Go Internasional, Bumbu Randang Payakumbuh Dikirim ke 7 Negara

oleh -18 views

PAYAKUMBUH, dekadepos.com

Impian Kota Payakumbuh agar Randang Go Internasional sudah di depan mata, pasalnya setelah dibantu fasilitasi oleh Global Enterpreneur Profesional (Genpro) Indonesia, program BRIncubator yang berjalan membuat Koperasi Sentra Randang Payo dengan brand Iko Sero kembali diminta memproduksi bumbu masakan minangkabau untuk di ekspor.

Serah terima pengiriman sampel bumbu masakan minang seperti bumbu gulai, bumbu randang, bumbu kalio, balado, dan bumbu lainnya untuk dikirim Genpro ke 7 negara seperti Turki, Belanda, Hongaria, Mesir, Australia, Taiwan, dan Philipina dilaksankan di Sentra IKM Randang, Senin (19/10).

Berkat tindak lanjut pelaksanaan program BRIncubator klaster UMKM Randang Payakumbuh yang difasilitasi Komunitas Global Enterpreneur Profesional (Genpro) Indonesia, pelaku UMKM telah diberi pelatihan dan pendampingan selama 3 bulan. Sehingga sampel produk IKM dapat dikirim ke luar negeri.

Ketua Dekranasda Kota Payakumbuh Henny Riza Falepi menyampaikan kerjasama ini membuktikan City of Randang tak hanya sebuah gertakan. Cans yang ada ini harus dimanfaatkan dengan baik dan IKM Randang harus memperhatikan prosedur yang ada.

“Alhamdulillah, Sentra IKM Randang kita memulai langkah di tengah pandemi Covid-19, dengan permintaan cukup tinggi kepada Koperasi Sentra Randang Payo Brand Iko Sero. Besar harapan kita langkah awal yang sudah dimulai ini jangan membuat cepat berpuas hati. Pastikan jangan sampai sampel yang dikirim jika ternyata disukai konsumen, eh pas dikirim lagi dalam skala besar beda rasanya, pastikan standarnya dalam ekspor,” kata Henny.

Sementara itu, Ketua Koperasi Sentra Randang Payo Witrya Dameiyanti mengatakan dukungan Wali Kota, Ketua Dekranasda, Genpro dan BRI selama ini sangat baik sehingga tumbuh kembang koperasi mereka memiliki progres dan ada harapan bagi pelaku IKM Randang meningkatkan perekonomian mereka.

“Kepada anggota koperasi, pengawas kami ucapkan terimakasih atas kerjasama luar biasa, sehingga kita bisa mengirim Randang ke luar negeri. Apalagi Genpro yang sudah memberikan masukan kepada BRI, dan wujudnya kita bisa mengirim sampel ke 7 negara. Kami berharap sampel yang dikirim sesuai dengan lidah merekan dan cita rasa yang ditawarkan. Kami juga bersedia dikoreksi apakah nanti ada keinginan dari 7 negara itu, mau lebih pedas atau lebih tawar, kita siap memperbaiki pesanannya,” papar Witrya.

Kepala BRI Cabang Payakumbuh Muhammad Nuhan mengatakan pelatihan dengan Genpro lancar dan memberikan tindaklanjut baik. Badan Usaha Milik Negara (BUMD) itu siap membantu urusan keuangan koperasi dalam mewujudkan Payakumbuh City of Randang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Payakumbuh Wal Asri teringat pesan Asisten Deputi Kementerian Iwan Faidi yang mengatakan hanya ada dua produk yang bisa bersaing di luar negeri selain produk pertambangan yaitunya makanan spesifik dan fashion. Sedikit sekali peluang bersaing ekspor Indonesia untuk produk olahan.

“Kepercayaan dan kerjasama ini harus dimanfaatkan seluas-luasnya, sebagai awal dari langkah Payakumbuh dalam meningkatkan perekonomian IKM Randang, yang menghasilkan produk makanan olahan Minanglabau,” kata Wal Asri.

Lalu, Area Vice President (AVP) Genpro Sumbar Noval didampingi Perwakilan Genpro Kota Payakumbuh Suci Ukhtina menyampaikan ucapan terimakasih kepada BRI selaku mitra lama di Nasional. Berkat kerjasama ini IKM bisa meningkatkan produksi dan perekonomian mereka lewat progam BRIncubator.

“Bagaimana kita mencetak pengusaha sebanyak mungkin, sehingga ekonomi bangkit. Pengusaha di Indonesia belum banyak, maka kehadrian Genpro ada untuk membina agar pengusaha dapat menjadi sukses sesuai syariat islam, barakallah,” ujarnya.

