Derita TKW Asal Limapuluh Kota, Dikurung Karena Alami Gangguan Jiwa

oleh -9.061 views

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com –

Elfa Susanti (35 tahun) warga Jorong Tabiang, Nagari Sungai Kamuyang, Kecamatan Luhak, Kabupaten Limapuluh Kota, yang terpaksa dipulangkan majikan karena mengalami gangguan jiwa, menambah panjang daftar Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia yang bernasib malang.

Setidaknya, nasib buruk itu dialami putri ke empat ibu Mailis (72 tahun) dan Junizar (alm) yang kini terpaksa hidup dalam pengasingan, akibat gangguan jiwa yang dideritanya tak mampu diobati karena faktor ekonomi.

Mirisnya, hampir setahun lamanya wanita berwajah cukup cantik itu dikurung di kamar pengasingannya. Dan, selama setahun itu pula, Elfa Susanti hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan dan menyedihkan.

Bayangkan, di kamar sempit berukuran 3×3 meter itu, Elfa Susanti, hidup dalam bayang-bayang yang buram dan kusam. Dan, di kamar kumuh penuh sampah plastik bercampur kotoran manusia itu, dia menghitung hari, merajut mimpi yang tak pernah bertepi dan berkesudahan.  Bahkan, di bilik nan sepi itu pula, Elfa Susanti terbaring di atas lantai ubin yang dingin tanpa dililit satu helai benang pun.

Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan dan Ketua DPRD Limapuluh Kota, Deni Asra, yang datang menjambangi mantan TKW Malaysia yang bernasib malang itu, Sabtu (4/7/2020) benar-benar terenyuh hatinya, tatkala menyaksikan ada warganya hidup dalam kondisi memprihatikan di kamar pengasingan karena mengalami gangguan jiwa.    

“ Santi adalah TKW dari Malaysia yang dipulangkan majikan karena mengalami gangguan jiwa, “ ujar Wali Jorong Tabiang, Indrawadi, kepada Wabup Ferizal Ridwan dan Ketua DPRD, Deni Asra, saat melihat kondisi wanita malang itu meringkuk dalam kamar pengasingannya.

Menurut pengakuan Wali Jorong, Indrawadi dan dibenarkan oleh ibu Mailis, karena tidak ada biaya untuk mengobati anak Elfa Susanti, maka untuk kesembuhannya, dia hanya menjalani pengobatan secara kampung saja.

“Selama dia sakit, Santi memang tidak diikat atau dipasung, tapi dikurung di dalam kamar. Sudah hampir setahun dia dikurung di kamar ini. Di kamar ini Santi makan dan minum termasuk buang hajat dan bahkan tidak mau mengenakan pakaian,” ungkap Mailis, ibu renta itu kepada  Wabup Ferizal Ridwan dan Ketua DPRD Deni Asra.

Sedih dan terharu mendengar pengakuan ibu Mailis, akhirnya Wabup Ferizal Ridwan dan Ketua DPRD Deni Asra meminta kepada keluarga dan Pak Wali Jorong, Indrawadi, untuk mengeluarkan Santi dari kamar pengasingannya untuk dimandikan dan dibersihkan kamar tempat dia dikurung.

Meski awalnya Santi sempat meronta-ronta saat akan dikeluarkan dari kamar pengasingannya, namun setelah dibujuk Wabup Ferizal Ridwan dan Ketua DPRD Deni Asra, akhirnya dia menurut dan mau untuk dimandikan dan dikenakan pakaian.

Kepada Wabup Ferizal Ridwan dan Ketua DPRD Deni Asra, Santi meminta agar dia tidak dikurung lagi dalam kamar pengasingannya itu.

Wabup Ferizal Ridwan kepada wartawan mengaku, sampai saat ini sudah 35 orang penderita gangguan jiwa yang dia temukan di Kabupaten Limapuluh Kota. Sebanyak 22 orang diantara penderita gangguan jiwa itu, kurang terurus karena faktor ekonomi keluarga.

“ Melihat kondisi ini, sebagai kabupaten bebas pasung, perlu diaktifkan kembali Yayasan Rehabilitasi Orang Gangguan Jiwa yang dulu pernah berdiri di Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota,” ungkap Wabup Ferizal Ridwan.

Menurutnya, dengan diaktifkannya kembali Yayasan Rehabilitasi Orang Gangguan Jiwa, pemerintah daerah dapat melayani  dan memberikan perhatian kepada pasien gangguan jiwa yang ada di kabupaten Limapuluh Kota.    

Sementara itu Ketua DPRD Limapuluh Kota, Deni Asra, mendukung rencana Wabup Ferizal Ridwan yang ingin mengakfifkan kembali Yayasan Rehabilitasi Orang Gangguan Jiwa tersebut.

“ DPRD sangat mendukung rencana mengaktifkan kembali Yayasan Rehabilitasi Orang Gangguan Jiwa itu. Kita minta Pemkab Limapuluh Kota mewujudkan program kerja pro rakyat. Lihatlah kondisi warga kita seperti ini, apa yang bisa diperbuat oleh Pemda bagaimanapun penderita gangguan jiwa itu juga rakyat kita dan rakyat Kabupaten Limapuluh Kota,” ujar Deni Asra.

Deni Asra menyebutkan, selama ini penderita gangguan jiwa dirawat di RS Jiwa Ulu Gadut, Padang. Namun, bagi keluarga yang tidak mampu, para penderita gangguan jiwa itu dibiarkan terlatar dan bahkan ada yang dipasung serta dirantai di tempat pengasingan.

“Kalau daerah kita, punya Yayasan Rehabilitasi Orang Gangguan Jiwa, tentunya warga kita para penderita gangguan jiwa akan mendapat perawatan dan tidak perlu lagi jauh-jauh dirawat di Padang,” pungkas Deni Asra. (ds)