Berita

DPRD Kritik Penyaluran BAZNAS di Sawahlunto 

Sawahlunto, Dekadepos.com

Pelaksanaan penyaluran Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Sawahlunto sering tidak tepat sasaran. Hal ini terungkap pada saat rapat paripurna DPRD Sawahlunto dalam pendapat Fraksi Gerakan Restorasi Keadilan Indonesia Raya (Nasdem, PKS dan Gerindra) terhadap Rancangan Peraturan Daerah Kota Sawahlunto tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Sawahlunto tahun anggaran 2022, Senin (26/9/2022).

Disampaikan Rio Mardanil dalam rapat, Baznas adalah salah satu wadah resmi dalam pengelolaan dan penyaluran zakat. Adapun diantara tujuan dari penyaluran zakat ini adalah untuk mengangkat taraf hidup yang tidak mampu menjadi mampu. Dengan harapan, yang tidak mampu, selaku penerima zakat kedepannya bisa mandiri dan bahkan bisa menjadi orang yang mengeluarkan zakat.

“Namun dalam pelaksanaannya, setelah kami cermati Baznas sering tidak tepat sasaran dalam penyalurannya. Dapat kita lihat pada saat Baznas melakukan penyaluran zakat selalu mengedepankan jumlah penerima yang banyak dan menganggap ini sebagai suatu prestasi. Padahal dengan ratusan penerima setiap penyaluran itu, sangat berbanding terbalik dengan kondisi Kota Sawahlunto dengan prediket terendah angka kemiskinannya,” ungkap Rio menyampaikan.

Dijelaskannya, dan dengan ratusan penerima setiap penyaluran zakat ini, berapalah nominal yang mereka terima. Dapatkah penerimanya berusaha dan sukses dari jumlah yang diterima atau hanya sekedar pelepas kebutuhan sehari-hari saja. Bahkan ada juga yang menerima zakat ini tiap tahun orangnya itu-itu saja.

“Berdasarkan kondisi ini kami Fraksi Gerakan Restorasi Keadilan Indonesia Raya (Nasdem, PKS dan Gerindra) meminta untuk bisa kiranya Baznas melakukan perbaikan dalam penyaluran zakat. Zakat disalurkan bukan berdasarkan kedekatan atau berdasarkan suka atau tidak suka, tetapi berdasarkan kepantasan sesuai kriterianya,” sambung Rio.

Bahkan, kata Rio, untuk zakat yang disalurkan buat pendidikan, ternyata ada beberapa orang putra-putri kita yang menuntut ilmu ke Timur Tengah tidak pernah tersentuh. Padahal mereka juga dari kalangan yang kurang mampu dan menuntut ilmu agama.

“Mereka ini adalah cikal bakal ulama bagi kota kita ini nantinya. Dan sangat naif sekali serta menyedihkan jika pengelolaan zakat ini dilakukan sebagai komoditas politik semata, hanya untuk mengejar simpati masyarakat dengan mengabaikan prinsip-prinsip dasar zakat itu sendiri,” tandasnya. (Ajo).

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts