Hikmah Berlari-lari Kecil Pada Thawaf

oleh -108 views
Dr. Asep Ajidin, MH

Sehubungan dengan masih merebaknya Pandemi Corona Virus Desiase 2019 (COVID-19) di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia dan Arab Saudi, Kementerian Agama mengeluarkan kebijakan melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No.494/2020 tentang pembatalan keberangkatan jemaah haji 1441 H atau 2020.

Menteri Agama RI Fachrul Razi mengatakan keputusan ini telah berdasarkan pada sejumlah kajian yang dilakukan. Kemenag juga melakukan komunikasi dengan berbagai pihak termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Komisi VIII DPR RI.

Walaupun Indonesia tidak memberangkatkan jamaah calon haji pada tahun 1441 H / 2020 M ini, namun kita tidak boleh berhenti mencari hikmah dari salah satu rangkaian ibadah haji dimaksud, salah satunya thawaf.

Gugum Gunawan dalam Rahasia Haji dan Thawaf (2011: 82) menjelaskan bahwa Quraisy Shihab (Lentera Al-Qur’an, hal. 171-172) memberikan contoh praktik haji dan umrah oleh Rasulullah SAW yang memerintahkan umatnya untuk mengikuti cara beliau dalam melaksanakan haji dan umrah. Ketika Rasulullah SAW Thawaf, yakni melakukan putaran sebanyak tujuh kali keliling Ka’bah, ternyata pada tiga putaran pertama beliau berlari-lari kecil. Mengapa demikian? Ibnu Abbas r.a. seorang shahabat Nabi menjelaskan:”Nabi berlari-lari kecil, karena ketika itu ada yang mengisukan Nabi Muhammad dan pengikutnya dalam keadaan payah dan lemah. Maka orang musyrik yang ada di Makkah mengintip untuk menyaksikan kebenaran isu tersebut. Kemudian Nabi dan shahabat-shahabatnya berlari-lari kecil dalam rangka menangkal isu tersebut.”
Dengan kata lain, ketika Nabi SAW melakukan thawaf, sebenarnya itu juga melakukan semacam ‘show of force’ terhadap lawan-lawannya. Mengapa hanya tiga putaran? Karena setelah itu para pengintip membubarkan diri. Itu juga sebabnya mengapa pada sisi-sisi Ka’bah tertentu sajalah lari-lari kecil itu dilakukan, karena dari sisi itu saja Ka’bah itu saja para pengintip bisa memandang Nabi SAW dan para sahabatnya melakukan thawaf.

Dari kisah di atas, kita bisa menyaksikan bahwa ternyata dalam rangka menangkal isu, Rasulullah SAW melakukan strategi yang jitu, guna mengusir dan mempertahankan keutuhan Qur’an Sunnah dari kaum kafir dan musyrik saat itu. Meskipun tidak berarti bahwa disebabkan para pengintip sudah tidak ada, maka syari’at lari-lari kecil tersebut tidak berlaku lagi. Syari’at lari-lari kecil pada tiga putaran pertama dalam thawaf tetap berlaku sampai saat ini, sebab ini sudah menjadi syari’at yang mutlak dijalankan.

(Dr. Asep Ajidin, MH)