Jalan Lintau-Payakumbuh Hancur Dilindas Dam Truk Bertonase Berat Milik Perusahaan Tambang

oleh -2.206 views

LIMAPULUH KOTA, dekadepos.com  –

Masyarakat Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, tepatnya yang berada di Nagari Tanjuang Gadang sampai ke Nagari Batu Payuang, Gadut, telah lama mengeluh akibat jalan raya yang melintas di daerah tersebut, kini kondisinya hancur dan rusak parah.

Menurut masyarakat setempat, rusak parahnya jalan aspal hotmix yang awalnya terbentang mulus dari arah Lintau menuju Kota Payakumbuh, namun kini, jalan raya milik pemerintah Propinsi Sumatera Barat itu hancur karena setiap hari dilindas puluhan dam truk bertonase berat milik perusahaan yang membuka usaha tambang galian C di kawasan Kecamatan Lareh sago Halaban.

“Sejak sejumlah perusahaan tambang galian C itu melakukan aktifitas pertambangan batu gamping di lokasi di kawasan Lareh Sago Halaban, jalan raya milik Pemprov Sumbar ini, benar-benar rusak parah,” ungkap tokoh masyarakat Pakan Rabaa, Kenagarian Batu Payuang, Rotman Uchok Silitongga.

Menurut Ketua LSM Lidik Krimsus Perwakilan Kota Payakumbuh/50 Kota itu, akibat aktifitas pertambangan galian C atau batu gamping di lokasi tersebut, tidak hanya berdampak rusaknya jalan raya Lintau-Payakumbuh. Namun, lebih jauh dari itu rumah, warung dan toko-toko milik warga yang berada disepanjang jalan raya Nagari Tanjuang Gadang sampai ke Nagari Batu Payuang tersebut kotor akibat diselimtui debu.

“Debu-debu yang menyelimuti rumah, warung serta kedai-kedai milik warga tersebut, tentunya dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Kita berharap, Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk perusahaan yang membuka usaha tambang di kawasan Kecamatan Lareh Sago Halaban, termasuk izin angkutan untuk kelas jalan bertonase berat, agar ditinjau kembali, karena keberadaan perusahaan tambang tersebut secara sepihak hanya menguntung pihak perusahaan saja,” ungkap Rotman Uchok Silitongga.

Lebih jauh dibeberkan Rotman Uchok Silitongga, meski jalan yang rusak parah tersebut berusaha ditimbun pihak perusahaan. Namun kondisi jalan tersebut tetap saja hancur penuh batu-batu dan bergelombang. Bahkan, jika musim hujan jalan yang hancur tersebut berubah bagai kubangan kerbau, dan penuh debu jika musim panas. 

Dampaknya, selain merugikan pengguna jalan raya yang melintas di jalan Lintau-Payakumbuh tersebut, juga dilaporkan kasus laka lantas sering terjadi di jalan yang hancur lebih kurang sepanjang 5 kilometer itu.

Sementara itu Ketua DPRD Sumatera Barat, Supardi, belum lama ini pernah melakukan peninjauan ke sejumlah usaha pertambangan batu di Kabupaten Limapuluh Kota, meminta agar usaha pertambangan yang merusak lingkungan keberadaannya ditinjau kembali.

“ Masyarakat tidak menolak investasi, namun aktifitas pertambangan jangan berdampak pada kondisi lingkungan. Artinya, keuntungan hanya sedikit, namun kita telah pertaruhkan kerusakan lingkungan,” ujar Supardi yang berasal dari daerah pemilihan Kota Payakumbuh-Limapuluh Kota ini. (edw)