daging, rendang telur dan sejumlah prodak makanan ringan lainnya, jauh merosot.

Keterangan berbeda diperoleh dari pemilik Dapur Rendang Riry, Arif Budiman. Menurutnya, omzet perdagangan rendang yang dikelola pasca pandemi Covid-19 justru diakuinya naik 20 persen. Karena pasar produk rendang yang dikelolanya, baik rendang daging, rendang suir, rendang belut, rendang telur dan varian rendang lainnya di jual di luar Propinsi Sumatera Barat.

” Namun, pasar untuk oleh-oleh makanan spesifik memang jauh merosot dibadingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Arif Budiman ketika diminta komentarnya.

Menurutnya, akan berakhirnya pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri, biasanya para perantau banyak yang memesan galamai, batiah, beras rendang, rendang daging, rendang telur dan sejumlah prodak makanan ringan lainnya untuk dibawa sebagai oleh-oleh.

“Namun di tengah pandemi covid-19, permintaan atau kebutuhan oleh-oleh khas Luak Limopuluah jauh berkurang, karena perantau tak banyak yang pulang kampung karena mematuhi imbauan pemerintah untuk tidak pulang kampung guna memutus mata randai penyebaran virus corona,” ungkapnya.

Sementara itu tokoh masyarakat Latina, Mawi Etek Arianto didampingi Ketua KAN Koto Panjang, Indinovera Dt. Majo Lobiah Nan Putiah yang diwawancarai anggota Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Payakumbuh dari unsur media penyebarluasan informasi penanganan Covid-19 di wilayah Kota Payakumbuh mengatakan bahwa, animo masyarakat Latina untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri ditegah pandemi Covid-19 memang menurun.

Bahkan, kebiasaan masyarakat untuk bersilaturahmi dengan pola jalang manjalang atau mendatangi rumah kerabat, andai tolan, sanak dan famili yang sudah menjadi budaya masyarakat, kini aktifitas integrasi sosial masyarakat itu juga menurun.

“Ini pertanda bahwa imbauan pemerintah kepada masyarakat untuk mewaspadai dan memutus mata randai penyebaran virus corona sudah mendapat dukungan dari masyarakat,” ungkap Mawi Etek Arianto yang juga anggota DPRD Kota Payakumbuh itu.

Diakui Mawi Etek Arianto, meskipun kegiatan Idul Fitri di tengah pandemo covid-19 ini tidak berjalan seperti biasanya. Namun tingkat sosial masyarakat dalam menjalin silaturahmi tidak berkurang.

“Untuk menyambung tali persaudaraan di tengah pandemi covid-19, ada sarana media sosial yang bisa dipergunakan untuk membangun silaturahmi baik, melalui facebook, instagram atau vidio cool atau kontak langsung dengan melalui handpone untuk menyambung tali silaturahmi,”pungkas Mawi Etek Arianto. (doddy sastra)