Olah Daging Randang ASUH Dengan RPH Modern

Sementara itu, untuk mendukung terlaksananya amanat Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Permentan Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Persyaratan Rumah potong Hewan Ruminansia dan Unit Penanganan Daging.

Wali Kota Riza Falepi akan memindahkan seluruh proses pemotongan hewan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Modern di Koto Panjang, Payobasung, Payakumbuh Timur.

Untuk membantu menfasilitasi pemerintah Kota Payakumbuh ini, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian RI Syamsul Ma’arif turun bersama Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Barat, Erinaldi meninjau kesiapan RPH Modern itu, Jumat (9/10).

Wali Kota Riza Falepi didampingi Kadis Pertanian Depi Sastra mengatakan aturan tentang RPH ini sudah ada, bahwa dalam 1 kota/kabupaten hanya boleh ada 1 RPH, dan itu harus RPH modern. Tidak ada lagi yang namanya RPH tradisional karena menyangkut amanah undang-undang, RPH menghasilkan daging yang masuk kategori aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).

“RPH Tradisional di Ibuh bakal kita jadikan bangunan cagar budaya, untuk itu nantinya orang-orang yang sudah terbiasa bekerja di RPH Ibuh, kita latih dan fasilitasi untuk bisa diberdayakan di RPH modern ini,” kata Riza.

Riza mengakui, meski kondisi RPH Modern saat ini masih ada beberapa persoalan seperti adanya kerusakan pada beberapa alat, namun Riza berjanji akan mencarikan jalan bagaimana agar ada jalur pemotongan seperti di RPH tradisional untuk memfasilitasi para tukang dabiah di RPH Ibuh.

“Saat ini, kita sedang mempersiapkan RPH Modern agar dapat beroperasi sebagai mana mestinya. Nanti mau tidak mau, RPH Ibuh sudah tidak bisa lagi kita berdayakan, karena kita dituntut undang-undang, dan ini bukan tuntutan wali kota. Bisa jadi aparat hukum turun kalau tidak kita tutup nantinya,” kata Riza.

Riza menyebut sebagai calon penerima bantuan dari Kementerian Pertanian, Kota Payakumbuh menunjukkan keseriusannya dalam menyiapkan RPH Modern yang pastinya akan memberikan dampak besar bagi pengelolaan daging di Payakumbuh.

“Selain praktis, di RPH modern kita harapkan daging yang kita olah betul-betul higienis dan sesuai dengan standar yang sudah ada, peningkatan kualitas harus kita lakukan,” tambah Riza.

Sementara itu, Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian RI Syamsul Ma’arif mengatakan Payakumbuh dengan branding City of Randang, harus memperhatikan aspek utama selain output randang yang diproduksi berstandar nasional.

“Ingat, randang itu dari daging, maka yang harus diperhatikan sebelum mengekspor ya bagaimana proses bahan baku daging yang diolah, harus ASUH,” kata Syamsul.

Berbicara ekspor, Syamsul menerangkan ada negara yang mengekspor 1 ton namun itu baru mereka hitung promosi, sedang ada juga negara yang mengekspor produk seberat 1 Kg saja namun bisa gagal akibat audit bahan baku yang tidak memenuhi kualitas.

“Berbicara Sentra Randang, konsep dari Pemerintah Pusat agar bagaimana UKM bisa naik kelas bersama-sama, kalau mereka punya satu sentra produksi bersama-sama. Secara simultan bekerja mulai dari proses masak hingga packaging, maka memproduksi barang ekspor secara masif tidak akan sulit. Tetap ya kualitas nomor 1,” ulasnya.

“Pemda semangat, pusat harus mendukung penuh, itu prinsipnya. Melihat apa yang sudah dikerjakan dan dibenahi di Payakumbuh. Kita harus memastikan, sebelum menyatakan dan menjamin kalau daging yang diolah itu ASUH, perlu dinilai bagaimana proses pengolahan bahan mentahnya hingga proses disajikan. Semua persyaratan teknis harus dipenuhi,” tambah Syamsul.

Pria asal NTB itu juga menambahkan tidak menutup kemungkinan saat ekspor orang akan mengaudit proses awal bahan baku, itu tentu saja di RPH. Apakah dagingnya higienis dan sanitasinya lancar.

“Semangat kepala daerahnya sangat kita apresiasi, yang penting saat ini kita lihat dulu kesiapan dan keseriusan Kota Payakumbuh, bila mampu memenuhi syarat teknisnya, maka bantuan dari pusat akan mudah dikucurkan,” tukuknya. #lipsusprotokolersetdakopyk